SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 73. LEBIH CERDAS


"Ayo Dek, cepat!"


"Iya...sabar deh Kak, ini juga sudah siap!" ucap Zeya yang setengah berlari menuruni anak tangga sambil memakai jaket.


"Kamu dapat kabar darimana, jika Abah terkena serangan jantung lagi?"


"Dari teman aku Kak, yang rumahnya tidak jauh dari rumah sakit tempat Abah dirawat," ucap Zeya.


Zeya terpaksa berbohong kepada Royan, dia tidak mau sang Kakak banyak mengajukan pertanyaan, jika dia jujur bahwa kabar tersebut dia dapatkan dari Zero.


Sesuai janjinya terhadap Zero, bahwa hal ini menjadi rahasia mereka berdua, jika Zero memiliki kekuatan, keahlian dan kelebihan istimewa.


"He...kenapa melamun! Kamu sedang tidak membohongi aku 'kan?"


"Ih... Kakak, nggak percaya amat sih! Jika aku ngebohongi Kakak, ngapain juga aku ikut, mending tidur di rumah."


"Iya deh, aku percaya. Bantu doa ya, semoga Kak Nayla mau memaafkan ku."


"Pasti Kak!"


"Kalau kamu ngantuk tidurlah! Jika sudah dekat, nanti aku bangunkan."


"Nggak ah! Aku mau temani Kakak biar nggak ngantuk, kita hidupkan musik saja ya Kak?"


"Terserah kamu saja Dek."


Zeya pun menghidupkan audio player yang ada di mobil Royan. Hingga terdengarlah alunan demi alunan musik sebagai teman dalam perjalanan mereka.


Jalanan yang sepi membuat Royan leluasa melajukan mobil dengan kencang, hingga jarak tempuh yang seharusnya membutuhkan waktu 5 jam, bisa tembus hanya dalam waktu 3 jam saja.


Sekarang merekapun sudah memasuki area rumah sakit. Semakin dekat Royan ke ruang ICU membuat perasaannya kian gelisah, dia tidak bisa membayangkan apa yang bakal Nayla katakan saat mereka nanti muncul di sana.


Dari kejauhan Royan melihat Nayla duduk di bangku tunggu sambil menyandarkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Royan iba melihat keadaan Nayla sekarang, sendirian dalam kesedihan, kegelisahan dan ketakutan. Rasanya dia ingin berlari memeluk gadis yang paling dicintainya itu, tapi apalah daya dia sendiri takut, takut malah akan menyakiti perasaannya.


"Kak, kok malah bengong, pergilah! temui dan temani Kak Nayla, kasihan dia."


Saat Royan hendak melangkah, keluar seorang pemuda dari ruangan ICU dan duduk di samping Nayla. Mereka ngobrol, tapi Royan tidak tahu apa yang mereka obrolkan karena jarak Royan ke tempat Nayla sedikit jauh.


Royan ragu, dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Nayla dan berbalik arah, hendak melangkah pergi, hingga membuat Zeya menarik lengannya dan berkata, "Jangan pergi Kak? Kita temui dulu Kak Nayla."


"Tapi Dek, aku nggak akan sanggup, jika pria itu..."


Royan menghentikan ucapannya saat Zeya menutup mulut sang kakak dengan jari telunjuknya dan berkata, "Siapapun dia...itu urusan nanti, yang pasti, kita sudah disini, minimal kita beri support. Kak Nayla butuh teman, untuk menguatkan hatinya. Ayo Kak... kita kesana, temui mereka!"


Zeya menggandeng lengan Royan, melangkah ke arah Nayla yang sedang ngobrol, dia tidak mau sang Kakak menyerah sebelum berperang.


Nayla mendongak, mendengar suara dari orang yang tidak asing baginya. "Eh...Zeya, Kak Royan, silahkan duduk," ucap Nayla sembari berdiri dengan maksud memberikan kursi yang di dudukinya buat mereka dan dia yang tahu watak Royan cemburuan, tidak ingin membuatnya salah paham dengan tetap duduk di samping pria lain.


"Duduklah Nay! biar kami duduk di sini," ucap Royan sambil duduk di bangku bersebrangan dengan tempat duduk yang tadinya Nayla duduki.


Nayla menghampiri Royan, lalu duduk di sebelahnya, sementara Zeya duduk di sebelah pria, yang merupakan teman Nayla.


"Bagaimana keadaan Abah," tanya Royan.


"Belum ada perubahan Kak, masa kritis sudah lewat tapi Abah belum juga sadar," ucap Nayla sambil menarik napas dalam.


"Kenapa tidak memberi kabar Nay, jika Abah Anfal lagi?"


"Maaf Kak, Nay bingung! Yang ada dalam pikiran Nay hanya keselamatan Abah, Kakak 'kan tahu Nay tidak punya siapa-siapa yang bisa membantu dan menguatkan kami."


"Apa aku tidak berarti apapun lagi bagimu Nay?" tanya Royan yang merasa kecewa.


"Maaf Kak, bukan begitu maksudnya, kita kan' belum sempat menyelesaikan masalah yang terjadi, Nay tidak ingin membebani Kakak atau siapapun."


"Tapi, setidaknya beri kabar aku Nay lewat pesan, jika kita belum bisa berbicara."


Zeya tidak mau tinggal diam mendengar percakapan keduanya, lalu dia berkata, "Kak Nay mau tahu, apa yang Kak Royan lakukan karena tadi Kakak tidak bisa di hubungi?"


"Dek..." cegah Royan.


"Maaf Kak! Kali ini aku harus ikut campur agar masalah kalian tidak berlarut-larut dan aku tidak mau kehilangan Kak Roy!" ucap Zeya tegas.


"Ada apa memangnya Dek?" tanya Nayla penasaran.


"Kak Royan besok pagi akan pergi Kak! meninggalkan negara ini dan tidak tahu kapan akan kembali. Semua sudah siap Kak, termasuk tiket penerbangan," ucap Zeya dengan suara bergetar dan hampir menangis.


"Dan semua aset serta bisnis di sini dilepasnya untukku, apa bisa yakin Kak, jika Kak Roy akan kembali?" lanjut Zeya yang akhirnya tak kuasa menahan air matanya.


"Darimana kamu tahu Dek? jika semua aset sudah aku alihkan ke kamu? Siapa yang telah membocorkan hal ini?"


"Kak Roy tidak bisa membohongiku, saat Kakak pergi menemui Kak Zero, aku sudah curiga. Aku menggeledah ruang kerja Kakak dan menemukan sebuah berkas yang sudah Kakak tandatangani. Berkas itu sekarang sudah di tangan pengacara Oskar 'kan Kak?"


"Brengsek Oskar! Kenapa dia memberitahumu? Dasar pengacara tidak profesional, tidak bisa diandalkan!" ucap Royan geram sambil mengepalkan tinju tangannya.


"Kakak jangan marah sama Pengacara Oskar, dia tidak bersalah. Kakak marahlah sama aku, kenapa aku bisa curiga, karena aku adikmu Kak, kecerdasanmu, gerak-gerikmu, semua terbacaku. Aku adikmu Kak! Aku mengakui semua kehebatan mu, hanya satu yang Kakak kalah dariku, Kakak lemah dalam meraih cinta, Kakak menyerah sebelum berperang, itu yang tidak ada dalam kamusku. Jika tentang hati, tentang perasaan, tentang cinta, aku tidak mau seperti Kakak. Aku akan berjuang mendapatkannya, karena kita yakin orang yang kita perjuangkan itu juga mencintai kita."


Sejenak Zeya terdiam, lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkan kepada Royan serta Nayla. Setelah itu dia berkata, "Maaf Kak, aku tidak bisa menerima ini. Ini adalah hasil kerja kerasmu, ada yang lebih berhak lagi mendapatkannya suatu saat, yaitu istri dan anak-anakmu," ucap Zeya sambil mengoyak lembaran kertas di tangannya dan meletakkan di atas tangan Royan.


"Sekali lagi maaf Kak, aku telah mengambil paksa kertas itu dari tangan pengacara Oskar. Kak Royan jangan khawatirkan aku, aku punya bisnis, yang kubangun dengan tanganku sendiri Kak, jika Kakak tidak percaya, kakak bisa lihat ini," ucap Zeya sambil menyerahkan dua surat kepemilikan atas sebuah perkebunan teh dan pabrik pengolahannya.