
"Hallo, hallo Kak," ucap Zeya yang masih ingin ngobrol dengan Zero tapi Zero telah mematikan ponselnya.
"Ya...Kak Zero nggak asyik, belum selesai ngomong sudah dimatikan, awas ya, besok aku samperin ke rumah emak," ucap Zeya kecewa.
"Dek... jangan maksa dong? ikuti saja arus air mengalir, kakak yakin deh, kamu pasti akan memenangkan hati Zero. Seminggu kedepan jangan kamu ganggu dulu, dia sedang mengikuti ujian kelulusan. Sekaligus buat buktikan, jika memang Zero menyukaimu, pasti dia akan bingung kenapa kamu tidak menghubunginya lagi dan mungkin dia duluan yang akan mencarimu."
"Oh iya... aku lupa Kak, jika besok Kak Zero ujian," ucap Zeya sembari menepuk keningnya sendiri.
"Tapi Kak! Apa aku bisa tahan ya, seminggu lama banget, nggak bisa ketemu ataupun mendengar suara Kak Zero," ucap Zeya lagi.
"Harus tahan! Kamu ingin tahu 'kan bagaimana sebenarnya perasaan Zero terhadapmu? Inilah salah satu caranya. Jika tidak berhasil baru kita cari cara lain, sampai dia mau mengakui perasaannya terhadapmu."
"Baiklah Kak, akan aku coba."
"Nah gitu dong! Itu baru namanya adik Kak Royan. Kamu harus tahu! Jika memang Zero juga menyukaimu, dia pasti akan merasakan kehilangan saat kamu tidak lagi menghubungi ataupun mencarinya, seperti halnya yang terjadi dengan Kakak. Kakak baru merasakan hidup ini terasa hampa, tidak ada artinya, saat Kak Nayla pergi meninggalkan Kakak."
"Yeee...Kakak benar! Oke Kak, terimakasih ya, atas sarannya. Aku makin sayang sama Kakak, Kak Royan memang Kakak yang terbaik di dunia," ucap Zeya sambil memeluk dan mencium Royan.
"Hemm...jika nanti kamu memang sudah jadian dengan Zero, tidak boleh bersikap seperti ini lagi ya! walaupun aku kakakmu, tetap harus jaga perasaan Zero. Laki-laki mudah cemburu lho Dek, jika wanita yang kami cintai bermanja dengan pria lain."
"Beres Kak! Aku tahu, aku akan ingat pesan Kakak. Zeya tidur dulu ya, selamat malam Kakak sayang, mimpi indah ya? mudah-mudahan besok pagi, ada kabar baik dari Kak Nayla," ucap Nayla lagi sambil mengecup pipi kakaknya, sekali lagi.
Royan mengucap, aamiin...setelah kepergian adiknya, dia memang sangat berharap, besok Nayla akan memberinya kabar baik. Namun Royan juga harus mempersiapkan hati, jika besok dia mendapatkan kabar sebaliknya.
Malam ini Royan sengaja menyelesaikan semua pekerjaannya, dia sudah membulatkan tekad, jika besok Nayla menolaknya, dia akan meninggalkan negara ini, pergi ke luar negeri dan memulai hidup barunya dengan usaha baru, di sana.
Royan berencana menyerahkan usahanya di sini kepada Zeya dan Zero dengan di bantu oleh Franky.
Setelah lewat tengah malam, barulah pekerjaan Royan selesai, lalu dia kembali ke kamar, merebahkan diri di kasur, memandang foto Nayla yang menjadi wallpaper di layar ponselnya.
Royan rindu Nayla, dia mencium foto gadis itu sembari mengucapkan selamat malam, kemudian meletakkan ponsel tersebut dalam dekapannya.
Panggilan subuh membuat Royan terbangun, dia lalu membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sembari melayangkan sebuah doa untuk kebahagiaan diri dan keluarganya.
Setelah selesai diapun turun untuk pergi joging, sudah lama Royan tidak melakukan aktivitas olahraga karena pikirannya sedang kacau.
Zeya yang melihat sang Kakak hendak joging pun segera memanggilnya dan meminta Royan untuk menunggu karena dirinya ingin ikut.
Royan menunggu sang adik, sembari berlari-lari kecil mengitari taman yang ada di Villa tersebut, setelah Zeya muncul, barulah mereka melanjutkan joging keluar dari area Villa.
Sepanjang jalan, Zeya terus mengoceh banyak hal, layaknya seperti burung yang berkicau ceria menyambut datangnya pagi.
Zeya merasa cepat lelah, karena dia jarang berolahraga sedangkan Royan masih saja berlari hingga membuat Zeya tertinggal jauh.
Saat Royan melihat ke belakang dan tidak menemukan sang adik, diapun berbalik arah, berlari kembali untuk menyusul Zeya.
Ternyata Zea sedang asyik duduk sambil menikmati semangkuk bubur ayam. Royan yang melihat adiknya curang segera menghampiri, merebut mangkuk bubur di tangan Zeya dan melahap isinya sampai hampir habis.
"Ah...Kakak, kenapa di habisin? Zeya 'kan masih lapar, mana Wak bubur sudah pergi, Kak Royan curang!" Kemudian Zeya pun ngambek sambil berlari kembali.
Royan yang melihat adiknya ngambek, sengaja membiarkannya pergi tapi dia segera mencari penjual bubur ayam, dia yakin Wak bubur belum pergi jauh dari tempat itu.
Benar tebakan Royan, ternyata Wak bubur sedang mangkal tidak jauh dari tempatnya makan tadi. Lalu Royan membeli dua mangkok plastik bubur dan pergi menyusul Zeya.
Zeya yang sedang kesal, apalagi dia tidak melihat sang Kakak mengejar untuk meminta maaf, terus saja berlari hingga napasnya ngos-ngosan.
Baru ketika Zeya merasa lelah, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti berlari dan duduk, beristirahat di sebuah bangku yang ada di sana.
Royan terus berlari mencari sang adik, hingga dia melihat dari kejauhan Zeya sedang duduk, barulah hatinya merasa tenang.
Sambil mengulurkan dua mangkuk bubur yang dibelinya tadi, Royan pun berkata, "Maaf Tuan putri, maafkan hamba yang khilaf tadi, soalnya hamba kelaparan," ucap Royan sambil memperagakan layaknya seorang hamba yang takut mendapatkan hukuman dari sang majikan.