SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 36. MENDAPATKAN DP SALDO PENGERJAAN MISI


"Pak lurah!" teriak warga, sambil menghambur ke arah Pak lurah yang terduduk di tanah.


Warga pun menolong Pak Lurah berdiri, tapi kedua preman itu langsung mendorong kembali tubuh Pak Lurah hingga terhuyung sambil berkata, "Jika sampai besok sore, kami tidak juga menemukan Togar maka jangan salahkan, jika kampung ini kami hancurkan.


Tubuh Pak Lurah beserta beberapa orang warga bergetar, mereka takut jika ancaman itu benar terjadi. Maka sebelum imbasnya mengenai semua warga, pak lurah meminta warga untuk bersama-sama mencari keberadaan Togar.


Kedua preman itupun pergi untuk mencari Togar ke tempat lain, tapi mereka besok akan kembali lagi jika belum juga bertemu Togar.


Setelah kepergian preman itu, Pak lurah memerintahkan warga untuk segera berpencar, mereka akan bersama-sama mencari keberadaan Togar beserta istrinya.


Untung saja Togar dan istri bukan asli penduduk setempat, dia pindahan dari provinsi lain dan yang menurut pengakuan Togar, anak-anaknya tinggal di kampung bersama mertuanya dan sekolah di sana.


Suasana di rumah Togar kembali hening, karena warga sudah bubar kembali ke rumahnya masing-masing. Kedua preman tadi juga sudah berkumpul dengan temannya yang lain.


Ketujuh preman itu terlihat lesu, mereka ibarat makan buah simalakama. Pulang mereka pasti dapat hukuman dari Beni, jika nggak pulang, mereka sudah lelah dan butuh istirahat.


Akhirnya ketujuh orang tersebut memilih nongkrong di sebuah warung kopi yang buka hingga 24 jam. Sebagian dari mereka memesan kopi untuk menahan kantuk dan sebagian lagi memilih tidur di bangkunya masing-masing.


Di rumah Mak Salmah, Zero dan Togar beserta yang lainnya sudah selesai melaksanakan ibadah, lalu mereka sarapan bersama. Setelah selesai mereka pun bersiap untuk mengantar para gadis ke loket bus.


Kesembilan gadis itu berpamitan kepada Emak, Kiara dan juga kepada istri Togar. Mereka saling peluk dan berterima kasih kepada Emak yang telah bersedia membantu.


Setelah selesai berpamitan, Zero dan Togar segera membawa mereka dari jalan potongan yang jarang di lalui orang untuk menghindari kecurigaan warga, terutama takut berpapasan dengan anak buahnya Bang Beni.


Zero meminta Bang Togar untuk membawa mereka berjalan terlebih dahulu sementara dia pergi ke ATM.


Dengan menyandang tas barunya yang lebih besar dari tas yang lama, Zero pun berlari menggunakan kekuatannya hingga sebentar saja sudah sampai ke bank.


Zero sengaja membeli tas yang lebih besar agar muat untuk menyimpan rompi serta karung kosongnya di sana. Karung mulung itu harus terus dia bawa untuk antisipasi jika sewaktu-waktu sistem memberinya tugas dadakan dan mengharuskan dirinya, menggunakan hadiah tunai yang diberikan oleh sistem di dalam karung tersebut.


Kini Zero memasukkan kartu ATM nya ke dalam mesin, dia ingat sisa saldonya hanya tinggal Rp.565.000,- saja. Rencananya dia ingin mengambil sejumlah Rp 500.000,- nya untuk tambahan ongkos para gadis yang bersama Bang Togar.


Namun Zero sangat terkejut, saat dia melihat kertas struk pengambilan uangnya, di sana tertera sisa saldo dalam rekeningnya adalah Rp.5.000.065.000,-


"Masya Allah! Apakah mataku ini tidak salah lihat?" monolog Zero, sambil mengucek kedua matanya.


"Kenapa tidak ada pemberitahuan dari sistem ya, jika telah dikirimin saldo sebanyak itu," monolog Zero lagi.


Baru saja Zero selesai berucap, tiba-tiba ponsel jadulnya berdenting.


[Ting!]


[[Sistem telah mengirimkan Dp saldo untuk menjalankan misi, separuh dari jumlah saldo yang di janjikan yaitu senilai Rp.5.000.000.000,-, silahkan pergunakan sesuai kebutuhan, hadiah dan kekurangan saldo menyusul setelah misi selesai di jalankan]]


"Alhamdulillah..." ucap Zero.


Zero bersyukur disaat dia terdesak, dimana uangnya tinggal sedikit dan belum tentu cukup untuk membayar ongkos kesembilan gadis tersebut, sistem ternyata lebih mengerti akan situasinya sekarang.


Kini saldo dalam rekening Zero tersisa Rp.4.990.565.000,- Mulai besok dia harus membawa serta buku rekeningnya kemanapun Zero pergi untuk berjaga-jaga mana tahu membutuhkan pengambilan dana di atas sepuluh juta rupiah untuk mendukung pelaksanaan misinya.


Setelah menyimpan kartu ATM dan uangnya ke dalam tas, Zero kembali menggunakan kekuatannya, berlari secepatnya menuju tempat dimana Bang Togar telah menunggunya.


Ternyata, Bang Togar menunggu Zero di kantin loket bus tujuan Padang, dia tidak ingin menunggu di tempat terbuka yang bisa saja terlihat oleh anggota Bang Beni.


Setelah melihat Zero datang, Bang Togar lalu membeli tiket bus untuk 4 orang yang tujuan kota Padang. Kemudian Zero memberikan kepada masing-masing gadis tersebut.


Saat mereka pamit, Zero memberikan uang kepada ke empat gadis tersebut, masing-masing senilai Rp.500.000,- untuk bekal di jalan.


Mereka melambaikan tangan kepada Zero, Bang Togar dan kelima temannya. Tetesan air mata mengiringi kepergian 4 gadis tersebut dari kelima gadis yang masih tinggal karena tujuan daerah yang berbeda.


Hanya ucapan terimakasih serta doa yang bisa keempat gadis itu berikan untuk Zero dan Bang Togar, mereka berharap suatu saat bisa bertemu kembali dalam suasana yang berbeda, tanpa ada rasa takut akan ditangkap kembali oleh komplotan Bang Beni.


Saat bus sudah meninggalkan tempat itu, Bang Togar, Zero dan kelima gadis yang tersisa segera menuju ke loket bus tujuan Palembang.


Disana, kembali Bang Togar dan Zero membeli tiket dan menyerahkan kepada masing-masing gadis serta memberikan uang sejumlah yang sama.


Sebelum mereka naik, Zero dan Bang Togar berpesan agar berhati-hati, jangan sampai mereka tertangkap lagi.


Bus tujuan Palembang juga telah berangkat, kini Zero dan Bang Togar bisa bernafas lega, setidaknya mereka telah berhasil memulangkan kembali, sembilan gadis tersebut ke daerahnya masing-masing.


Setelah tugas itu selesai, Zero dan Bang Togar bermaksud pergi ke lapas untuk menemui Pak Arya Seto Wiguna, tapi karena jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang, maka Zero mengajak Bang Togar untuk bertemu Seto terlebih dulu sambil menunggu waktu dzuhur.


Mereka pun pergi ke rumah sakit, Seto yang melihat kedatangan Zero sangat senang lalu dia berlari memeluk Zero sambil bertanya, "Bagaimana keadaan ayah Kak? Apa kak Zero sudah bertemu ayah?"


Zero merasa iba mendengar ucapan Seto, anak itu sangat rindu kepada ayahnya dan berharap akan mendengar kabar tentang ayahnya dari cerita Zero.


Dengan perasaan bersalah Zero berkata, "Maaf Dek, kemaren Kak Zero tidak berhasil menemui ayah, penjaga lapas tidak mengizinkan Kakak untuk masuk, tapi Kakak janji, hari ini Kak Zero pasti bisa bertemu beliau," ucap Zero.


Wajah Seto terlihat sedih, tapi kemudian dia berusaha menutupi kesedihannya dengan tersenyum, lalu berkata, "Nggak apa-apa Kak, Kakak jangan meminta maaf, Seto do'akan hari ini mudah-mudahan Kakak bisa bertemu ayah dan menyampaikan salam Seto."


Togar yang melihat hal itupun iba, lalu dia berkata, "Pasti, Kak Zero mu ini, akan ketemu ayah kamu hari ini, Om janji akan membantunya."


"Terimakasih Om, tapi Om siapa ya?" tanya Seto penasaran.


"Oh ya, kenalkan Dek, ini teman Kakak, namanya Bang Togar," ucap Zero.


"Oh...Om Togar, kenalkan Om, namaku Seto Wiguna. Senang berkenalan dengan Om," ucap Seto sembari mengulurkan tangannya.


Togar pun menyambut uluran tangan Seto dengan tersenyum, sambil berkata, "Anak baik, kami akan berusaha membantu membebaskan ayahmu. Bantu doa ya!"


"Tentu Om, Seto selalu berdoa agar ayah bisa berkumpul kembali dengan kami," ucap Seto kembali ceria.