SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 58. ADIK KESAYANGAN


Royan yang sedang menikmati semilir angin sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah wanita yang sedang dia rindukan, dikagetkan oleh kedatangan Zeya, adik kecilnya yang kini sudah berusia 16 tahun.


"Kak Roy...disini rupanya Kakak tertidur. Aku mencari Kakak kerumah tapi kata Bibi, Kak Roy pergi dengan Franky. Susah sekali menemui Kakak sejak Kak Nayla nggak ada! Apa Kakak nggak rindu Zeya?" ucap gadis itu dengan manja sambil memeluk Royan yang sudah membuka matanya.


Zeya adalah adik Royan dari hasil pernikahan Papanya dengan perempuan yang bernama Shena.


Royan membenci Shena karena menurutnya telah mempengaruhi sang Papa untuk mencampakkan Mamanya hingga sang Mama memilih pergi dari rumah karena saat itu Mama Royan tidak setuju dengan bisnis ilegal suaminya.


Sebenarnya, tujuan Shena menikah dengan Papa Royan hanya karena ingin mendapatkan hartanya saja.


Papa Royan yang saat itu tergila-gila dengan kecantikan dan mulut manis Shena, akhirnya mencampakkan Mama Royan dan memilih menikahi Shena yang mengaku tengah hamil.


Walaupun Royan membenci ibu tirinya itu, tapi dia tidak bisa membenci Zeya adiknya. Sifat Zeya yang manja dan lucu membuat Royan sangat menyayanginya.


Zeya tidak seperti ibunya, dia anak yang baik. Zeya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama pengasuh, ketimbang bersama Shena. Makanya dia seringkali di ejek oleh teman-temannya sebagai anak pembantu.


Shena selalu asyik dengan hidupnya sendiri tanpa mempedulikan Zeya dari sejak Zeya lahir hingga sekarang. Bahkan ketika Papa Royan mengalami struk, Shena juga tidak mau mengurusnya, Shena terus saja asyik jalan-jalan, shopping, mengadakan pertemuan-pertemuan bersama teman-teman sosialitanya.


Sebenarnya Papa Royan sejak lama menyesal karena telah mengusir Mama Royan dari rumah dan beliau sudah berusaha mengerahkan orang untuk mencari tapi usahanya sia-sia, Mama Royan seperti di telan bumi, hingga sekarang tidak ada kabarnya.


Royan yang di peluk erat dan di cium oleh sang adik tidak bisa bergerak, apalagi saat Zeya memilih duduk dipangkuannya. Royan hanya menggelengkan kepala sambil mengacak-acak rambut adiknya dan berkata, "Hey, anak manja, kamu bukan anak kecil lagi lho, kamu sudah remaja sekarang, apa kamu tidak malu seperti ini, Kakak sudah tidak kuat lagi memangkumu seperti dulu," ucap Royan.


"Ah...Kakak! Coba kalau Kak Nayla yang seperti ini, pasti Kakak senang 'kan? Zeya adik Kakak lho! masa nggak boleh peluk dan cium Kakak sendiri."


"Sudah... jangan ngambek, Kakak cuma bilang, kamu itu sudah remaja dan beranjak dewasa, jadi harus bisa merubah dan menjaga sikaf. Bagaimana pandangan orang lain nanti, saat mereka melihat kamu seperti ini terhadap pria. Kakak juga pria normal 'kan? takutnya Kakak khilaf. Jangan bersikap seperti ini lagi kepada pria manapun ya, termasuk kakak. Kamu itu adik kakak satu-satunya, dan kamu sangat cantik, jadi pasti banyak pria yang melirik dan mengejarmu, pesan kakak jagalah sikap dan Kakak mau suatu saat kamu mendapatkan jodoh seorang pria yang baik."


"Iya Kak, tapi gini masih boleh 'kan? cuma sama Kakak lho?" ucap Zeya yang turun dari pangkuan Royan dan bergelayut manja di lengan sang Kakak.


"Kamu ngapain mencari Kakak? jangan bilang, Kakak kamu suruh lagi untuk membalas perbuatan teman kamu seperti minggu lalu."


"Hahaha... enggaklah Kak, sekarang Zeya sudah kuat, sudah berani untuk membalas perbuatan mereka yang mengusili Zeya. Semuanya berkat Kakak, berkat ajaran Kak Roy, ide Kakak memang hebat, sekarang mereka tidak lagi berani berkutik untuk mengejek dan mengusili adikmu ini, Kak."


"Syukur deh, jika begitu. Lantas, apa maksudnya ini mencari Kakak? Apa uang saku yang kakak berikan kurang?"


Mendengar pertanyaan dari sang Kakak, Zeya langsung menggoyangkan telapak tangannya sambil berkata, "Oh...no...no...no, masih banyak uang saku ku Kak. Aku ada kabar gembira buat Kakak, tapi Kakak harus janji sebelum aku beritahu," ucap Zeya sambil mengangkat kedua jarinya ke atas.


"Janji? Memangnya Kakak harus janji apa?"


"Kakak harus janji, jangan teruskan bisnis ilegal Papa!"


"Bisnis apa! kamu jangan sembarangan ngomong!" ucap Royan yang tidak suka adiknya tahu tentang bisnis kotor yang selama ini dia geluti.


"Kak, Kak Roy bilang 'kan bahwa Zeya sudah dewasa. Aku tahu semuanya Kak, sejak Papa masih hidup. Aku sering ngintip dan mencuri dengar, saat Papa bicara dengan rekan bisnis dan juga berbicara lewat telephone dengan semua anak buahnya. Aku nggak mau Kakak meneruskan semua itu, Zeya sayang Kakak. Biar kita nggak punya uang, Zeya ikhlas. Zeya tidak akan menuntut uang atau apapun. Sebenarnya, sejak awal SMA aku sudah punya pekerjaan Kak dan semua uang yang pernah kakak berikan ke Zeya masih utuh, tidak sedikitpun aku gunakan," ucap Zeya panjang lebar sambil menangis dan memeluk sang Kakak.