SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 155. PERSIAPAN UJIAN PTN


Ketika Dokter membolehkan emak pulang, Zero sangat senang, dia langsung meminta Bang Beni untuk menyiapkan mobil.


"Mak, ayo...pelan-pelan saja jalannya," ucap Zeya sambil menuntun emak.


"Iya Nak, Mak nggak apa-apa kok. Mak bisa berjalan sendiri," ucap Mak Salmah.


Bang Beni memasukkan tas pakaian kedalam bagasi, lalu setelah semua naik, Bang Beni pun segera melajukan mobil menuju ke kompleks Puri Indah milik Zero.


Ternyata semua berkumpul di sana, Royan, Nayla, Abah, Mama Ambar, Bu Riana, Kiara, istri Togar dan juga Istri Beni, hingga rumah menjadi sangat ramai.


Mereka menyambut kepulangan emak dengan suka cita dan syukuran pemberian santunan anak yatim yang langsung di antarkan dari rumah kerumah.


Satu persatu mengabarkan keadaan emak, hingga terakhir adalah giliran Bu Riana.


Ketika semua sibuk dengan obrolan masing-masing, Emak dengan suara pelan pun berkata kepada Bu Riana, "Bu...Saya bisa minta tolong, ada waktu senggang, temui saya di sini sendirian saja, ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucap Mak Salmah.


Baik Mak, nanti saya cari waktu yang tepat ya Mak, Saya jadi penasaran, sebenarnya apa yang ingin emak bicarakan dengan Saya," ucap Bu Ambar.


"Baik Bu, Saya tunggu ya, kedatangan ibu," ucap Mak Salmah.


Zero yang sedang ngobrol dengan Royan, Abah, Togar dan Beni, sekilas melihat Emak sedang ngobrol serius dengan Bu Riana merasa heran, sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua.


Namun ketika melihat Bu Riana sudah bergabung kembali dengan yang lain dan emak di antar Zeya ke kamar, Zero pun meneruskan obrolannya.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol, terdengar suara orang mengucap salam, ternyata Ahmad dan ibunya datang berbarengan dengan Seto, ayah serta ibu Seto.


"Alhamdulillah, sudah lama kita tidak bertemu ya Dek," ucap Ayah Seto sambil memeluk Zero.


"Dari mana Pak Arya tahu jika kami tinggal di sini?" tanya Zero.


"Kebetulan kemaren, Seto ngebel Dek Zero, tapi nomornya nggak aktif jadi kami ngebel Bang Togar.


Bang Togar lah yang memberitahu alamat ini Dek, serta katanya hari ini Mak pulang dari rumah sakit," ucap Ayah Seto.


"Oh gitu ya Pak, ayo Pak silahkan duduk," pinta Zero.


Lalu Seto dan Ahmad bergantian memeluk Zero, mereka memberi dukungan agar Zero sabar dengan sakitnya emak. Anak-anak itu memang sudah seperti adik sendiri bagi Zero.


Ibu Seto dan Ibu Ahmad juga berkata agar Zero sabar menghadapi ujian ini dan ikut berdoa untuk kesembuhan emak.


Para ibu bergabung dengan Kiara dan yang lain, sedangkan anak-anak selalu duduk di dekat Zero dan Pak Arya. Pak Arya sekalian ingin menyampaikan kabar baik jika koperasinya lumayan maju, rencananya akan buka cabang di kampung lain.


Pak Arya memberikan sebuah amplop berisi uang untuk membantu pengobatan emak, tapi Zero menolak, dia mengatakan lebih baik uang itu buat tambahan modal saja.


Jika nanti koperasi semakin maju, Zero hanya meminta bagi hasilnya untuk membantu sekolah di desa tempat Seto dan keluarganya tinggal.


Pak Arya setuju dengan usul Zero bahkan jika koperasi ini nanti lebih maju beliau akan membangun masjid di kampung tersebut.


Zero senang, setahap demi setahap orang-orang disekitarnya terbantu bahkan sekarang mereka sudah bisa membantu orang lain lagi.


Ahmad juga mengatakan, tokonya semakin ramai, teman-teman para pedagang keliling sekarang sering berbelanja di sana.


"Syukurlah, semoga kedepannya ekonomi kita semua semakin membaik. Kakak hanya berpesan buat kalian, jangan lupa belajar dan saling tolong menolong lah dengan sesama teman," ucap Zero.


Ketika semua hendak pulang, Zero pun memanggil emak yang kebetulan sudah bangun, lalu mereka semua pamit dan saling mendoakan untuk kesehatan dan kebaikan masing-masing.


Kini rumah kembali sepi, hanya tinggal Kiara, Zeya dan juga Zero. Kiara pergi menemani emak, sementara Zero dan Zeya sedang membicarakan tentang mama Shena.


"Zey, pergilah jenguk mama kamu! Lihat bagaimana keadaannya sekarang, barangkali saja dikurung beberapa hari bisa membuat beliau sadar," ucap Zero.


Besoklah aku jenguk Kak, kalau sadar akan kejahatannya aku nggak yakin Kak," ucap Zeya.


"Nggak boleh gitu, doain saja beliau, agar bisa terbuka pintu hatinya," ucap Zero lagi.


"Iya, hampir aku lupa Zey, habis belakangan ini banyak sekali yang aku pikirkan," ucap Zero.


"Besok biar aku antar kak ke kampus baru aku lanjut menemui mama, agar kakak tidak terlambat," ucap Zeya.


"Nggak usah Zey, rencana aku mau jemput teman-teman sekolah ku yang ikut ujian juga di sana, jadi biar diantar sama Bang Beni saja," ucap Zero.


"Oh gitu ya Kak, ya sudah, besok pagi-pagi sekali aku kesana biar bisa pulang cepat," ucap Zeya lagi.


Pokoknya kamu harus hati-hati di jalan, ingat! hati-hati," ulang Zero.


Beres Kak, kalau gitu aku permisi juga ya Kak, mau ngemas pakaian Mama, pasti pakaian bersihnya di sana sudah habis.


"Ya Zey, kamu hati-hati ya," ucap Zero sambil mengantarnya keluar.


Zeya pun berpesan dan memberi selamat agar Zero belajar untuk menghadapi ujian besok pagi.


"Harus semangat, besok ujiannya ya Kak, mudah-mudahan semua lolos." ucap Zeya.


Zero pun mengangguk, setelah mobil Zeya meninggalkan tempat itu, Zero kembali ke kamar untuk belajar.


Namun Zero hanya cukup membolak balik lembaran bukunya saja, karena sistem telah memberinya kelebihan daya ingat.


Setelah selesai, Zero pun memejamkan mata, dia ingin tidur sejenak sambil menunggu datangnya subuh.


Zero selesai beribadah, lalu diapun berolahraga sebentar di halaman, setelah mandi dan bersiap pergi ke kampus.


Beni sudah datang dan memanaskan mesin mobil, saat Zero bersiap, lalu merekapun segera berangkat.


Sebelum ke kampus sesuai rencana, Zero menjemput teman-temannya yang tidak memiliki kenderaan, hingga mereka bisa sampai di sana tepat waktu.


Zero dan teman-temannya sudah sampai di kampus, lalu mereka menuju ruangan yang telah di tentukan sesuai nomor ujiannya masing-masing.


Waktu ujian yang ditentukan masih 35 menit lagi, lalu Zero keluar, dia ingin melihat apakah Alena juga sudah hadir untuk ikut ujian atau belum.


Zero celingukan kesana kemari tapi tidak menemukan orang yang dia cari, akhirnya dia putuskan untuk meneleponnya.


Ternyata Alena masih di jalan bersama Satria, mobil mereka mogok di tengah jalan, makanya belum sampai di sekolah.


Zero meminta alamat dimana mobil mereka mogok, lalu meminta Bang Beni untuk secepatnya menjemput Alena dan Satria.


Begitu mobil Zero yang di kemudikan oleh Bang Beni meninggalkan kampus, Vano pun sampai.


Vano melihat Zero sepertinya sedang menunggu seseorang, lalu diapun menghampirinya dan bertanya, "Hai Ro, kamu menunggu siapa di sini?" tanya Vano.


"Oh...kamu baru sampai Van?"


"Iya Ro, kamu sedang menunggu siapa sebenarnya, kok sepertinya cemas? tanya Vano lagi.


"Alena, dia belum sampai Van, karena mobil Satria mogok di tengah jalan," jawab Zero.


"Oh...biarlah aku yang jemput Ro, dimana mogoknya?" tanya Vano.


"Sudah di jemput kok Van, kita tunggu saja ya," ucap Zero.


Yang di tunggu pun tiba, begitu melihat Beni kembali, senyum lebar mengembang di wajah Zero. Dia sekarang merasa tenang, orang yang di nantinya sudah sampai.


Sementara, Vano merasa terpukau melihat mobil yang di pakai oleh Beni, lalu dia bertanya, "mobil siapa ini Ro?"


"Mobil milik donatur yang membelikan rumah Van," ucap Zero yang masih belum ingin orang luar tahu.


Kini waktunya untuk masuk ke ruangan masing-masing, karena ujian akan di mulai.