SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 108. PENGAKUAN YANG TERLAMBAT


Melihat Mak Salmah diam terpaku, Zeya pun bertanya, "Mak...Mak kenapa? Mak sakit?"


Mak Salmah tersentak dari lamunan, saat pundaknya disentuh seseorang, beliau pun menoleh dan melihat Zero sedang menatapnya.


"Mak kenapa? Sejak tadi aku perhatikan, Mak selalu melamun. Katakan padaku Mak, apa sebenarnya yang mengganggu pikiran emak. Mak mau beli apa, emak kepingin apa, bilang saja, nanti pulang mengantar Zeya pasti Zero belikan."


"Nggak Ro, emak cuma letih saja kok, mungkin karena usia emak yang sudah semakin tua."


Zero tidak yakin dengan jawaban emak, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, yang berusaha emak sembunyikan dari Zero.


Namun Zero tidak mau memaksa, lalu diapun segera mengajak Zeya untuk pulang.


Zeya pamit kepada semua, termasuk kepada Bu Riana dan Bu Ambar, dia berjanji, besok akan kembali bersama Kakaknya yaitu Royan.


Zero mengantar Zeya pulang ke kediaman Royan karena Zeya sementara ini tidak ingin bertemu dengan mamanya.


Shena yang kesal dengan hilangnya Ambar dan Riana, masih terus marah-marah terhadap semua pengawalnya. Dia memaki, memukul serta menampar satu persatu dari mereka.


Kemudian dia memerintahkan semua untuk mencari Ambar dan Riana, jika mereka sampai tidak menemukannya maka Shena mengancam akan menyakiti keluarga masing-masing.


Para pengawal itupun takut lalu bubar, mereka berjanji, sesegera mungkin akan membawa Ambar dan Riana kembali.


Setelah mengantar Zeya, Zero


bermaksud mengunjungi rumah kontrakan Bang Togar dan Bang Beni, syukurnya mereka saat ini tinggalnya berdekatan.


Melihat kedatangan Zero, bang Togar sangat senang, dia ingin melaporkan pekerjaan yang mereka lakukan yaitu mengawasi para pekerja dalam membersihkan perkampungan.


"Selamat malam Bang!" sapa Zero.


"Selamat malam Bos, syukurlah kamu datang, jadi Abang dan Bang Beni tidak jadi kerumah emak untuk menemuimu."


"Bang Beni nya mana Bang?" tanya Zero yang melihat rumah kontrakan Beni di gembok dari luar.


"Bang Beni keluar sebentar Bos, katanya istrinya minta di belikan bakso, istrinya lagi ngidam," ucap Bang Togar.


"Oh...syukur deh, ada berita bahagia."


Saat Togar ingin menjelaskan tentang pekerjaan mereka hari ini, Beni pun sampai.


"Lho...ada Dek Zero, kapan kamu tiba Dek?"


"Barusan Bang, tadi habis mengantar Zeya pulang, pikir-pikir mau pulang belum mengantuk langsung dah singgah kesini," ucap Zero.


Mereka pun membicarakan pekerjaan, besok tim pembangunan dari perusahaan Royan akan memulai pekerjaannya dengan di awasi oleh Franky.


Pembangunan rumah layak pakai, akan dimulai dari bagian ujung timur perkampungan baru ke arah rumah Zero.


Zero puas dengan hasil laporan kedua ajudannya itu, besok jika ada waktu, pada sore hari, Zero berencana akan mengajak Royan berkeliling perkampungan untuk melihat pekerjaan para anggotanya.


Abang berdua, berhubung hari telah larut, aku pamit dulu ya, kasihan emak, beliau pasti cemas karena aku belum pulang.


"Aku antar ya Bos, sebentar aku keluari motor dulu," ucap Togar.


Setelah mengeluarkan motornya, bang Togar memanaskan mesin motor sebentar, lalu meminta Zero untuk naik.


Setibanya di rumah, ternyata sejak tadi ada seseorang yang tengah menunggu kepulangan Zero, dia adalah Vano, teman sekolahnya.


Zero yang melihat Vano duduk di teras bersama emak dan Kiara merasa heran, lalu dia turun dari motor, mengucap salam, kemudian menghampiri Vano.


Ibu dan Kiara pun segera meninggalkan mereka berdua agar leluasa ngobrol setelah Kiara menyajikan minum untuk Vano.


Zero segera menyapa Vano, "Selamat malam Vano, ada keperluan apa ya, malam-malam kamu kesini mencariku," ucap Zero.


"Aku mau kasi kabar Ro, Ibu Alena meninggal," ucap Vano.


"Kapan meninggalnya Van, bukankah aku dengar ibu Alena kondisinya sudah pulih?" tanya Zero.


"Terimakasih atas kabarnya Van, besok aku usahakan untuk bertakziah kerumah Alena."


"Bukan ini saja maksud kedatanganku Ro kesini, aku juga ingin minta tolong, jika kamu tidak keberatan," ucap Vano sedikit ragu.


"Apa yang bisa aku bantu Van?"


"Ikutlah denganku malam ini ke rumah Alena," pinta Vano.


"Maaf Van, aku tidak bisa pergi malam ini, tapi aku berjanji besok akan kesana bersama sahabatku," tolak Zero.


"Aku mohon Ro, Alena saat ini sedang rapuh, dia sendiri dalam kesedihan, ayahnya masih di luar kota dan besok pagi baru sampai. Saat ini dia sangat membutuhkan dukungan," mohon Vano sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.


Kemudian Vano melanjutkan ucapannya, "Hanya beberapa orang tetangga yang saat ini sedang menemaninya. Alena sempat beberapa kali pingsan, pandangannya kosong dan tubuhnya sangat lemah karena beberapa hari tidak makan karena merawat ibunya, apalagi sekarang. Semangat hidupnya telah pergi."


"Bukankah kamu saat ini orang terdekatnya kenapa musti aku yang harus kesana malam ini. Aku bukan siapa-siapanya lagi, jadi kamu yang lebih pantas menghiburnya," ucap Zero.


Padahal, dalam hatinya, Zero saat ini ikut sedih, dia bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling di cintai.


"Ro...tolonglah, maafkan Alena. Dia tidak bersalah, akulah yang salah. Dia bukan cewek matre, dia melakukan semuanya demi ayah ibunya yang sedang dalam kesulitan dan yang pasti dia tidak pernah melupakanmu dan selamanya tidak akan pernah bisa mencintaiku. Selama ini dia berbohong, demi membalas budinya terhadap ku, dia sengaja memutuskan hubungan kalian, karena dia ingin melihatmu hidup bahagia," ucap Vano sambil menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.


Sesaat Vano terdiam, kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Sebenarnya dia melarang ku untuk mengatakan semuanya kepadamu, awalnya aku senang dan aku berpikir bahwa akulah yang menang. Namun aku salah, seiring berjalannya waktu, aku baru sadar bahwa cinta Alena sangat besar kepadamu dan tidak akan pernah mati. Aku kalah Ro...tapi aku sekaligus menang, menang dalam memerangi keegoisanku."


"Semuanya sudah terlambat Van, aku tidak mungkin kembali lagi kepada Alena dan saat ini sudah ada wanita lain yang bersedia menerimaku apa adanya," ucap Zero jujur.


Zero terpaku, pengakuan Vano, membuatnya senang, sedih, sekaligus menyesal, karena keadaan dan kesalahpahaman telah membuat dia dan Alena terpisah. Namun nasi sudah jadi bubur, dan tidak akan mungkin kembali lagi menjadi nasi.


Melihat Zero terdiam, Vano kemudian berkata lagi, "Please... Ro, ikutlah denganku, walaupun kalian tidak mungkin bersatu kembali, setidaknya pandanglah dia sebagai wanita yang pernah ada dan sangat berarti di dalam hatimu."


Zero terdiam, dia tidak bisa membohongi hatinya, jika saat ini dirinya juga sedih mendengar tentang keadaan Alena.


Saat Zero masih dilanda kebimbangan, tiba-tiba emak muncul dari dalam rumah dan berkata, "Pergilah Nak! walau bagaimanapun, Alena tetaplah sahabatmu dan saat ini dia sangat membutuhkan dukunganmu. Nanti Mak akan bantu menjelaskannya kepada Zeya, dia pasti akan mengerti."


"Iya Ro, aku juga bersedia membantu memberikan penjelasan kepada pacarmu, jika dia nanti marah saat mendengar kamu datang ke rumah Alena."


Setelah menimbang-nimbang perkataan emak dan Vano, Zero pun berkata, "Baiklah, aku akan ikut denganmu, Mudah-mudahan saja, Zeya akan paham dengan situasi dan posisiku sekarang ini.


Hai sobat, selamat malam...kali ini rekomendasi karya yang aku bawa adalah novel dari Kak Enis Sudrajat.


Yuk silahkan mampir dan jangan lupa beri dukungannya ke karya kami ya. Terimakasih πŸ™β™₯️


BLURB KARYA :


Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.