SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 52. PENGAWAL SETIA


Setelah menghubungi semua anggotanya, pengawal itupun memainkan ponsel sambil terus memandangi mobil Royan, dia nggak mau kehilangan jejak Bosnya itu lagi.


Dia tidak peduli jika nanti Royan marah karena telah membuntutinya, daripada diam di rumah dan merasa khawatir lebih baik pengawal itu memilih kena marah.


Setelah menunggu beberapa lama, dia melihat Royan keluar dari club tersebut dengan dandanan yang amat kusut. Sudah lama pengawal pribadi Royan itu tidak melihat Bosnya seperti sekarang.


Dia menghela napas sambil bermonolog, "Ternyata pengaruh putus cinta itu begitu besar, Bos yang begitu tangguh, diakui kejam dikalangan dunia hitam, bisa bertekuk lutut di bawah pengaruh seorang wanita."


Royan telah melajukan mobilnya dan pengawal pribadinya itupun segera mengikutinya dari kejauhan. Saat melihat mobil Bosnya kembali ke rumah, hati pengawal Royan pun menjadi tenang.


Pengawal itu sangat setia karena dia dulu adalah pengawal pribadi Papanya Royan. Sebelum Papa Royan meninggal, dia menitipkan amanah agar selalu menjaga Royan.


Royan membersihkan diri, lalu dia keluar dari kamarnya dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan.


Sambil menunggu makanan di hidangkan, Royan pun memanggil pengawal pribadinya melalui telephone.


"Frengky! Aku tunggu di meja makan sekarang juga!" perintah Royan.


Mendengar suara Bosnya yang kembali tegas dan dingin, membuat Frengky tersenyum, di balik ponselnya, pagi ini Bos kejamnya telah kembali.


Franky segera bergegas menuju meja makan, dia tidak mau mengecewakan Royan. Royan yang melihat Franky sudah tiba pun langsung berkata, "Duduk! Temani aku sarapan!" perintah Royan.


"Baik Bos!" ucap Franky sembari menyembunyikan senyumnya.


"Ngapain tadi kamu di club! Aku 'kan sudah bilang jangan ikuti aku. Kamu tidak mengindahkan perintahku hah!" ucap Royan.


"Maaf Bos, aku khawatir Bos kenapa-kenapa," ucap Franky sambil tertunduk.


"Ayo makan! Aku tidak akan sanggup menghabiskannya sendiri," pinta Royan saat Bibik telah menyajikan sarapan.


"Oke Bos, terimakasih atas tawarannya."


Merekapun segera menikmati sarapan tanpa banyak berbicara. Setelah selesai Royan pun berkata, "Hari ini temani aku melihat lahan yang akan di bangun properti dan kita akan menemui pemerintah setempat. Oh ya, sudah ada kabar tentang kedua penghianat itu atau belum?" tanya Royan serius.


Belum Bos, kemaren mereka melihat Togar tapi akhirnya kehilangan jejak.


"Bodoh! Kerja begitu saja tidak becus."


"Oh ya Bos, ada kabar buruk. Kasus Arya Wiguna telah di buka kembali."


"Bagaimana mungkin! Siapa yang berani menantang ku!"


"Pengacara Pradipta telah terang-terangan menantang Bos, kemaren sore dia telah berhasil mengeluarkan Arya dari sel tikus dan sekarang Arya sudah berada di sel biasa."


"Siapa yang ada di balik ini, tidak mungkin jika tidak ada yang mendanai mereka. Keluarga Arya sudah tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan saja mereka harus memulung, mana mungkin mereka punya uang untuk membayar Pradipta. Cepat kamu selidiki hal ini. Aku ingin tahu siapa orang dibalik usaha membebaskan Arya, bila perlu bungkam mulut Pradipta dengan bayaran lebih mahal" perintah Royan.


"Baik Bos, aku sendiri yang akan mencari tahu," ucap Franky.


"Ayo kita berangkat! Oh ya Frank, jangan lupa, kerahkan anak buah untuk mencari jejak Nayla. Jika sudah ada kabar cepat beritahu aku, jangan bertindak apapun terhadapnya dan Abah karena itu urusanku. Jika sampai dia terluka, awas! Aku tidak akan segan menindak kalian!"


"Baik Bos."


Merekapun berangkat sesuai dengan rencana yaitu meninjau lokasi yang akan dibangun. Di perjalanan, Franky sambil menghubungi sebagian anggotanya untuk mencari jejak Nayla sesuai perintah Bos Royan.


Semangat Royan memimpin bisnisnya kini telah kembali, tapi dia tetap akan mencari Nayla. Sampai kapanpun dia akan tetap mencintai gadis itu.




Di perkampungan kumuh, di rumah Mak Salmah, Zero dan Togar sudah bersiap untuk menjemput Ahmad. Sesuai janjinya, hari ini Zero akan membawa Ahmad untuk menemui dokter.



"Ayo Bang! Sudah siang, nanti antrian terlalu panjang jika kita berangkat terlalu siang," ucap Zero kepada Togar.



"Iya Bos! Aku sudah siap kok, ini tinggal panasin mesin motor sebentar," ucap Togar.



Setelah selesai memanaskan mesin motor, Togar segera meminta Zero untuk naik.



Sebelum Zero naik, dia meminta Bang Beni untuk memantau kampung, tapi Zero memintanya agar berhati-hati, jangan sampai kepergok pihak musuh yang bisa memicu perkelahian.



Bukan masalah takut, tapi Bang Beni sendirian, pasti tidak akan menang bila menghadapi mereka. Bang Beni pun mengangguk, dia mengerti apa yang maksud oleh Zero.



Setelah Togar dan Zero pergi, Bang Beni juga bersiap hendak keliling kampung. Dengan berpakaian seperti pemulung dan mengenakan topi yang lebar, Beni pun pergi, dia berpura-pura mengais sampah di setiap tempat-tempat yang menurutnya strategis untuk mengintai.



Beni terkejut, saat melihat mobil mewah berhenti tidak jauh dari tempatnya sekarang. Dari atas mobil turunlah seorang pria muda yang sangat tampan, gagah, tapi matanya menatap sangat tajam dan terlihat dingin.



Beni pura-pura mengambil botol bekas dan memasukkannya ke dalam karung, padahal dia berusaha mencari tahu, siapa sebenarnya dua orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang yang sedang menunjuk-nunjuk ke arah perkampungan.



Tidak lama setelah itu, muncul seseorang dengan berpakaian pegawai, sepertinya pekerja dari kantor lurah.



Pegawai kantor lurah itupun menghampiri kedua pria tersebut, lalu dia menjabat tangan pria itu sambil sayup-sayup terdengar menyebut nama Royan.



Beni membulatkan mata, dan memasang tajam telinganya, dia masih penasaran, apa benar yang dilihat dan di dengarnya itu, pria muda dan tampan itu adalah Royan. Bos besarnya selama ini yang terkenal misterius.