SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 119. MENGALIHKAN PERHATIAN


"Pak...Bu, Aku titip mama dan tolong jagakan beliau untuk sementara disini! Aku janji akan segera kembali. Aku akan pergi menolong Adik dan temannya di ruang UGD. Siapapun yang datang dan bertanya tentang Mama dan Bu Riana, tolong Pak, Bu, bilang tidak tahu. Aku akan berikan apapun yang Bapak Ibu minta jika mamaku aman sampai aku kembali." pinta Royan kepada pemilik kantin.


"Baiklah Dek, kami akan bantu kalian," ucap Bapak pemilik kantin.


"Bu Riana, kunci saja ya pintu ini dari dalam, jangan di buka siapapun yang datang selain aku dan adikku."


"Iya Den," ucap Bu Riana.


Setelah pamit dan memastikan Bu Riana telah mengunci kamar itu, Royan pun bergegas menyelinap dari pintu belakang. Dia tidak ingin orang-orangnya mama Shena curiga.


Sementara di ruang UGD, Zero sedang diobati oleh Dokter, untung saja peluru yang tembus dilengannya berhasil diambil dan yang di bahu kanan hanya terkena serempetan peluru saja.


Kedatangan banyak orang asing dan mencurigakan membuat orang-orang yang ada diruang UGD panik dan merasa ketakutan.


Namun Zero dan Zeya sudah memberitahukan siapa mereka kepada Dokter, jadi dokter dan para perawat berusaha menenangkan pasien dan keluarga yang ada di ruang UGD tersebut.


Tapi jika kondisi terburuk terjadi, mereka harus segera keluar dari ruangan itu untuk mencari titik aman.


Anak buah Shena memaksa masuk, mereka ingin menggeledah ruang UGD, tapi pengawal Royan langsung menghadang.


Perkelahian pun terjadi hingga menimbulkan kepanikan di sana. Zero yang sudah selesai di obati, pamit izin ke toilet, dia tidak bisa tinggal diam.


Lalu dia berpesan kepada Zeya untuk segera mencari Royan dan mengalihkan perhatian para pengawal tersebut hingga mereka menjauh dari tempat ini.


Zeya pun bergegas saat melihat Zero telah pergi ke toilet. Dia menyelinap keluar untuk mencari sang Kakak. Tapi anak buah Shena sempat melihat, lalu mengejarnya.


Tanpa menoleh, Zeya terus berlari menjauh dari tempat itu karena ingin mengalihkan perhatian mereka, agar keluar dari rumah sakit.


Anak buah Royan berusaha melindunginya dan perkelahian sengit pun terjadi antara kedua kubu.


Salah satu anak buah Shena berhasil menangkap Zeya tapi Zeya tidak gentar, dia terus melawan, meronta, ingin melepaskan diri dari cengkraman anak buah mamanya.


Zeya tahu mereka menangkapnya hanya ingin mengorek informasi tentang keberadaan mama Ambar dan mereka pasti tidak akan berani melukai dirinya.


Royan dari kejauhan yang melihat sang adik ditarik paksa, segera berlari mendekat. Dengan ilmu beladiri yang dia kuasai, sekali tendang saja pengawal yang menangkap Zeya terjungkal. Zeya hampir saja ikut terjungkal tapi Royan cepat menangkapnya.


"Kamu tidak apa-apa Dek?" tanya Royan.


"Nggak apa-apa kok kak, bagaimana dengan mama? Apa mereka aman di sana?"


Untuk sementara ini aman, kamu menyingkir dulu, Kakak ingin membantu anak buah kakak untuk menyingkirkan mereka.


Tiba-tiba Zeya menjerit dan mendorong tubuh Royan. Mereka terjerembab, jatuh saling berguling ke tanah. Sebuah peluruh nyaris menembus dada Royan, jika Zeya tadi tidak mendorongnya.


Zero yang sudah mengenakan Rompi dan menggunakan kekuatannya, melihat anak buah Royan mulai terdesak segera menghambur dan menghajar habis-habisan pengawal Shena. Dia menarik paksa satu persatu senjata mereka dan mematahkannya.


Semua yang melihat kejadian tersebut ternganga, termasuk para pengunjung rumah sakit dan juga Royan. Para pengawal Shena berjumpalitan di udara tanpa ada lawan dan berakhir terkapar di tanah.


Dua orang pengawal sempat menembak ke sembarang arah berharap bisa mengenai musuh yang tidak terlihat.


Royan yang marah segera menerjang keduanya setelah senjata mereka sudah tak berpeluru.


Royan tidak gentar sama sekali, bertahun hidup dalam dunia keras telah membuat dirinya picing sebelah mata untuk menghabisi keduanya.


Dengan berjumpalitan di udara Royan berhasil membuat kedua anak buah Shena terkapar dan pisau mereka, menggores leher masing-masing.


Satu orang yang tertinggal, begitu melihat semua temannya sudah bergelimpangan dan penuh darah nyalinya pun menjadi ciut. Dia pun segera kabur dari tempat itu sebelum Royan menghampirinya.


Zeya berlari mendekati sang Kakak, lalu berkata, "Kakak tidak apa-apa?"


"Tidak Dek, Oh ya...Zero kemana?" tanya Royan.


"Dia tertidur Kak, sehabis minum obat," ucap Zeya berbohong.


"Oh...biarlah dia istirahat. Biar lukanya cepat sembuh," ucap Royan lagi.


Mendengar percakapan kakak beradik tersebut, Zero langsung kembali ke toilet, melepas rompi dan balik ke tempat tidurnya untuk pura-pura tidur.


Royan yang masih merasa bingung dengan kejadian tadi, lalu berkata, "Dek...menurutku banyak keanehan yang terjadi, kenapa mereka tadi bisa berjumpalitan dan akhirnya bergelimpangan sendiri, jatuh terkapar ke tanah. Dan senjata mereka juga berpatahan, seperti bertarung dengan lawan gaib. Jika tenaga manusia normal, tidak mungkin 'kan Dek, bisa mematahkan senjata begitu banyak secara bersamaan," ucap Royan heran.


"Barangkali memang ada Kak makhluk gaib yang berbaik hati menolong kita dan memang bertugas memberantas kejahatan."


"Mana ada Dek, itu hanya ada dalam cerita dongeng," ucap Royan lagi.


"Nah... kenyataannya kita lihat 'kan Kak? Kakak sendiri yang bilang jika tadi itu manusia tidak akan mungkin bisa mematahkan begitu banyak senjata secara bersamaan," ucap Zeya. Padahal Zeya sudah menduga bahwa itu adalah pekerjaan Zero.


Royan hanya bisa terdiam, lalu dia teringat dengan Zero dan ingin tahu kondisinya sekarang.


"Entahlah Dek, itu seperti sebuah misteri. Ayo Dek, kita masuk. Kakak ingin melihat keadaan Zero," ajak Royan sambil menarik tangan adiknya.


Sesampainya mereka di dalam, Zero pura-pura seperti baru bangun tidur, lalu dia tersenyum dan berkata, "Lho... ada Kak Royan. Maaf, kami jadi menyusahkan Kakak," ucap Zero.


"Justru aku yang harus berterimakasih sama kalian, berkat kalianlah, aku bisa bertemu mama."


"Oh...Mama Kak Royan sekarang di mana?" tanya Zero.


"Mama masih di kantin Ro, tadi aku menitipkan mama kepada pemilik kantin. Bagaimana dengan lukamu Ro?" tanya Royan.


"Hanya luka ringan kok Kak, besok juga sembuh. Oh ya Zey...aku tadi sudah bicara dengan Dokter, bahwa aku tidak mau di rawat inap. Sebentar lagi perawat akan datang untuk memberikan obat dan aku diperbolehkan pulang. Ayo bantu aku melunasi biayanya ke kasir Zey!" ucap Zero.


"Kamu di sini saja Ro, tunggu perawat datang, biar aku yang akan melunasi semuanya," ucap Royan.


"Nggak usah Kak, biar kami saja," ucap Zero lagi.


"Sudah...jangan sungkan, kamu juga terluka begini karena menyelamatkan mamaku, jadi sudah seharusnya aku yang membayar biaya mu," ucap Royan.


"Terimakasih Kak, semoga rezeki kak Royan di perlancar dan bisnis Kak Royan maju pesat."


"Aamiin...semoga kita semua sama-sama sukses," ucap Royan sembari meninggalkan ruangan, pergi ke kasir untuk melunasi biaya perobatan Zero.