SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 117. PEMBALASAN ZERO


Zeya menangis, dia meringkuk ketakutan di sudut kamar melihat bos pengawal mulai membuka baju dan berjalan mendekatinya.


Dia bergidik ngeri dan jijik melihat badan pengawal itu yang penuh dengan tato bergambar naga.


Dalam keputusasaan, terbersit sebuah ide di kepalanya untuk memberikan penawaran. Kemudian Zeya berkata, "Lepaskan aku! Aku bisa memberikan banyak uang jika kamu mau. Berapapun yang kamu minta kakakku pasti akan memberikannya, asal kalian melepaskan aku," ucap Zeya.


"Aku tidak butuh uangmu! bos ku juga telah memberikan uang yang banyak. Malam ini yang kubutuhkan hanyalah kehangatan. Tubuhmu itu pasti bagaikan surga, surga kenikmatan. Ayo manis, kesini...menurutlah," ucap pria itu hingga membuat Zeya bertambah jijik.


Zeya tidak tahu harus berbuat apa, saat pria itu mulai mendekat dia pun menghindar. Tapi pria itu tidak membiarkan dirinya lolos begitu saja.


Saat dia hendak menghindar lagi, kakinya tersangkut sisi tempat tidur dan tak ayal lagi dirinya terjatuh, pria itu dengan sigap menangkap tubuh Zeya hingga terjatuh ke dalam pelukannya.


Zeya meronta, dia memukul dada pria tersebut, tapi pukulannya itu malah membuat pria tersebut semakin senang. Zeya akhirnya menggigit lengan pria tersebut hingga pria itu menjerit dan melepaskan tubuh Zeya.


Ulah Zeya telah membangkitkan kemarahan pria tersebut, lalu dia menarik paksa tubuh Zeya kedalam pelukannya hingga Zeya susah bernafas.


Zeya berteriak-teriak memanggil Zero, dia menangis, dan terus meronta berusaha lepas tapi tenaganya sudah tidak sanggup lagi untuk melawan kekuatan tenaga pria tersebut.


Zero yang sudah pulih kesadarannya hendak bangkit, tapi ke enam pengawal itu menginjaknya, hingga dia tersungkur lagi.


Namun dia tidak mau menyerah, teriakan dan tangis Zeya membuat api kemarahan berkobar di dalam dadanya, dengan kekuatan penuh Zero menarik kaki-kaki para pengawal yang menginjaknya hingga mereka terjengkang.


"Kalian bajingan! keparat! lepaskan gadis itu atau kalian akan menanggung akibatnya!"


Zero masih diinjak oleh dua orang, tapi itu bukan berarti apa-apa baginya yang sudah mengerahkan seluruh kekuatannya.


Tubuh Zero berputar seperti gasing sambil menarik kedua kaki orang yang menginjaknya. Dengan sekali kibas kedua orang itu terjengkang.


Kemudian Zero bangkit, lalu seperti angin dia menghajar keenam orang tersebut secara beruntun hingga semuanya jatuh kelantai dengan darah yang menyembur dari mulutnya.


Zero sudah tidak bisa mentolerir perbuatan mereka yang akan melecehkan Zeya, wanita yang dia cintai.


Dengan melompat-lompat keudara, Zero menginjak-injak para pengawal itu hingga tidak bergerak lagi.


Sementara Zeya yang sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan, hanya bisa menangis, meratapi nasib buruk yang bakal menimpanya.


Disaat pria itu hampir melucuti semua pakaiannya, terdengar suara pintu lepas dari engselnya dan jatuh ke lantai.


Zero bergerak cepat, menghampiri Zeya dan menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada di sana. Lalu dengan sekali kibasan tangannya, pria tersebut terjatuh ke lantai.


"Keparat! terima pembalasanku!" ucap Zero sambil memberi tendangan ke tubuh pria tersebut.


Lalu Zero berteriak kepada Zeya, "Zey...kamu mau aku apakan pria ini!"


Zeya yang masih terisak-isak pun menjawab, "Buat dia menjadi pria yang tidak berguna sepanjang hidupnya, Kak! Agar tidak ada lagi wanita yang akan dilecehkannya!" teriak Zeya, yang ingin menumpahkan rasa marah dan sakit hatinya karena telah dipermalukan.


Tanpa belas kasihan lagi, Zero mematahkan kedua kaki dan kedua tangan pria itu, lalu dia meremas alat vitalnya hingga jeritan dan raungan menggema di kamar itu.


"Sudah Zey! kamu puas? atau perlu aku patahkan batang lehernya!" ucap Zero.


Sebuah peluru menembus lengan Zero karena dia telat mengelak.


Darah pun mengalir di sana. Dua orang pengawal dari luar masuk ke kamar itu karena mereka mendengar keributan, lalu mereka menembaki Zero.


Zero melindungi Zeya dengan menariknya dari tempat tidur hingga turun kelantai. Satu peluru lagi menembus bahu kanannya. Zero terhuyung dan hampir terjatuh, tapi dia sadar, dirinya tidak boleh kalah dan menyerah.


Kemudian Zero kembali mengerahkan kekuatannya melompat ke arah pengawal itu, menarik sentaja mereka dan mematahkannya.


Kedua pengawal itu ternganga, mereka tidak menduga, Zero yang terluka dan banyak mengeluarkan darah masih sanggup melawan.


Zero melayangkan kakinya, menerjang kedua pengawal itu dan mereka terpental hingga keluar kamar.


Zeya segera bangkit, dia melihat sebuah lemari dan segera membukanya. Ternyata disana ada beberapa pasang pakaian pria. Tanpa membuang waktu, dia mengambil pakaian itu dan mengganti pakaiannya.


Walaupun terlihat kebesaran, setidaknya bisa menutupi tubuhnya, ketimbang dia harus memakai bajunya yang sudah koyak di sana sini.


Lalu Zeya berlari ke arah Zero, Zeya mengoyak sebuah kemeja dan membalutkannya ke lengan serta bahu Zero.


Mereka tidak mau membuang waktu, sebelum ada yang datang lagi, Zero dan Zeya segera mendobrak kamar yang tadi sempat di jaga.


Terlihat di sana Bu Ambar dan Bu Riana diikat di sebuah kursi. Zeya membantu membuka ikatan-ikatan tersebut, lalu dia meminta Bu Riana untuk membawa Bu Ambar keluar kamar bersama Zero.


"Kak Zero, Bu Ambar dan Bu Riana tunggu aku di pintu keluar, aku akan mencari kunci mobil mereka. Di luar ada dua mobil, kita harus mendapatkan salah satu kuncinya," ucap Zeya.


"Baiklah Zey, aku akan keluar bersama Bu Ambar dan Bu Riana, tapi kita tetap harus waspada, siapa tahu masih banyak pengawal di luar sana."


"Iya Kak," ucap Zeya.


Zeya segera bergegas mencari kunci mobil di ruangan tempat para pengawal tadi berkumpul tapi dia tidak menemukannya.


Kemudian diapun menggeledah kantong baju dan celana para pengawal itu, tetap saja tidak ada.


Zeya berpikir sejenak, kemana lagi dia harus mencari kunci tersebut. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, mungkin saja kunci itu masih tergantung di dalam masing-masing mobil yang ada di luar. Karena tidak akan ada yang berani mengambil mobil dalam penjagaan pengawal yang sangat ketat, kecuali anak buah mereka sendiri.


Dengan yakin Zeya berteriak kepada Zero untuk memeriksa mobil, dan Zero segera melakukan apa yang diminta oleh Zeya. Ternyata tebakan Zeya benar, Zero menemukan kunci mobil masih tergantung di sana.


Zeya pun bergegas, memilih salah satu mobil, lalu meminta Bu Riana untuk naik bersama Bu Ambar.


Sementara, Zero yang kehilangan banyak darah, terhuyung, hampir saja terjatuh saat hendak masuk ke dalam mobil.


"Kak Zero!" teriak Zeya sambil menahan tubuh Zero yang hampir jatuh.


"Terimakasih Zey, aku hanya merasa lemas, mungkin karena banyak kehilangan darah," ucap Zero.


"Kita harus segera kerumah sakit Kak, untuk menghentikan pendarahan pada luka kakak," ucap Zeya sambil membantu Zero naik ke mobil.


Zeya kemudian melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, keluar meninggalkan rumah penyekapan tersebut. Beberapa pengawal yang dari kejauhan melihat mobil mereka di bawa pergi, segera menghubungi Shena.