SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 147. RAHASIA MASA LALU


Royan sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, Zero dan Zeya pun sudah bersiap-siap membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.


Zero menaikkan barang-barang tersebut ke dalam mobil, setelah itu dia kembali ke ruangan Royan untuk menunggu perawat yang akan memberikan obat.


Sebelum mereka pulang Dokter berpesan agar Royan kontrol kembali tiga hari kemudian untuk memastikan luka-lukanya sudah benar sembuh.


Mereka pun berterima kasih kepada dokter dan perawat yang selama ini telah merawat Royan, lalu ketiganya bergegas meninggalkan rumah sakit.


Hari ini mereka berkumpul di rumah Royan termasuk emak, Bu Ambar Bu Riana, Nayla dan yang lain. mereka membuat acara syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Royan serta syukuran menjelang pernikahan Royan dan Nayla.


Acara syukuran dihadiri oleh para tetangga, anak yatim piatu serta fakir miskin. Royan ingin kepulangannya menjadi babak baru dalam hidupnya, dia ingin benar bertobat, membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan masa lalunya, sebelum pernikahan dilaksanakan.


Acara dimulai dengan doa yang dibacakan oleh salah satu ustadz yang dituakan di komplek perumahan mereka, setelah itu acara dilanjutkan oleh pemberian sedekah untuk anak yatim piatu, janda dan para fakir miskin.


Berbagai rentetan acara sudah selesai dilaksanakan, kini diakhiri dengan pembacaan doa selamat untuk Royan dan Nayla yang besok akan melaksanakan pernikahan.


Setelah pembacaan doa selesai barulah Royan mempersilahkan semua yang hadir di sana untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


Acara sederhana pun sudah selesai dilaksanakan, kini saatnya Royan beristirahat dan berkumpul bersama keluarga serta para sahabatnya sambil membicarakan persiapan acara akad nikah besok pagi.


Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba royan teringat dengan mama Shena, lalu dia berkata, "Dek bagaimana dengan mama, besok 'kan acara pernikahan Kakak, apa tidak sebaiknya kita lepaskan mama? rasanya kita terlalu kejam mengurungnya terus dikerangkeng sementara kita di sini bersenang dan berbahagia," ucap Royan.


"Nggak usah Kak, nanti keluarnya mama malah bikin masalah dan pernikahan Kakak bisa terancam gagal lagi," ucap Zeya.


"Kenapa kalian mengurung Bu Shena seperti seorang tahanan?" tanya Mak Salmah yang baru saja tahu.


Ceritanya panjang Mak, sebenarnya aku sedih dan malu untuk menceritakan semuanya, walau bagaimanapun dia adalah mamaku, orang yang telah melahirkan ku tapi aku juga tidak bisa membiarkan mama merusak serta menghancurkan hidup Kak Royan serta Mama Ambar. Mama telah mencoba untuk menyingkirkan kak Royan dan menjual kak Nayla ke luar negeri bersama beberapa orang wanita lain Mak," ucap Zeya.


"Astaghfirullah, kenapa seorang ibu bisa sekejam itu?" tanya emak.


"Apa Non! Nyonya Shena dikurung?" tanya Bu Riana.


"Iya Bu, mungkin itu yang terbaik bagi Mama, supaya bisa menyadari kesalahannya karena kami tidak tega jika harus menyerahkan Mama kepada pihak yang berwajib. Beliau bisa mendekam puluhan tahun di penjara akibat kesalahannya, jika kami serahkan kepada polisi," ucap Zeya lagi.


"Non, tolong pertemukan Ibu dengan Nyonya Shena. Mungkin sekaranglah saatnya Ibu bisa menanyakan di mana sebenarnya keberadaan putra ibu yang telah beliau ambil sejak bayi," ucap Bu Riana sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Jadi, putra Ibu diculik oleh bu Shena," tanya Mak Salmah.


"Iya Bu, putraku diambil sejak baru lahir dan sampai sekarang sudah 17 tahun aku belum pernah sekalipun melihat rupa wajah putraku itu. Aku juga tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," ucap Bu Riana.


"Apa suami dan keluarga Ibu tidak pernah berusaha mencari bayi tersebut?" tanya Mak lagi.


"Nyonya Shena mengancamku Mak, akan membunuh putraku jika kami berusaha untuk menemukannya dan dia mengurungku bersama nyonya Ambar serta memintaku untuk mengurusnya jika ingin putraku tetap hidup. Nyonya tahu bahwa titik kelemahan nyonya Ambar ada padaku," ucap Bu Riana lagi.


"Lantas, suami ibu sekarang tinggal di mana?" tanya Kiara yang ikut penasaran.


"Apa maksud ibu?" tanya Zeya.


"Kesalahan apalagi yang telah mamaku lakukan terhadap keluarga Ibu, selain menculik putra ibu?" tanya Zeya lagi.


"Kalau saya cerita, ini adalah aib besar Dek, membuka luka masa lalu keluargaku dan juga keluarga Nyonya Shena," ucap Bu Riana.


"Tolong Bu, ceritakan semuanya kepadaku, barangkali dari cerita ibu, kita bisa mendapatkan titik terang di mana sebenarnya mama telah menyembunyikan putra ibu," mohon Zeya.


"Untuk saat ini saya belum sanggup Dek, kejujuranku pasti akan menyakiti hati banyak orang," ucap Bu Riana.


"Apakah ibu tahu ciri-ciri putra ibu yang hilang itu?" tanya Mak Salmah.


"Bu Riana menggeleng, lalu diapun berkata, "Aku sendiri tidak tahu Mak, saat itu setelah melahirkan aku koma. Jadi yang tahu bagaimana rupa bayi kami adalah suamiku."


Sejenak Bu Riana terdiam, lalu dia melanjutkan ceritanya, "Sebelum suamiku meninggal, dia berkata bahwa putra kami memiliki tanda lahir berupa tahi lalat yang besar di punggungnya," ucap Bu Riana lagi.


"Apa Bu, tahi lalat besar di punggung?" tanya Mak Salmah penasaran.


"Iya Mak, itulah yang dikatakan oleh almarhum suami saya.


"Kalau cuma tanda lahir seperti itu kita tidak bisa memastikannya Bu, bisa saja bayi lain juga memiliki tanda lahir yang sama. Apa tidak ada tanda-tanda yang lain atau misalnya suami Ibu meninggalkan barang di tubuh bayi itu hingga bisa di jadikan tanda untuk menguatkan bukti," tanya Mak Salmah lagi.


"Sebentar ya Mak, saya coba ingat-ingat lagi," ucap Bu Riana.


Bu Riana terdiam sambil merenung, beliau mencoba mengingat masa di mana suaminya masih hidup dan menceritakan tentang bayi mereka yang diambil oleh Shena.


Kemudian Bu Riana tersentak, lalu berkata, "Iya...ada mak! aku sekarang ingat. Kami dulu memiliki sebuah kalung beserta liontin warisan keluarga yang di berikan turun temurun. Di dalam liontin itu terdapat tulisan huruf Z yang maknanya adalah awalan nama keluarga besar suamiku. Kata suamiku saat bayi kami baru lahir dan sebelum di culik oleh Shena, dia sempat meminta tolong kepada perawat untuk memakaikan kalung tersebut yang menurut keluarganya kalung itu sebagai pembawa keberuntungan bagi yang memakainya," kenang Bu Riana.


Wajah Mak Salmah pucat setelah mendengar akhir cerita Bu Riana dan Mak Salmah juga memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja sakit. Mak Salmah seperti mau pingsan.


Melihat hal itu, Bu Riana pun berteriak minta tolong, "Dek...dek, tolong...emak sepertinya sakit!" ucap Bu Riana.


Kiara dan Zeya sudah menopang tubuh emak agar tidak jatuh ke lantai. Sementara Zero yang sedang ngobrol dengan Royan, Abah, Togar dan Bang Beni segera berlari menghampiri Mak Salmah.


"Mak... Mak kenapa? Mak sakit? Ayo Mak kita ke rumah sakit," ucap Zero panik, lalu membopong tubuh Mak Salmah untuk di bawa ke mobil.


Royan dan Beni berlari mengambil kunci mobil dan membuka pintu mobil masing-masing agar Zero bisa meletakkan emak di sana.


Zero yang ingat sudah memiliki mobil sendiri segera mengikuti bang Beni, lalu dia meletakkan Mak Salmah di bangku belakang dan meminta Beni untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat.


Royan yang sudah buru-buru membuka pintu mobilnya pun tersenyum, dia lupa jika Zero sudah memiliki kendaraan sendiri.