SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 90. MENDAPATKAN TAMPARAN


"Satu tugas lagi, mencari toko untuk keluarga Ahmad," monolog Zero sambil berjalan ke arah pasar.


Zero memutuskan untuk menyewa toko di sekitar pasar, karena menurutnya banyak orang yang mengenal Ahmad selama dia menjadi pedagang kacang keliling. Setidaknya Zero berharap, mereka akan mampir ke toko Ahmad nanti untuk membeli apa yang mereka butuhkan.


Setelah menyusuri area pertokoan, Zero melihat ada sebuah toko kecil yang tutup lalu dia mendekati pedagang kaki lima yang ada di sana dan bertanya, siapa pemilik toko tersebut.


Pedagang itupun berkata, "Toko itu sudah berganti pemilik Dek, dan saya tidak tahu siapa pemilik barunya, coba cek di pintu sepertinya ada tulisan dan nomor ponsel yang bisa di hubungi."


"Oh...terimakasih Pak, saya coba cek dulu ya Pak."


Kemudian Zero mendekati toko tersebut, benar di sana dia melihat kertas yang bertuliskan toko ini disewakan disertai nomor ponsel. Lalu Zero mengetik nomor tersebut dan segera menghubunginya.


Begitu tersambung, Zero pun membicarakan maksudnya. Si pemilik toko minta kontrak jangka panjang yaitu 5 tahun karena dia ingin memperbaiki dulu toko tersebut serta menambah fasilitas kamar agar si penyewa bisa langsung tinggal di sana.


Zero pun setuju, karena dia melihat tempat tersebut cukup strategis. Emperan toko juga bisa dimanfaatkan bagi yang ingin berdagang makanan di malam hari.


Mereka pun berjanji akan bertemu tiga hari ke depan untuk penandatangan sewa dan penyerahan sebagian uang sewa agar perbaikan toko cepat dilaksanakan. Nilai sewa toko selama lima tahun adalah 5x30jt\=150jt, karena tokonya tidak terlalu besar.


Zero mengucap syukur, tugasnya hari ini sudah selesai, lalu dia beranjak dari tempat itu menunggu angkot untuk pulang ke rumah.




Zeya yang sudah tiba di pintu masuk rumah peninggalan Papanya segera membunyikan klakson, lalu terlihat Mang Ihsan membukakan pintu gerbang.



"Selamat datang Non!" sapa mang Ihsan.



"Iya Mang. Oh ya Mang, Mama ada di dalam 'kan?"



"Ada Non, Nyonya baru saja tiba tapi langsung marah-marah, semua barang di hempaskan. Rumah sudah seperti kapal pecah. Kami tidak ada yang berani mendekati beliau Non!"



"Ya sudah Pak, nggak apa-apa. Kita semua 'kan sudah tahu watak Mama yang pemarah dan suka membanting barang sejak dulu. Nanti ngebersihinya setelah Mama tenang atau Mama tidur," ucap Zeya.



Mang Ihsan pun mengangguk, dia memang kurang suka dengan perilaku Nyonyanya yang ini. Ihsan dan para pelayan lain sayang dengan Mamanya Royan.



Menurut mereka perbedaan kedua Nyonya tersebut seperti langit dan bumi. Entah mengapa almarhum Tuan mereka bisa terjebak dengan wanita seperti Mama Zeya.



Mang Ihsan menarik napas berat tatkala teringat dengan Mamanya Royan. Dia cuma bisa berharap dan berdoa jika memang sang Nyonya masih hidup, semoga segera kembali ke rumah, tapi jika memang sudah meninggal, semoga tuan mudanya bisa secepatnya menemukan pusara mamanya tersebut.



Zeya menggelengkan kepala saat melihat rumah berantakan, banyak barang antik pecah dan berserakan di lantai.



"Ma...ma, semakin tua bukan bisa berubah, malah semakin parah," gumam Zeya.




Zeya melanjutkan langkahnya, hingga tiba di pintu kamar sang mama. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.



Shena yang mendengar suara pintu kamarnya di ketuk pun berteriak sambil berkata kasar, "Pergi kalian! Jangan ganggu aku atau kepala kalian mau aku penggal!



"Ini aku Ma!!" ucap Zeya lembut sambil mengetuk pintu itu kembali.


Sejenak kamar itu hening, tidak ada suara sahutan dari dalam. Saat Zeya hendak mengetuk kembali, tiba-tiba pintu kamar itupun terbuka.



"Mau apa kamu kesini, anak durhaka!" bentak Shena.



"Jangan doain aku seperti itu Ma!" ucap Zeya.



"Lantas apa namanya jika bukan anak durhaka hah! Kamu kerjanya selalu melawan Mama!"



"Bukan maksudku mau melawan, tapi aku tidak bisa membiarkan Mama berbuat semena-mena terhadap hak Kak Royan, Mama sudah menyingkirkan Mamanya dari sini, mengambil sebagian besar harta papa dan membuat papa teekena struk, semua itu sudah cukup Ma!" balas Zeya.



"Anak durhaka!"



Plaakk



Shena pun menampar Zeya, terlihat di sana cap lima jari tangan Shena yang tadi mendarat di pipi yang putih mulus milik Zeya.



Zeya tidak bergeming sedikitpun dan dia tidak mau melawan, terlihatlah cairan darah segar mulai menetes di sudut bibirnya yang pecah akibat tamparan sang Mama.



"Kamu rasakan itu! Akibat suka membantahku!" ucap Shena lagi dengan suara lantang.



"Maafkan aku Ma, jika selalu menentangmu. Aku hanya ingin membela kebenaran."



"Bulset dengan kebenaran, kalau Mama dulu mengikuti kebenaran, kamu tidak akan lahir kedunia ini dan kamu tidak akan bisa hidup seenak sekarang!" ucap Shena lagi.



Zeya yang sudah malas membantah perkataan Mamanya lagi, segera pergi mengambil sapu, lalu dia mengumpulkan barang-barang yang pecah dan berserakan di lantai kamar tersebut.