
Setelah berkenalan dengan emak, Royan pamit pulang, lalu dia memeluk Zero sembari mengingatkan kembali agar Zero menjaga Zeya. Zero pun berjanji akan melakukan yang terbaik sesuai dengan amanah Royan.
Kini Royan sudah tiba di rumah, Zeya yang melihat sang Kakak tampak letih segera menghampiri dan memijat pundaknya sambil berkata, "Kak, besok kita cari Kak Nayla ya? aku masih penasaran, kenapa Kak Nayla ingkar janji. Nggak biasanya Kak Nayla seperti itu. Sampai sekarang ponselnya belum bisa dihubungi."
"Sudahlah Dek, aku ikhlas kok! Mungkin ini memang karma atas perbuatanku dulu dan sekaranglah aku harus membayarnya dengan kehilangan Nayla selamanya," ucap Royan pasrah.
"Tapi...Kakak nggak boleh menyerah, pasti masih ada kesempatan kalau kita mau berusaha."
"Biarlah Dek, kalau memang masih berjodoh, pasti suatu saat kami akan bertemu kembali. Jika tidak, berarti memang inilah takdir hubungan kami Dek."
Zeya tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Royan agar besok mau ikut dengannya untuk menemui Nayla.
Namun dia tidak mau menyerah, sambil terus memijat Nayla pun berpikir, apakah dia harus meminta bantuan seseorang.
Akhirnya dia teringat Zero, mungkin saja Zero bisa membantunya dengan pola pikir atau dengan menggunakan ilmu menghilangnya.
Melihat sang Kakak memejamkan mata, Nayla hendak pergi ingin menelephone Zero, tapi gerakannya terhenti saat Royan menahan dan menggenggam lengannya sambil bertanya, "Tunggu Dek! Jangan pergi, ada yang ingin Kak Roy bicarakan."
"Iya Kak, aku akan tetap di sini, memangnya apa yang ingin Kakak bicarakan?"
"Besok pagi, Kakak berangkat ke luar negeri, kamu baik-baiklah menjaga diri dan Kakak sudah meminta Zero dan Franky untuk menjagamu selama Kakak pergi."
"Apa! Kenapa Kakak harus pergi, Kak Roy tega ninggalin aku sendiri? Kak Roy jahat, Kakak jangan pergi! Aku mohon Kak," ucap Zeya dengan meneteskan air mata.
"Kamu tidak sendiri, ada Zero dan Franky yang sudah Kak Roy beri amanah."
"Tapi aku tidak mau Kak, aku mau Kak Roy di sini bukan mereka atau siapapun."
"Aku pasti kembali Dek, tapi belum tahu kapan, izinkan aku pergi ya... untuk menenangkan diri, menata serta memperbaiki hidupku lagi. Aku janji, pada saatnya nanti, aku pasti kembali," bujuk Royan sambil mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Zeya.
Mau tidak mau Zeya pun menautkan kelingkingnya ke jari sang Kakak. Lalu dia berkata, "Pokoknya Kakak sudah janji, jika Kakak tidak tepati maka, seumur hidup, aku tidak akan mau menikah. Aku akan mencari Kakak dan selamanya akan tinggal bersama Kak Roy."
"Mana boleh seperti itu! Jika kamu tidak mau menikah, kapan aku bisa menggendong keponakan," ucap Royan sambil tersenyum.
"Makanya, Kakak nggak usah pergi! kalau Kakak tetap di sini, aku janji deh...akan bujuk kak Zero agar mau menikahi aku secepatnya, biar bisa segera kasi keponakan ke Kakak."
Kebahagiaan itu terhenti saat ada telephone masuk ke ponsel Royan yang memberitahukan bahwa semua berkas dan tiket keberangkatan sudah mereka kirimkan ke rumah Royan via kurir.
Mendengar hal itu, Zeya langsung meninggalkan Royan, dia berlari ke dalam kamar, mengambil ponsel lalu menelephone Zero.
Saat melihat nomor Zeya sedang memanggil, Zero langsung mengangkatnya. Dia sudah menduga, pasti Zeya akan membicarakan tentang masaah keberangkatan Royan.
Dugaan Zero benar, Zeya menangis menceritakan semua masalah yang sedang menimpa sang Kakak. Zeya pun meminta tolong agar Zero membantunya, menghalangi kepergian Royan ke luar negeri.
Zero tidak tega mendengar Zeya terus memohon dan menangis, akhirnya dia berjanji, malam ini akan membantu mencari titik terang tentang masalah Royan dan Nayla dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Zeya merasa tenang karena Zero sudah berjanji dan malam ini dia akan menunggu kabar yang akan disampaikan oleh Zero.
Setelah Zeya menutup telephonenya, Zero memfokuskan pikiran meminta bantuan sistem untuk menerawang keberadaan Nayla dan untuk mengetahui alasan Nayla, kenapa dia sampai membatalkan janjinya.
Sebuah pusaran muncul di depan Zero, lalu tampaklah sebuah cermin di dalamnya yang memperlihatkan bahwa, Nayla sedang duduk sambil menangis di depan ruangan ICU sebuah rumah sakit di pinggiran kota.
Setelah mendapatkan titik terangnya, Zero segera menelephone Zeya menceritakan semua yang dia lihat.
Saking senangnya, Zeya sampai lupa berterimakasih kepada Zero. Dia berlari ke kamar sang Kakak, menggedor pintunya berulang-ulang hingga membuat Royan heran.
Kemudian Royan bertanya, "Ada apa sebenarnya Dek, kenapa kamu terllihat panik dan terburu-buru, ayo tenang dulu, ini minum, baru kamu cerita ke Kakak."
Zeya pun meminum air yang diberikan oleh Royan, lalu dia berkata, "Ayo Kak! Kita berangkat sekarang juga untuk menemui Kak Nayla, saat ini Kak Nayla sedang sedih, dia pasti membutuhkan Kakak di sana. Abahnya kembali terkena serangan jantung Kak dan sekarang sedang dirawat di dalam ruangan ICU."
Mendengar perkataan Zeya, Royan pun terkejut lalu dia berkata, "Kamu sedang tidak bercanda 'kan Dek?"
"Apa Kakak tidak bisa membedakan apa aku sedang bercanda atau tidak? Aku serius lho Kak!" ucap Zeya sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Baiklah jika begitu, ayo bersiap, kita berangkat malam ini untuk menemui Nayla."
Mendengar hal itu, Zeya pun langsung berlari sambil berkata, "Siap Kak, aku ambil tas dan jaket dulu ya!"
Royan pun segera bersiap, lalu dia mengeluarkan mobilnya dari garasi, dan dalam hati diapun berdoa, berharap agar malam ini, nasib baik berpihak kepadanya.