SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 61. BERTEMU ADIK MAMA


Mendengar bunyi denting di ponsel Zeya, Royan langsung berkata, "Cepat lihat dek? mungkin itu balasan pesan dari Nayla," ucap Royan yang sejak tadi menunggu.


"Sabar Kak! Eh, benar...dari Kak Nayla."


Royan yang sudah tidak sabar langsung menarik ponsel dari tangan Zeya dan buru-buru membuka pesan tersebut.


Terlihat senyum di wajah Royan, Walaupun dia belum tahu apa keputusan Nayla, setidaknya besok pagi Royan akan mendengar suara gadis yang sangat dia rindukan.


"Apa kata Kak Nayla, Kak? ayo kak, aku penasaran nih!" ucap Zeya yang berusaha mengambil ponselnya dari tangan sang Kakak.


Setelah membaca pesan dari Nayla, Zeya memandang heran, lalu bertanya, "Kakak kok senyum-senyum, bahagia amat, padahal belum tentu 'kan Kak Nayla nya memaafkan Kakak?"


Royan tidak menjawab, dia hanya membalas pertanyaan Zeya dengan tersenyum sambil menunjuk ke arah jantungnya.


Zeya tidak mengerti dengan maksud sang Kakak, ketika Zeya ingin bertanya, tiba-tiba muncul Franky yang memberitahu bahwa Beni telah menunggu di bawah.


"Bawa dia ke sini Frank! Sekalian anak dan istrinya."


"Baik Bos!"


Franky pun turun untuk menemui Beni, lalu dia meminta anak buahnya untuk mengantarkan anak dan istri Beni menghadap Royan.


Zero yang lelah berdiri, duduk di salah satu kursi yang ada disana sambil terus memperhatikan apa yang terjadi dan apa yang bakal dilakukan Royan kepada Beni dan keluarganya.


"Selamat sore Bos," sapa Beni kepada Royan sambil tertunduk.


Beni masih ingat peraturan saat dia masih bergabung menjadi anggota Royan. Mereka dilarang menatap Bos besar apabila ada kesempatan bertemu.


"Silahkan duduk!" perintah Royan.


Beni pun duduk, berbarengan dengan datangnya anak buah Franky membawa anak dan istrinya.


"Pak!" sapa anak Beni. Merekapun duduk berdampingan antara anak, bapak dan juga emak. Sementara Royan duduk di hadapan ketiganya.


Franky meninggalkan tempat itu, sedangkan Zeya masih di sana, dia ingin membuktikan langsung, jika sang Kakak benar-benar ingin berubah.


Kursi yang tampak kosong di sana hanyalah kursi yang di duduki oleh Zero. Zero yang sedang asyik memperhatikan Beni dan Royan, tidak menduga jika Zeya akan duduk di kursi yang saat ini dia duduki.


Zeya berdiri untuk memastikan lagi, dia menepuk-nepuk, maksudnya menepuk busa kursi tapi kenapa rasanya berbeda dan aneh, sedangkan Zero yang takut juniornya kena tepuk secepatnya berdiri dan bergeser ke sebelah Royan.


Kemudian Zeya duduk lagi dan kini barulah dia merasa seperti duduk biasanya. Zeya terus kepikiran dan merasa aneh, hingga dia membayangkan mungkin saja tadi ada hantu yang usil ikut duduk.


Kebanyakan mikir yang aneh-aneh, membuat bulu kuduknya berdiri, lalu tanpa ingat akan tujuannya ikut duduk di sana, Zeya pun berlari, keluar meninggalkan tempat itu dengan wajah sedikit pucat.


Royan yang melihat adiknya seperti itu merasa heran, lalu dia berteriak memanggil Franky agar mengikuti kemana Zeya pergi.


Sekarang Royan fokus lagi ke Beni, lalu dia mengajukan pertanyaan diluar perkiraan Beni dan keluarganya.


"Aku ingin bertanya, sebenarnya kalian berasal darimana, terutama Ibu?" tanya Royan dan langsung memandang ke arah istri Beni.


Saya kelahiran Wonogiri, tapi waktu usia saya 10 tahun, saya di adopsi lalu dibawa pindah ke Palembang, setelah menikah dengan Bang Beni barulah di bawa kesini.


"Apakah Ibu memiliki seorang Kakak?"


"Ada, dulu dia tinggal bersama Bibi, tapi kami hilang kontak sejak Bibi meninggal dan kabar terakhir yang saya dengar, Kakak menikah dengan orang kaya lalu di bawa pindah oleh suaminya. Nomor kontak Kakak hilang, bersama ponsel saya saat itu hingga sampai sekarang kami tidak tahu lagi kabarnya."


"Siapa nama Kakak Ibu?"


"Khairunnisa, saya memanggilnya Kak Nisa."


"Sebentar ya Bu," ucap Royan, lalu dia membuka ponselnya seperti mencari sesuatu di sana.


Setelah itu Royan menyodorkan ponselnya, dia menunjukkan foto lama Mamanya, foto masa kecil, masa remaja dan foto ketika sang Mama menggendongnya di saat Royan berusia 3 tahun.


Foto itu dia dapatkan di lemari tempat sang Mama dulu menyimpan barang-barang, lalu supaya bisa dibawa kemana-mana, Royan menduplikat foto sang Mama dan menyimpan dalam galeri ponselnya.


Istri Beni kaget saat melihat foto itu, lalu dia memberanikan diri menatap Royan sambil bertanya, "Tuan dapat dari mana foto-foto ini? ini foto Kakak Saya."


"Ini adalah Mamaku, berarti Ibu adalah Tanteku. Aku curiga saat tadi melihat Tante, apalagi ketika aku mengobati wajah Tante. Ada kemiripan antara Tante dan Mama hingga membuatku yakin, pasti Tante ada hubungan darah dengan Mama," jelas Royan.


"Jadi dimana Kakakku sekarang Tuan? Aku ingin menemuinya."


"Tan, panggil aku Royan. Aku tidak tahu Tan, Mama sekarang ada di mana? Mama terpaksa meninggalkan rumah saat aku berusia 6 tahun. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu. Aku tidak tahu, Mama masih hidup atau sudah meninggal. Aku sudah berusaha, mencari beliau tapi sampai sekarang belum juga ada hasilnya."