
Sipir penjara itupun membuka gembok, lalu dengan kasar dia mendorong Pak Arya hingga beliau hampir tersungkur menatap jeruji jika saja Zero tadi tidak menyanggahnya. Zero sangat geram melihat ulah sipir tersebut dan dia ingin memberi sipir itu pelajaran.
'Awas kamu sipir kejam! Aku yang akan membalas perlakuanmu terhadap Pak Arya. Berani-beraninya kau mendorong beliau,' batin Zero.
Melihat sipir mengayunkan tongkatnya ingin memukul punggung Pak Arya yang berjalan lambat di depannya, hal ini semakin memancing kemarahan Zero.
Sebelum tongkat itu menyentuh punggung Pak Arya, Zero terlebih dahulu menjegal kaki sipir tersebut hingga membuatnya tersungkur, mencium lantai dan wajahnya tepat berada dibelakang kaki Pak Arya.
Pak Arya kaget saat mendengar suara benda jatuh, beliau menoleh ke belakang dan terpaku menatap sipir jatuh tepat di belakang kakinya.
Beliau pun mengulurkan tangan, hendak menolong sang sipir tapi niat baiknya malah di balas dengan hempasan tangan dan suara bentakan.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" bentak sang sipir.
Pak Arya yang mendapatkan penolakan, segera meninggalkan sipir tersebut yang masih terduduk di lantai.
Dia kembali melangkah untuk menemui tamunya, tapi masih beberapa langkah, sipir itu kembali membentak, "Awas kamu! Jika kamu berani melangkah tanpa izinku, siap-siap saja, hukumanku menantimu!"
Arya pun berhenti sejenak, lalu dia menoleh ke belakang sambil tersenyum. Kemudian Arya pun kembali melangkah tanpa mengatakan apapun serta tidak menggubris bentakan sipir itu lagi.
Sang sipir merasa panas karena ucapannya di remehkan, lalu dia bangkit dan mengejar Pak Arya.
Tongkat pun telah diayunkannya ke udara, dan hampir saja mengenai kepala Pak Arya, tapi segera ditangkap oleh Zero.
Zero merebutnya, mengayun-ayunkan di udara lalu memukulkan di tengkuk sipir hingga diapun kembali tersungkur.
Pak Arya tidak mempedulikan sipir lagi, dia terus berjalan dan Zero juga mengikutinya.
Di ruangan khusus, tempat napi dan keluarga bisa bertemu di sana terlihat seorang pengacara dan Bang Togar sedang menunggu kedatangan Pak Arya.
Zero langsung keluar, di tempat sepi dia melepaskan rompi, lalu menyimpannya kembali. Setelah itu Zero pun kembali ke ruangan dimana pengacara sedang menemui Pak Arya.
Togar yang melihat Zero di ambang pintu langsung memintanya untuk masuk. Zero pun duduk di samping Togar lalu berkata perlahan, "Tadi aku menyelinap masuk Bang, melihat Pak Arya."
"Kok bisa lolos?" tanya Togar heran.
"Pakai trik ngelabuhi penjaga dong Bang, dan yang jelas belajar jadi penyelinap," ucap Togar sembari tertawa.
Pengacara yang di bawa oleh Togar adalah pengacara terkenal, suka memperjuangkan nasib orang kecil, dia tidak terlalu memikirkan tentang bayaran. Baginya yang terpenting adalah kerja, dan membuktikan kinerjanya. Masalah upah, terserah berapa orang yang telah dia bela sanggup memberi.
"Perkenalkan nama saya Pradipta, saya yang akan menjadi kuasa hukum untuk kasus Bapak Arya. Jadi saya mohon Bapak bisa menjelaskan kronologi kejadian sebenarnya hingga Bapak sampai di jatuhi vonis. Besok saya akan ajukan surat ke pengadilan untuk membuka kasus ini kembali."
"Terimakasih Pak Pradipta, Bapak telah berkenan untuk membela saya, saya akan menceritakan semuanya dari awal saya berkenalan dan berteman dengan Royan," ucap Pak Arya.
Kemudian Pak Arya menceritakan semuanya tanpa ada sedikitpun yang beliau tutupi.
"Baiklah Pak, kami akan mencari bukti dulu tentang perdagangan ilegal Royan yang akhirnya malah dia tuduhkan kepada Pak Arya," ucap Zero.
Kemudian Zero melanjutkan ucapannya, "Oh ya Pak, untuk sementara sebagai biaya surat menyurat atau yang lainnya, kami akan berikan besok ke kantor Bapak atau Bapak bisa mengirimkan nomor rekening ke WhatsApp Bang Togar."
"Kalian jangan pikirkan masalah uang, saya akan buktikan kemampuan saya dulu. Masalah uang gampang, ada rezeki...kalian kasih alhamdulillah, jika tidak ada, juga tidak apa-apa bagi saya."
"Insyaallah ada Pak, ada seseorang yang tidak mau di sebutkan namanya telah mendukung kita untuk menolong membebaskan Pak Arya. Jadi masalah dana beliau sanggup menanggulanginya," ucap Zero yang masih ingin menutupi identitasnya, yang sekarang dia mulai menjadi pemuda kaya.
"Baiklah jika begitu, terserah kalian mau kasi saya berapa, yang penting saya tidak patokkan ataupun memaksa. Ini nomor rekening Saya, jika mau ke kantor juga boleh," ucap Pak Pradipta sembari mengulurkan secarik kertas kepada Zero.
"Insyaallah besok pagi saya transfer ya Pak," ucap Zero.
Pak Pradipta pun mengangguk, lalu beliau pamit pulang karena masih ada urusan yang harus dia selesaikan sebelum mengajukan surat ke pengadilan.
Zero, Togar dan Pak Arya mengucapkan terimakasih, lalu Togar mengantar Pak Pradipta sampai ke parkiran.
Sementara jam kunjung yang hampir habis membuat sipir penjara datang, dia ingin membawa kembali Pak Arya ke dalam sel tikus.
Belum lagi sang sipir penjara membawa pergi Arya, Zero langsung memberikan peringatan, "Bapak jangan coba-coba menyiksa Pak Arya lagi, jika sampai kami lihat ada sedikit saja luka di tubuhnya, pengacara kami tidak akan segan untuk menuntut Bapak!" ancam Zero.
"Apa maksudmu, siapa yang memukul siapa, jangan menuduh orang tanpa bukti," ucap sipir penjara dengan sedikit gugup.
"Memang Bapak pikir kami tidak tahu, perlakuan kalian terhadapnya! Pak Arya sekarang bukan Pak Arya yang dulu Pak! yang takut kepada kematian. Beliau sekarang lebih memilih mengungkap kebenaran daripada menutupinya," ucap Zero sambil tersenyum.
Perkataan Zero nyaris membuat wajah sang sipir penjara pucat pasi. Dia buru-buru membawa Pak Arya pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, saat mereka sampai di depan lorong menuju sel tikus, Zero kembali berkata dengan lantang, "Ingat Pak! Hari ini adalah hari terakhir Pak Arya di sel tikus, aku pastikan, sebelum matahari terbenam besok, beliau pasti akan berada di sel tahanan biasa!"
Pak Arya tersenyum mendengar ucapan Zero, keberaniannya kini bangkit berkat pemuda itu. Menurutnya Zero sangat berani dan bersemangat dalam memperjuangkan kasusnya.
Togar yang melihat hal itu segera menyenggol lengan Zero dan bertanya, "Memangnya kamu tahu Dek bagaimana perlakuan mereka terhadap Pak Arya?"
Zero pun mengangguk lalu berkata, "Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri Bang! Sipir sering memukulnya dengan tongkat bahkan mendorongnya hingga jatuh tapi beliau tetap tidak melawan."
"Memangnya kapan kamu melihatnya?"
Zero berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaan Togar dengan santai, "Tadi Bang, saat aku pergi menyelinap ke dalam."
"Oh... mudah-mudahan setelah hari ini, Pak Arya akan mereka perlakukan dengan baik ya Dek."
"Iya Bang, itu yang aku harap. Kasihan beliau jika tidak segera mendapatkan keadilan," ucap Zero sambil menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan perlahan."