SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 161. PESAN ZERO SEBELUM BERANGKAT


"Apa yang ingin kamu bicarakan Ro?" tanya Satria sambil menyesap kopinya.


"Begini Sat, Zeya menghilang, jadi besok aku beserta kak Royan dan beberapa orang anak buahnya akan mencari Zeya, aku belum tahu kapan kamu bisa kembali, jadi aku mungkin tidak bisa bertemu Alena saat dia berangkat ke Padang. Aku hanya ingin titip salam untuknya dan menyerahkan ini," ucap Zero sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil.


"Apa ini Ro?" tanya Satria.


"Itu adalah kitab suci kita Sat, berikut terjemahannya, dulu Alena memberikan kitab itu untuk ku sebagai penyemangat di kala aku sedih dan mengalami kesempitan rezeki saat emak sakit-sakitan."


"Aku ingin dia juga tetap semangat, semua cobaan pasti berlalu, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita. Dan mengenai jodoh semua sudah di atur oleh-Nya, jika memang jodohku kelak adalah Alena, kami pasti akan bersama tapi jika kami tidak berjodoh biarlah selamanya menjadi sahabat baik. Aku tidak akan pernah melupakan dia, karena dia salah satu gadis terbaik yang pernah aku kenal," ucap Zero.


"Baiklah Ro, aku akan sampaikan pesanmu kepada Alena. Terimakasih Ro, mudah-mudahan Alena bisa kembali bangkit dari keterpurukannya dan kamu hati-hati ya, aku akan bantu doa semoga Zeya segera bisa di temukan," ucap Satria.


"Terimakasih kembali Sat, kalau begitu aku permisi dan tolong sampaikan salam ku untuk Alena beserta orangtuamu. Jika ada kabar terbaru dari kampus aku mohon Sat hubungi aku ya," ucap Zero.


"Siap Sobat, kamu jangan khawatir, aku akan selalu memberikan info jika ada hal penting asal ponselmu tetap stay di hubungi."


Zero mengacungkan jempolnya, lalu pamit. Dia berencana ingin ke rumah Bang Togar dan Bang Beni untuk membahas masalah keberangkatannya besok dan tentang bisnis mereka yang baru saja di jalankan.


Zero kembali naik taksi online ke rumah Bang Togar dan Bang Beniyang memang berdekatan. Sesampainya di sana Togar dan Beni terkejut kenapa Bos mereka datang tanpa konfirmasi.


"Ada apa Bos," tanya Togar.


"Kenapa Bos kesini tanpa konfirmasi, jadi kami saja yang kesana atau aku akan menjemput Bos," ucap Beni.


"Nggak apa-apa Bang, aku tahu kalian pasti capek, aku kebetulan tadi dari kampus, ya sekalian saja singgah kesini."


"Jadi bos ke kampus naik ojek online? Kenapa tidak pakai sopir saja Bos?" tanya Beni.


"Biar nggak manja Bang, selama ini aku sudah terlalu manja padahal dulunya tubuhku ini terbiasa jalan kaki atau bahkan berlari," ucap Zero.


"Dulu kan beda dengan sekarang Bos!" ucap Togar.


"Tapi aku masih tetap sama Bang! Zero dulu dan sekarang sama, hanya rezekinya saja yang berbeda," ucap Zero.


"Kami tahu Bos, Bos tidak pernah menyombongkan diri, walau sedang di atas dan bahkan banyak orang tertolong berkat bantuan Bos Zero," ucap Beni dan di iyakan oleh Togar.


"Oh ya Bos, tadi apa yang ingin Bos bicarakan?" tanya Togar.


"Begini Bang, besok Abang berdua bantu ngawasi rumahku saja dan terus pantau bisnis kita selama aku pergi. Kita nggak tahu musuh ada dimana, jadi tidak boleh lengah, lagipula bisnis kita baru saja berjalan, tidak boleh ditinggal terlalu lama tanpa pengawasan," ucap Zero.


"Kami terserah Bos saja, jadi besok berapa orang yang berangkat Bos?" tanya Beni.


"Oh, bagus gitu Bos, jadi kami pokus menjaga dan mengawasi di rumah Bos saja. Tentang proyek perkampungan pemulung sudah hampir selesai kok Bos, jadi Franky bisa handle sendiri," ucap Beni.


"Proyek sekolah yang di tangani Pak lurah juga sudah berjalan 70%, hanya pembangunan mushollah yang belum dilaksanakan, mereka masih membersihkan puing-puing bekas rumah emak yang terbakar," ucap Zero lagi.


"Nggak apa-apa Bang, itu pelan-pelan saja, lagi pula warga kampung masih bisa beribadah di kampung sebelah."


"Mengenai bisnis baru kita bagaimana Bang, apa ada kendala?" tanya Zero.


"Tidak ada Bos, semua lancar dan para warga senang mereka sekarang bisa memiliki tambahan penghasilan tanpa melulu mengandalkan kegiatan memulung," ucap Beni lagi.


"Syukurlah jika begitu Bang, kalau sukses usaha kita ini,baku akan buka cabang di kota lain, hingga banyak orang bisa tertolong," ucap Zero.


"Kalau begitu aku permisi ya Bang, jika butuh kenderaan untuk keperluan kalian atau siapapun yang membutuhkan untuk situasi darurat pakai saja, kunci aku titipkan sama emak," ucap Zero lagi.


"Terimakasih Bos, hati-hati besok ya Bos, semoga Bos Zeya cepat di temukan dan dalam keadaan baik-baik saja," ucap Togar begitu juga dengan Beni.


"Aku antar pulang ya Bos!" ucap Togar.


"Terimakasih Bang, aku naik ojek online saja, kalian istirahatlah dan pesan sama Kakak, bantu di rumah jika emak repot dan semoga bisnis mereka bersama Kiara bisa semakin maju."


"Iya Bos, nanti kami sampaikan, mereka sedang belanja ke pasar," ucap Beni.


Zero pun pulang dengan ojek online. Sesampainya di rumah diapun beristirahat sambil menerawang Zeya, sebenarnya saat ini dia sedang berada di mana, apakah dia dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


Zero mengambil ponsel jadulnya sambil bermonolog, sebenarnya rahasia tujuh belas tahun silam yang harus aku ungkap itu apa toh sistem? Apa tidak ada petunjuk tentang hal itu. Maaf aku belum bis pokus, karena masih harus mencari Zeya."


Kemudian Zero memejamkan matanya dia merasa pusaran muncul di hadapannya dan terlihatlah sebuah cermin di dalamnya yang menampakkan Zeya sedang apa saat ini.


Zeya sedang di kurung di sebuah kamar dan tempat itu sepertinya jauh dari keramaian. Zero melihat sekeliling tempat itu hanya lautan luas dan banyak tumbuhan pantai yang hidup di sekitar tempat itu.


Mereka di sana ada sekitar sepuluh orang, enam orang berjaga-jaga di luar di sebuah pondok terbuka sementara yang lain sedang berada di dalam rumah yang bentuknya seperti villa. Tempat itu sangat indah dan memang Sepertinya untuk tempat peristirahatan dan persembunyiannya.


Zeya berusaha mencari jalan keluar dari kamar itu tapi percuma, semua tertutup rapat, bahkan dindingnya terbuat dari kaca yang tebal tapi transparan bisa melihat pemandangan di luar yang sangat indah bila kain penutup di sibakkan.


Salah satu pengawal mengantarkan makanan, bahkan makanan tersebut terlihat sangat lezat yaitu berupa hidangan laut. Tapi karena Zeya sedang kesal dan marah terhadap Mamanya, dia melemparkan hidangan tersebut ke arah pelayan yang mengantarnya.


Pelayan itu dengan sabar membersihkan ruangan itu kembali, tapi Zeya tetap tidak bisa lari karena di luar kamar ada dua pengawal yang mengawasi mereka.