SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 80. MAK SALMAH MAKIN PENASARAN


"Memangnya Mama kamu akan pulang?" tanya Zero.


"Biasanya begitu Kak, disini ada tangan kanan Mama yang tugasnya melaporkan semua yang terjadi kepada beliau, mungkin saja setelah mendengar Kak Royan berangkat, Mama bakal kembali."


"Kenapa kamu tidak memilih tinggal bersama beliau? Biasanya kalau anak perempuan lebih dekat dengan ibunya daripada dengan yang lain."


"Mamaku beda Kak, beliau lebih cinta dengan dirinya ketimbang dengan kami. Makanya aku iri dengan keluarga Kak Zero."


"Mungkin Mama kamu punya alasan kenapa memperlakukan kalian seperti itu. Sabar saja, mudah-mudahan nanti beliau berubah dan lebih menyayangimu dan juga Kak Royan."


"Tidak akan, 16 tahun bukan waktu yang sebentar Kak, Mama tidak pernah menyayangi kami, Mama lebih sayang dirinya sendiri. Kita sudah hampir sampai Kak, tapi di depan ada mobil yang mengangkat motor, kita tunggu mobil itu keluar dulu dari gang, baru kita masuk ya."


"Iya. Kita tunggu di sini saja."


Sementara di rumah Mak Salmah, kebetulan semua sedang keluar, hanya ada emak saja, beliau kaget saat mobil dealer masuk ke pekarangan rumah.


"Selamat sore Mak!" sapa karyawan yang mengantar motor.


"Iya selamat sore, itu motor siapa? Kenapa kalian turunkan di sini?" tanya Mak Salmah.


"Atas nama Zero Ramadhan Mak, dan ini benar alamatnya 'kan Mak?" tanya si pengantar motor dengan menunjukkan surat pengantar yang ada di tangannya.


"Iya benar, itu nama anak Emak dan alamatnya juga pas, tapi apa mungkin Zero membeli motor?"


"Sebentar ya Mak! Saya telephone dulu, ini ada nomor ponsel Mas Zero."


Karyawan dealer motor itupun segera menghubungi nomor ponsel Zero yang tertera dalam kuitansi pembelian. Zero yang melihat nomor asing menghubunginya segera mengangkatnya.


"Hallo Mas, ini kami sedang mengantar motor ke rumah, tapi emak Mas Zero ragu, beliau minta kami untuk menghubungi Mas Zero dulu."


"Baiklah Mas, kami tunggu ya!"


Setelah panggilan terputus, Zero pun berkata kepada Zeya, "Kamu tunggu di sini dulu ya, sampai mobil pickup tadi keluar, aku akan menemui emak. Motor tadi aku beli buat Kiara, emak tidak percaya jika motor itu aku yang membeli makanya pihak dealer belum berani menyerahkan unitnya."


"Jadi motor yang di atas pickup tadi punya Kak Zero?"


Zero pun mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam gang menuju rumahnya.


Melihat Zero tiba, Mak Salmah pun mendekatinya sambil bertanya, "Ro, itu motor siapa? Apa benar kamu yang membelinya?"


Zero mengangguk, lalu meminta bukti pengiriman dan menandatanganinya.


"Tapi uang dari mana Ro? Bukankah kamu juga baru membeli motor yang di pakai oleh Togar?" tanya emak yang masih penasaran.


"Nanti Zero jelaskan ya Mak, kita selesaikan urusan pengantaran ini dulu biar mereka bisa cepat balik ke dealer, soalnya mobil Zeya tidak bisa masuk, dia sedang menunggu di ujung gang."


Emak pun terdiam, beliau membiarkan Zero menyelesaikan semua urusan. Setelah selesai, karyawan dealer pun pamit, lalu Zero menelephone Zeya agar membawa mobilnya masuk ke pekarangan rumahnya.


Emak yang makin penasaran mengikuti Zero yang sedang melihat sepeda motornya, lalu berkata, "Ro, darimana sebenarnya kamu mendapatkan uang Nak?" Mak tahu, harga kedua motor ini bukanlah murah!"


"Mak, ada donatur yang membantu aku dan sebentar lagi aku juga bakal bekerja, mengerjakan proyek di perkampungan kita ini bersama Zeya dan pengawal pribadi Kakaknya. Mak jangan khawatir, anak Emak ini bakal memiliki penghasilan lebih banyak."


"Tapi katamu mau kuliah? Kenapa sekarang malah mau bekerja?"


"Keduanya Mak, yang terpenting aku harus bisa membagi waktu untuk belajar dan bekerja."


Belum selesai Zero menjelaskan kepada Mak Salmah, Zeya pun datang menghampiri mereka hingga membuat Mak Salmah untuk sementara menyimpan berbagai pertanyaan untuk Zero yang masih mengganggu pikirannya.