SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 109. TURUT BERDUKA CITA


Zero dan Vano pun berangkat ke rumah Alena setelah pamit kepada emak dan Kiara. Di dalam mobil Vano, Zero lebih banyak diam, wajah kedua gadis yang sangat berarti dalam hidupnya silih berganti berseliweran di dalam benaknya.


Sifat kedua gadis itu sangat bertolak belakang tapi entah mengapa, Zero bisa mencintai keduanya.


Bohong rasanya jika Zero mengatakan tidak mencintai Alena lagi, karena kenangan cinta pertama bagi sebagian orang memang sulit untuk dilupakan.


Dan bohong juga jika dia mengatakan tidak mencintai Zeya, buktinya selama ini dia merasa nyaman ada di dekat gadis itu.


Melihat Zero yang sejak tadi hanya melamun, Vano pun menepuk pundaknya, "Hey...apa yang kamu pikirkan Ro? Kamu beruntung, dicintai dua gadis hebat. Keduanya sama-sama baik, cantik dan yang pasti memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing."


"Iya Van...kamu benar. Aku pikir tidak akan pernah lagi mencintai gadis lain, setalah Alena. Ternyata keceriaan dan kepedulian Zeya mampu membuka hatiku kembali."


Mobil Vano sudah memasuki pekarangan rumah Alena, terlihat di sana para tetangga laki-laki membantu mempersiapkan tempat bagi para pentakziah. Ada yang sedang memasang tenda, menyusun kursi dan mengembangkan tikar.


Sementara para wanita membantu Alena mempersiapkan kebutuhan untuk penyelenggaraan jenazah besok pagi.


Alena duduk bersandar di sisi jenazah setelah sadar dari pingsan, dengan ditemani oleh dua orang sahabat wanitanya yang tinggal di sekitar rumah.


Tubuh Alena pun saat ini masih terlihat sangat lemah, matanya membengkak karena kebanyakan menangis.


Namun, Alena harus terus menguatkan hati, berusaha tegar. Dengan air mata yang tak henti menetes, Alena dengan ditemani oleh kedua teman wanita yang tinggal di sekitar rumah, mulai mengaji untuk mendoakan almarhumah ibunya.


Ketika melihat Vano dan Zero masuk, kedua teman Alena beringsut ke dapur.


Mereka hendak membantu para ibu menyiapkan teh di dapur, untuk para tetangga yang ikut begadang menemani Alena malam ini hingga pagi.


Zero dan Vano duduk, menunggu sambil mendengarkan Alena yang sedang mengaji. Setelah Alena menyelesaikan kajiannya, Zero dan Vano baru mendekat.


Kemudian Zero pub berkata, "Al...aku turut berdukacita ya, atas berpulangnya Ibu. Kamu yang sabar, ikhlaskan beliau supaya tenang di sana. Cepat atau lambat kita semua juga pasti bakal kembali, hanya tinggal menunggu giliran saja," ucap Zero yang berusaha menguatkan Alena sembari mengulurkan tangannya.


Alena yang tidak menyadari akan kedatangan Zero pun mendongak, saat mendengar suara orang yang tidak asing baginya.


Dia terkejut dan tidak menyangka jika Zero masih mau berbicara dan datang ke rumahnya setelah kejadian saat itu.


Tanpa bisa berkata apa-apa, Alena yang masih merasa malu dan merasa bersalah, lalu menyambut uluran tangan Zero dengan tertunduk.


Zero bisa merasakan tubuh Alena bergetar, karena sedang berusaha menahan isak tangis.


Dia tahu, Alena berusaha tegar, menyembunyikan luka hati dan perasaan sedih di hadapannya.


Melihat keadaan Alena yang seperti itu, entah mengapa, hati Zero sakit, rasanya dia ingin memeluk, meminjamkan pundak dan memberikan kekuatan agar gadis yang ternyata namanya masih tinggal dihatiya itu, bisa bersandar serta menumpahkan tangisnya di sana.


Namun, Zero pun sadar, dia bukan siapa-siapanya Alena lagi. Alena saat ini sudah memiliki bahu Vano untuk tempatnya bersandar.


Vano yang melihat hal itu, segera bergegas keluar, dia ingin memberikan kesempatan kepada keduanya untuk berbicara. Karena Vano tahu, kekuatan terbesar Alena selain kehadiran ayahnya untuk saat ini adalah kehadiran Zero, bukan dirinya.


Untuk memecah kesunyian diantara keduanya, kemudian Zero pun berkata, "Menangislah Al, jangan kamu tahan, menangislah sepuasnya, asal jangan meratap agar dadamu tidak terasa sesak. Aku bisa merasakan kesedihanmu, karena aku juga hanya memiliki orang tua tunggal seperti dirimu sekarang."


Akhirnya, tangis Alena pun pecah, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Zero segera mengambil sapu tangan dari dalam tas, lalu memberanikan diri, menurunkan tangan Alena dan mengelap pipinya dengan saputangan tersebut.


Seperti tersiram seember air es, jantung keduanya berdegup kencang, saat tangan itu saling bersentuhan cukup lama.


Vano yang baru saja kembali duduk di sisi mereka, segera berdehem, hingga mengagetkan keduanya dan menarik tangannya masing-masing.


"Maafkan aku! Maaf Al, maaf Ro... Akulah alasan dan penyebab putusnya hubungan kalian dan hari ini, aku janji akan membuat kalian bersatu kembali. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kalian," ucap Vano sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Van...sudah pernah kubilang 'kan! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, hubungan kami sudah berakhir, lagipula sekarang hati Kak Zero sudah milik wanita lain. Aku tidak mau menyakiti hati kekasihnya itu dengan membuat hubungan mereka berantakan," ucap Alena.


Sejenak dia terdiam, lalu Alena kembali berucap, "Terimakasih Van, kamu sudah susah payah membantuku, kamu sudah membawa Kak Zero kemari, terimakasih untuk kalian berdua yang sudah peduli kepadaku, tapi maaf, aku mohon... biarkan aku sendiri. Pulanglah Van, pulanglah Kak, hari sudah sangat larut, pasti orangtua kalian sudah menunggu kepulangan anak-anaknya."


Selamat malam sobat, rekomendasi karya malam ini adalah novel dari Kak Neza Ageha, silahkan mampir yuk dan jangan lupa ya, beri dukungannya juga di sana. Terimakasih πŸ™β™₯️


BLURB KARYA :




Seorang bayi perempuan dibuang dan beruntung di adopsi oleh keluarga yang baik hati.



Nama gadis itu Kasih, dia tumbuh dengan baik dan menjadi gadis tercantik di desanya, namun naas saat berusia 17 tahun ada insiden penyiraman air keras yang mengakibatkan wajahnya rusak.



Entah ini berkat atau kesialan, tetapi secara tak terduga dia malah menemukan fakta yang membuatnya mengubah tujuan hidupnya.



Kasih bukanlah bayi yang sengaja di buang. insiden tragis di masa lalu menjadi penyebab meninggalnya orangtuanya juga terpisahnya dia dari saudara kandungnya.



Mampukah Kasih melawan para serigala dan rubah licik yang siap menerkam hidup dia juga saudaranya? Bagaimana caranya pulang? Apakah keluarganya masih mengenali dia dengan wajah baru?



Salam Cinta,


Nezha Ageha



![](contribute/fiction/4470767/markdown/24522111/1653843213763.jpg)