SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 46. RENCANA SETELAH TAMAT SEKOLAH


"Banyak penumpang hari ini Mang?"


"Lumayan, asal jangan BBM naik lagi Ro! Menghempas kami dan para supir. Jika ongkos di naikkan, penumpang jadi malas 'kan, mereka milih naik motor atau jalan kaki."


"Betul Mang, perekonomian sudah parah makin bertambah parah."


"Keadaan Emak bagaimana, kok tidak tampak pergi ke dokter lagi? Mamang sekarang sering mencari penumpang ke arah sana Ro, lumayan buat tambahan."


"Alhamdulillah Mang, Emak lebih sehat sekarang. Apalagi sekarang di rumah ramai, Emak jadi nggak kesepian lagi."


"Mamang salut Ro lihat Mak mu, walau dia sejak dulu sakit-sakitan tapi dia tak surut berjuang demi menyekolahkanmu. Sebentar lagi kamu tamat SMA 'kan Ro?"


"Iya Mang, lusa kami ujian akhir. Aku bersyukur Mang punya orangtua seperti Emak, cara berpikir Emak tidak kolot, emak selalu mengutamakan pendidikanku daripada kebutuhannya sendiri."


"Apa rencanamu setelah lulus Ro? Apa kamu seperti anak-anak lain, setelah lulus sekolah pergi merantau, mengadu nasib ke kota atau bahkan ke luar negeri menjadi TKI?"


"Nggak Mang, insyaallah aku akan kuliah, memperdalam ilmu merakit alat-alat elektronik. Jika Allah mengizinkan, aku akan membuka usaha sendiri yang bisa mempekerjakan orang-orang di sekitar sini Mang. Oh ya, anak Mamang kelas berapa?"


"Yang sulung, tahun ini naik kelas 3 SMA, sementara si bungsu tamat SMP."


"Wah...berat juga ya Mang. Oh ya Mang, keduanya cowok kan?"


"Iya, kepingin sih nambah, biar dapat cewek, tapi pikir-pikir, ntar berat nyekolahkannya, Mamang pun sudah semakin tua. Ya di syukuri saja, toh nanti bakal dapat cewek juga, Mudah-mudahan dapat menantu yang baik."


"Aamiin... Mang, itu juga yang selalu Mak harapkan. Oh ya Mang, teman-teman ku ada rencana ingin melatih remaja kampung kita dalam hal ilmu beladiri, nanti adik-adik beritahu ya Mang untuk ikut, gratis kok pelatihannya. Aku juga nanti di sana ikut mengawasi dan membimbing mereka. Mamang sudah dengar isu atau belum, bahwa sebuah perusahaan besar akan menggusur perkampungan kita ini untuk pembangunan properti? Kita jangan tinggal diam Mang, bagaimana nasib kita nanti jika kita hanya pasrah."


"Iya Ro, Mamang dengar isu itu. Bahkan Mamang pernah lihat beberapa orang asing dengan gelagat mencurigakan memperhatikan lahan-lahan kita."


"Nah itu yang perlu kita jaga Mang, mau kemana warga, jika tempat ini di gusur. Jika ganti rugi setimpal pasti aman, tapi seringkali rugi dan nggak bisa untuk beli lahan lagi, apalagi untuk bangun rumah."


"Iya Ro, nanti Mamang sampaikan ke mereka, selagi kegiatan itu positif untuk, Mamang dukung, Mamang tidak merasa keberatan. Minimal dengan pelatihab itu, mereka nanti bisa melindungi diri sendiri, ya syukur-syukur bisa melindungi seluruh keluarga."


"Ngomong-ngomong kita sudah sampai ya Mang, sebentar aku minta bantuan Togar dan Beni untuk menurunkan belanjaan."


Belum Zero turun dari betor, Togar dan Beni sudah muncul, lalu mereka membantu menurunkan barang belanjaan Zero. Emak dan yang lain membantu membawanya ke dapur.


"Banyak amat belanjanya Ro?" tanya Emak.


"Buat stok Mak, jadi Kakak dan Kiara tidak kesusahan lagi belanja, tinggal masak saja."


"Silahkan masuk Mang, minum dulu," pinta Emak.


"Terimakasih Mak, mau balik, cari satu trip lagi, biar dapat target, maklum demi anak sekolah, Mak."


"Ini Mang, sisanya buat keperluan sekolah adik-adik," ucap Zero yang menyerah sejumlah uang.


"Banyak amat Ro, Mamang jadi segan, kamu selalu melebihkan setiap memakai jasa Mamang."


"Nggak apa-apa Mang, berbagi rezeki, biar nanti rezeki kita di tambah lagi sama Allah."


"Aamiin...Sama-sama Mang."


Setelah Mang Adi pergi, Zero dan yang lainnya pun masuk ke rumah. Ternyata Togar dan Beni sedang main catur sambil menunggu Zero pulang.


"Teruskan saja Bang, aku juga suka kok main catur, nanti malam aku tantang kalian ya! Siapa yang kalah besok mulai putari kampung, untuk mengawasi apa benar sudah ada pihak properti yang mulai mengusik kampung kita ini."


"Apa Ro! Memangnya ada yang ingin mengusik kampung kita?" tanya Emak.


"Iya Mak, makanya kami akan melatih warga agar kita bisa membela diri dan sekaligus waspada. Jangan sampai mereka mengakali kita sebagai orang kecil."


"Biasanya ada campur tangan orang-orang pemerintahan kalau seperti ini Dek!" ucap Beni.


"Iya Bang, kalau tidak mana berani mereka."


"Aku mau mandi dulu ya Bang, Abang teruskan saja main caturnya."


Saat Zero hendak ke kamar mengambil pakaiannya, Kiara muncul dari dapur, lalu berkata, "Dek... terimakasih ya sudah belikan Kakak ponsel, ini pasti mahal."


Zero pun mengangguk lalu berkata, "Enggak mahal kok Kak, kebetulan tadi lagi ada promo jadi beli dua sekalian."


"Kakak boleh gunain ponsel ini untuk jualan online Dek? Aku dan Kak Zeni kan bisa buat makanan atau keterampilan lain, jadi bisa kami pasarkan lewat online."


"Terserah Kak, yang penting kegiatan itu positif, aku selalu dukung. Nanti kita cari kenderaan satu lagi jadi bisa buat jasa antar."


"Wah... emansipasi wanita ini nampaknya, suami pengangguran, istri buka usaha," ucap Togar sambil tertawa menggoda istrinya.


"Abang 'kan, bukan pengangguran. Abang bantu Dek Zero selesaikan kasus. Ini kami lakukan daripada bengong di rumah lho Bang," jawab Zeni.


"Iya, Abang tahu. Abang hanya bercanda kok. Kami sedang berusaha membantu menyelesaikan kasus berat, bantu doa ya Dek, supaya kasus ini cepat selesai."


"Ayo Gar, giliranmu main!" seru Bang Beni.


Sementara Emak yang belakangan ini melihat Zero royal terhadap uang merasa curiga. Emak heran, darimana Zero mendapatkan banyak uang, sementara Emak tahu berapa penghasilan dari mulung.


Kecurigaannya semakin bertambah saat Kiara di belikan ponsel dan Zero belanja sangat banyak, baik sembako yang di bawa pulang oleh Togar maupun belanjaan yang di bawa oleh Zero sendiri.


Saking penasarannya, emak menarik Zero yang hendak masuk ke kamar mandi, lalu mengajaknya ke kamar emak.


Mak Salmah ingin menginterogasi Zero tentang masalah yang beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya. Beliau takut Zero terlibat bisnis yang kotor hingga bisa menghasilkan uang dengan cepat dan banyak.


Emak tidak mau makan uang haram, beliau lebih memilih hidup miskin ketimbang melihat Zero ujungnya masuk penjara.


"Tunggu Mak! Ada apa Emak menarikku kesini? Aku mau mandi lho Mak," ucap Zero.


Sebenarnya Zero tahu kenapa emak menariknya ke kamar, tapi Zero pura-pura saja bingung, padahal dia lagi mikir jawaban apa yang pas akan dia berikan atas pertanyaan emak nanti.


Zero belum bisa jujur ke emak untuk saat ini, tapi dia janji suatu saat nanti, dia pasti akan mengatakan kebenarannya tentang sistem kekayaan ini kepada Mak Salmah.