SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 71. ROYAN TERPURUK


Zeya tidak bisa menahan tawanya, melihat ulah sang Kakak, lalu dia mengambil bubur ayam dari tangan Royan dan melahapnya sampai habis, tanpa menyisakan sedikitpun guna membalas perbuatan sang Kakak tadi.


Alhasil, perut Zeya kekenyangan dan dia kesusahan untuk berlari kembali.


Royan yang melihat sang adik susah untuk berdiri, lalu berkata, "Ya sudah kita istirahat dulu disini, sambil menunggu jam yang ditentukan oleh Nayla untuk menghubunginya," ucap Royan.


"Eh...iya Kak, setengah jam lagi Kakak harus menelephone Kak Nayla, semangat ya Kak!" hibur Zeya.




Di rumah sakit pinggiran kota.



Nayla saat ini sedang menangis sendirian di depan ruang ICU karena Abahnya kembali terkena serangan jantung.



Dia bingung harus berbuat apa, mau mengadu pun, tidak ada tempatnya lagi buat mengadu selain kepada sang pencipta.



Keluarga ayah Nayla semua tinggal di luar negeri, sedangkan keluarga almarhum ibunya, menjauh setelah ibunya wafat.



Hati Nayla kini sedang rapuh, dia takut kehilangan orangtua yang tinggal satu-satunya itu, hingga membuatnya tidak mau beranjak sedetikpun dari depan ruangan ICU.



Sudah tiga jam lebih ayah Nayla berada di dalam sana, tapi satu dokter maupun seorang perawat pun belum ada yang keluar dari tempat itu untuk dimintai penjelasan tentang kondisi sang ayah. Hal ini membuat Nayla lupa dengan janjinya.



Waktu pun terus berlalu, dokter akhirnya memberitahu bahwa ayah Nayla koma dan belum melewati masa kritis. Nayla terus saja menangis dan tidak mau meninggalkan tempat itu dengan di temani oleh salah satu keluarga pasien yang adiknya juga sedang di rawat di ICU.



Sementara Royan yang masih berada di taman bersama Zeya, terus saja mencoba menelephone Nayla tapi hanya suara mesin penjawab yang meminta agar siapapun yang menelephone agar meninggalkan pesan.



Royan resah, hatinya gelisah, dia kecewa, sedih dan sakit, hingga akhirnya hanya pasrah, mungkin memang cintanya harus berakhir seperti ini.



Dalam hatinya, Royan sangat menyesal, karena tindakannya saat itu telah membuat Abah terkena serangan jantung dan telah menyakiti hati serta raga Nayla.



Mungkin inilah balasan Nayla untuknya memberikan harapan, lalu menghempaskannya hingga terjatuh dan tidak memiliki harapan lagi.



Zeya juga sudah mencoba berulang-ulang menelephone Nayla tapi tetap saja tidak tersambung. Bahkan Zeya menelephone temannya yang waktu itu memberikan info tentang keberadaan Nayla agar kembali menemui Nayla untuk mendapatkan jawaban kenapa sampai Nayla ingkar janji tapi sayang teman Zeya saat ini sedang ikut orangtuanya pergi keluar daerah.



Royan akhirnya memutuskan untuk mengajak Zeya pulang karena sebentar lagi dia akan bertemu Zero sesuai yang dia janjikan tadi malam.



Zeya sedih melihat wajah sang Kakak yang kusut tidak bersemangat, wajah yang tadi pagi tersenyum ceria, kini senyum itu sudah hilang dari sana.



"Ayo Dek, kita pulang! Kasihan nanti Zero kelamaan menunggu Kakak."



"Aku ikut ya Kak!"



"Jangan! Biar Kakak pergi sendiri. Nanti setelah menemui Zero, ada yang akan kakak bicarakan secara pribadi denganmu."



"Kakak sedang dalam kondisi seperti ini, aku takut nanti Kakak kenapa-kenapa di jalan."



"Jangan khawatir adikku, justru Kakak yang khawatir sama kamu, nggak bisa nahan diri jika bertemu Zero," ucap Royan yang berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya.



Mereka tiba kembali di Villa, Royan langsung masuk ke kamarnya, lalu bersiap untuk pergi menemui Zero di tempat yang telah dia janjikan.



Royan pun mengendarai mobilnya menuju ke restoran garuda yang dekat dari pasar, ternyata di sana Zero sudah menunggu.



"Sudah dari tadi Dek?" tanya Royan.



"Belum kok Kak, baru juga sampai, tadi angkot padat jadi nunggu angkot berikutnya yang lewat."




Setelah mereka duduk, Royan pun memesan makanan dan minuman, dia tahu Zero pasti lapar, karena baru pulang dari sekolah.



Kini hidangan telah tersaji, Royan mempersilakan Zero untuk menikmatinya.



"Ayo Dek, kita makan dulu, setelah makan baru kita bicara," ajak Royan.



Mereka pun makan, tapi selera makan Royan hilang karena masalah Nayla, dia hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Hal ini membuat Zero heran, lalu dia memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf Kak, Kakak sedang ada masalah ya? Kenapa Kakak tidak makan? Jika Kakak butuh teman untuk berbicara, ayo kita ketempat yang tenang, aku siap mendengarkan cerita Kakak, barangkali nanti aku bisa membantu memecahkan masalah Kakak."



"Nggak ada apa-apa kok Dek, Kakak hanya lelah saja dan belum berselera untuk makan."



"Aku juga belum lapar Kak, ayo kita ngobrol dulu di sana, tempat itu kurasa lebih nyaman buat ngobrol, kita bilang saja ke pelayanan untuk menutupi makanan kita dulu dan nanti kita kembali lagi kesini."



"Begitu juga boleh Dek, ayo kita temui pelayan."



Setelah menemui pelayan dan memberitahukan tentang makanan yang akan mereka tinggal dulu, Zero dan Royan pun pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Zero tadi.



Di sana mereka bisa lebih santai, dengan semilir angin yang mulai datang menggoyangkan dedaunan pohon dimana keduanya sekarang duduk.



"Apa yang ingin Kakak sampaikan aku siap mendengarkan," ucap Zero yang membuka percakapan.



"Begini Dek, mengenai penggusuran kampung kalian aku batalkan, tapi aku ingin membuat tempat itu sesuai dengan impianmu, jadi mereka akan bisa tetap tinggal di tempat yang aku bangun. Cuma permintaanku, perkampungan itu akan aku ganti nama dengan Graha Nayla Asri dan aku akan membangun pusat perbelanjaan serta taman bermain di lahan sekitar kampungmu, karena permohonanku tentang pembelian lahan tersebut telah disetujui oleh pemiliknya. Mengenai pembangunan sekolah seperti yang kamu inginkan, aku setuju, tapi aku mohon bantuanmu untuk mengawasi proyek ini. Proyek ini akan kalian tangani bertiga, Kamu, Zeya dan dibantu oleh Franky pengawal pribadiku."



"Lho...kenapa nggak Kakak saja yang pegang proyek ini, aku tidak ada pengalaman dibidang pembangunan Kak?"



"Kakak harus pergi dan belum tahu kapan bisa kembali," ucap Royan yang terdengar suaranya sedikit bergetar.



"Memangnya Kakak mau kemana?"



"Mau keluar negeri Dek, merintis bisnis di sana sekaligus untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku sekalian mau minta tolong, jagakan Zeya ya, selama aku pergi. Zeya tidak punya siapa-siapa lagi untuk tempatnya mengadu dan bersandar selain aku, jadi aku mohon jagalah Zeya, dia mencintaimu Dek dan aku yakin kamulah orang yang bisa membahagiakan dia selain aku."



"Zeya sudah tahu jika Kakak akan pergi?"



Royan menggeleng, lalu dia berkata lagi, "Sepulang dari sini aku akan memberitahu dia. Mengenai berkas-berkas semua bisnis sudah aku serahkan kepada Franky dan semua dana yang di perlukan ada di dalam sini, kamu tolong pegang black card ini. Belajarlah kalian dengan Franky, dia pasti akan membimbing kalian, aku yakin kalian pasti bisa berhasil mewujudkan proyek itu," ucap Royan sambil menyerahkan black card ke tangan Zero.



"Kapan Kak Royan akan berangkat?"



"Besok pagi dengan pesawat penerbangan pertama."



"Kenapa terburu-buru Kak, aku takut Zeya sedih, dengan kepergian Kakak yang mendadak ini," ucap Zero yang berusaha agar Royan menunda kepergiannya karena dia ingin menyelidiki dulu sebenarnya apa yang terjadi dengan Royan hingga dia harus pergi keluar negeri dengan sangat terburu-buru.



"Nggak apa-apa Dek, nanti Zeya juga terbiasa dan dia akan lupa denganku karena ada kamu yang selalu ada bersamanya," ucap Royan sambil tersenyum.



"Baiklah Kak, aku akan belajar menjalankan amanah dari Kakak, tapi aku mohon, izinkan aku untuk menelephone Kakak sewaktu-waktu, jika aku ingin bertukar pikiran tentang proyek ataupun masalah lain."



"Oke Dek, silahkan...dengan senang hati aku bersedia membantu. Besok aku bisa berangkat dengan tenang, setelah menyerahkan semua tanggungjawab kepadamu. Ayo...sekarang kita makan dulu, nanti aku antar kamu pulang sekalian aku ingin mengenal emak yang baik, seperti yang Zeya ceritain ke aku."



"Ah...Zeya terlalu melebih-lebihkan cerita itu Kak, emak juga cerewet kok seperti emak-emak lain."



Keduanya pun kembali ke dalam resto, lalu menikmati makan siang yang sempat tertunda. Setelah itu Royan pun mengantar Zero pulang seperti janjinya.