
"Sabar dong Kak!" ucap Zeya tanpa menyurutkan senyumnya.
Zeya tahu sejak kepergian Nayla hidup sang Kakak tidak bahagia, Royan sering mengurung diri di kamar dan gila kerja. Bahkan dia sering mengacuhkan Zeya, tatkala Zeya mengunjungi Royan di kediamannya.
Melihat keseharian sang Kakak seperti itu, membuat hati Zeya sedih, dengan segala upaya, dia berusaha mencari keberadaan Nayla.
Zeya membayar detektif dan dia juga meminta bantuan dari teman-temannya dengan cara membagikan foto Nayla lewat handphone kepada mereka. Jika mereka melihat Nayla, agar segera menghubunginya.
Ternyata cara Zeya berhasil, salah satu temannya yang tinggal di luar daerah, bertemu Nayla di salah satu rumah sakit di pinggiran kota. Nayla sengaja memindahkan perawatan Abahnya di sana agar jauh dari kekuasaan dan pantauan Royan.
Saat Zeya mendapatkan pesan dari temannya itu, dia langsung berangkat untuk menemui Nayla di rumah sakit. Nayla sangat terkejut, saat melihat Zeya sedang ngobrol dengan Abahnya di ruang perawatan.
Zeya menjelaskan kepada Nayla tentang semuanya dan tentang perubahan sikap Royan. Awalnya Nayla tidak percaya, tapi Zeya berjanji akan memberikan bukti tentang omongannya.
Melihat Zeya terdiam, Royan pun menarik kembali pipi sang adik sambil berkata, "Ayo, cepat dong Dek? Kakak harus bertemu dengan Kak Nayla dan Abah. Kakak sangat bersalah kepada mereka, jadi Kakak harus segera meminta maaf."
"Tunggu Kak! Biar aku kirim dulu, rekaman ini kepada Kak Nayla, agar dia percaya bahwa Kakak mau berubah. Jika Kak Nayla nanti percaya dan mengizinkan aku untuk memberikan alamatnya kepada Kakak, barulah aku beritahu. Jika tidak, aku mohon maaf Kak, aku tidak berani melanggar janji. Itu sudah kesepakatan antara aku dan Kak Nayla," ucap Zeya.
Royan menepuk keningnya sendiri, perasaan was-was kini hinggap di hatinya, dia tidak sabar, tapi dia juga tidak bisa memaksa adiknya. Dia tahu betul bagaimana Zeya, jika Zeya sudah berjanji, maka dia tidak akan mau mengingkarinya.
Di rumah sakit, di pinggiran kota.
Nayla sedang menyuapi Abah, saat mendengar ponselnya berdenting, tanda ada pesan masuk. Dia menyelesaikan dulu tugasnya, barulah membuka ponsel untuk melihat pesan yang masuk.
Disana terlihat ada beberapa pesan dari Zeya. Kemudian Nayla pun membukanya satu persatu.
Dalam pesan keduanya, Zeya sangat memohon dan mengatakan akan melakukan apapun yang Nayla minta, asalkan itu bisa mengembalikan kebahagiaan Royan.
Dan dipesan terakhirnya, Zeya pun berkata, Royan adalah hidupnya, Royan adalah kebahagiaannya, Royan adalah Mama sekaligus Papa baginya. Zeya sanggup menukar apapun demi mengembalikan kebahagiaan sang Kakak, sekalipun dia harus pergi jauh dan selamanya tidak akan pernah memunculkan dirinya lagi di hadapan Royan dan juga Nayla.
Setelah membaca pesan itu, Nayla jadi merasa bersalah, dulu dia pernah cemburu, tidak suka melihat sikap Zeya terhadap Royan, apalagi setelah kenal dengan Mama Shena yang memang tidak menyukai Royan maupun dirinya. Hal itu membuat Nayla tambah tidak menyukai Zeya.
Nayla pun meneteskan air mata, sebelum menutup ponselnya, dia memutar rekaman yang dikirim oleh Zeya.
Di sana dia melihat kesungguhan Royan yang ingin berubah menjadi orang baik, dengan meninggalkan pekerjaan kotor dan berjanji akan memperbaiki diri, demi sang pencipta dan juga demi dirinya.
Abah yang melihat putrinya menangis pun berkata, "Ada apa Nay? pesan dari siapa? Apakah dari Royan?"
Nayla kaget, lalu buru-buru dia menghapus air matanya dan berkata, "Bukan kok Bah, bukan dari Royan," ucap Nayla.
"Bukan dari Royan tapi pasti ada hubungannya dengan Royan 'kan? Kamu jangan bohong kepada Abah, Abah tahu, kamu sebenarnya sangat mencintai Royan dan sedih berpisah dengannya."
Nayla tidak bisa membantah ucapan Abah, karena semua yang dikatakan beliau memang benar.
Kemudian Nayla menyerahkan ponselnya kepada Abah, agar Abah bisa melihat rekaman yang Zeya kirim.
Abah pun membaca pesan dari Zeya serta melihat rekaman percakapan antara Zeya dan Royan. Setelah selesai, Abah mengembalikan ponsel itu kepada Nayla sambil berkata, "Berilah dia kesempatan, Abah lihat ada kesungguhan dalam diri dan ucapan Royan di sana. Abah tahu dia juga mencintaimu, hanya saja kehidupannya yang keras sejak kecil telah membuat dirinya arogan dan posesif terhadapmu. Dia berjanji 'kan akan memperbaiki dirinya," ucap Abah.
"Iya Bah, tapi Nay ingin memantapkan hati dulu Bah, sebelum mengambil keputusan. Nay ingin meminta petunjuk dulu dari Allah nanti malam, barulah besok Nay akan beri keputusan kepada Royan.
Abah pun mengangguk setuju, lalu Abah berkata, "Makanlah dulu Nay, nanti kamu sakit. Abah lihat sejak pagi, kamu belum makan apapun.
"Iya Bah."
Sebelum makan, Nayla terlebih dahulu membalas pesan dari Zeya bahwa besok pagi dia akan memberi keputusan kepada Royan. Nayla akan mengaktifkan ponselnya besok jam 9 pagi, agar Royan bisa menghubunginya.