
"Kak, tunggu! kenapa Kakak selalu menuruti permintaan mama. Kakak nggak boleh mengalah terus, sejak dulu kakak dan mama Ambar selalu di tindas. Kita harus berbuat sesuatu kak!" ucap Zeya sambil berlari mensejajarkan langkahnya dengan Royan.
"Sudahlah Dek, biarkan saja. Mama Shena tidak akan berhenti sebelum kami hancur!" ucap Royan.
Royan memang bermaksud menyerahkan semuanya agar hidup kedepan lebih tenang. Setelah selesai Royan akan pergi jauh, membawa mamanya dan juga keluarga Nayla untuk memulai hidup yang baru di kota lain.
"Pokoknya aku nggak setuju jika mama menguasai semua, kalau kakak nggak mau bertindak, aku yang akan mencegah mama."
"Jangan Dek! Nanti mama Shena mencelakai mamaku. Mamaku sudah cukup menderita, aku tidak mau lagi melihat beliau di sakiti."
"Kak, maaf aku terpaksa ikut campur, yang dikatakan oleh Zeya benar. Kita tidak bisa membiarkan Mama Shena bertindak seperti ini terus. Aku janji Kak akan membantu dan aku janji tidak akan membuat mama kakak terluka," ucap Zero.
"Terimakasih Ro, kamu berkenan mau membantuku. Pesanku Ro, kartu black card yang kutitipkan padamu jangan sampai jatuh ke tangan Mama. Pergunakanlah uang yang ada di dalamnya untuk menyelesaikan proyek kita."
"Ini Kak! kartunya ada padaku, waktu itu kak Zero menitipkannya padaku," ucap Zeya sembari mengeluarkan cartu black card milik Royan dari dalam dompetnya.
"Kalian peganglah, itu isinya cukup untuk membiayai pembangunan hingga selesai. Aturlah...kakak serahkan tanggung jawab sepenuhnya proyek tersebut kepada kalian."
"Sebaiknya kak Zero yang pegang, karena bahaya jika sampai ketahuan mama, kartu itu ada dalam dompetku," ucap Zeya.
"Iya, Zeya benar Ro. Kamu yang harus pegang," ucap Royan.
"Tapi Kak...aku tidak mau ada prasangka buruk nantinya," ucap Zero lagi.
"Nggak Kak, aku tahu uang kak Zero sebenarnya lebih banyak ketimbang uang yang ada di dalam sini 'kan? Tapi Kak Zero saja yang belum mau menggunakannya untuk kepentingan pribadi," ucap Zeya terang-terangan.
"Kamu sok tahu Zey. Mana mungkin uangku sebanyak itu, aku hanya seorang pemulung," Zero berusaha berkilah di depan Royan.
"Benar pemulung, pemulung yang dermawan dan sebenarnya kata raya."
"Jangan dengarkan omongan Zeya kak, dia asal ngomong."
"Kalau iya juga nggak apa-apa Ro, toh kamu nggak pernah menyusahkan orang lain, malah banyak orang yang telah kamu bantu. Tapi ingat Ro, bahagiakan juga diri sendiri, jangan orang lain terus yang kamu pikirkan," nasehat Royan.
"Iya Kak, terimakasih atas nasehatnya."
"Ayo kita pulang! Nanti emak dan Kiara mencari-cari kita," ajak Royan.
Kemudian mereka meninggalkan rumah kediaman Shena, kembali pulang ke rumah Royan.
Sesampainya di rumah, Royan langsung masuk ke kamarnya dan menelepon pengacara untuk mengurus surat menyurat tentang balik nama seluruh hartanya ke tangan Shena.
Pengacara merasa heran dan dia memberi nasehat kepada Royan agar jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Royan sekali lagi berkata, agar pengacara segera mengerjakannya dan tidak perlu banyak pertanyaan.
Zeya yang merasa tidak tenang dengan keputusan Royan, mengajak Zero untuk mencari jalan keluar tentang masalah tersebut.
"Kak...pokoknya kita harus menggagalkan rencana mama, kita harus cepat, karena aku tahu watak kak Royan, pasti hari ini juga dia sudah menghubungi pengacara. Kak Royan tidak pernah bertele-tele dalam mengurus sesuatu hal," ucap Zeya kepada Zero.
"Begini saja, malam ini kita menyelinap ke tempat Mama Ambar di tahan. Kita harus membebaskan mereka agar mama Shena tidak punya senjata lagi untuk menekan Kak Royan," ucap Royan.
"Setuju! Tapi bagaimana kita akan keluar dari sini Kak, jika aku menghidupkan mesin mobil, pasti bakal ketahuan oleh kak Royan jika kita pergi."
"Pingsan Kak! belum sampai tempatnya kita sudah kelelahan," ucap Zeya.
"Kamu percaya aku 'kan? Kamu saja percaya, jika uangku banyak, masa kamu tidak bisa percaya jika kita pasti sanggup pergi kesana tanpa kenderaan."
"Terserah Kak Zero deh! aku nurut saja, yang penting malam ini kita harus bisa membebaskan Mama Ambar," ucap Zeya.
"Tapi kita harus tunggu emak dan Kak Kiara tidur dulu ya, baru kita menyelinap keluar dari sini!" ucap Zero.
"Siap... laksanakan Kak!" ucap Zeya sambil tertawa.
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak sambil menunggu waktu yang tetap agar bisa menyelinap keluar.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi emak, Kiara maupun Royan masih saja belum tidur.
Emak dan Kiara masih asyik ngobrol sambil menonton televisi, sedangkan Royan fokus dengan laptopnya di ruangan kerja.
Zeya gelisah, dia mondar-mandir hingga menimbulkan kecurigaan emak, "Kamu kenapa Zey? sepertinya kamu sedang gelisah," tanya emak.
"Nggak ada apa-apa Mak! Aku hanya kegerahan saja makanya belum bisa tidur," ucap Zeya.
Kalau begitu kita kembali ke kamar yuk! Emak sudah ngantuk dan mau tidur, besok kita harus bangun pagi, malu 'kan jika tamu bangun kesiangan," ucap Mak Salmah sambil berjalan ke kamar diikuti oleh Kiara.
Lalu Zeya pura-pura datang ke ruang kerja Royan, lalu dia menawarkan secangkir kopi tapi Royan berkata, "Nggak usah Dek, aku sudah selesai dan mau balik ke kamar untuk beristirahat."
"Ya sudah Kak, aku juga mau tidur, selamat malam Kak," ucap Zeya.
Zeya berpura-pura kembali ke kamarnya, saat melihat Royan sudah masuk ke dalam kamar. Lalu Zeya mengendap-ngendap, menuju kamar Zero.
Setelah Zeya mengatakan aman, mereka pun segera keluar rumah, menuju tempat yang Zero lihat dalam terawangannya.
Awalnya mereka berjalan dan berlari normal, tapi saat Zero melihat Zeya sudah kelelahan, barulah dia berkata, "istirahatlah dan pejamkan matamu, aku akan menggendongmu, tapi dengan syarat kamu jangan membuka mata selama dalam gendonganku," ucap Zero.
"Baiklah Kak, aku setuju," ucap Zeya.
Zero yang sudah melihat Zeya memejamkan mata segera memakai rompinya, lalu menggunakan poin kekuatan supernya untuk menggendong Zeya dan berlari seperti angin menuju ke arah tujuan mereka.
Setelah dekat dengan tempat yang mereka tuju, barulah Zero menurunkan Zeya dan memintanya untuk membuka mata.
Zeya yang tadi merasakan dirinya seperti dibawa angin segera berkata, "Wow...keren Kak! Aku merasa seperti kertas yang terbang tertiup angin. Kak Zero hebat," ucap Zeya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Tapi kamu jangan mengatakannya kepada siapapun, nanti orang bisa menganggap kita mengada-ada dan mungkin dianggap gila."
"Siap Kak! aman...jaga rahasia," ucap Zeya sambil memperagakan tangannya memasang plester di mulut."
"Kita sudah dekat dengan lokasi. Sekarang kita cari dulu tempat aman untuk mengintai, nanti saat aku masuk ke dalam, kamu harus berjaga-jaga di luar dan siap membawa Bu Ambar dan Bu Riana pergi ketika aku berhasil membebaskan mereka."
"Beres Kak! Ayo kita laksanakan misi!" ucap Zeya.
Mendengar ucapan Zeya, Zero baru teringat kembali akan misi yang sistem berikan untuknya.