
"Bodoh kamu! bukannya kasih ide bagaimana melawan orang tanpa wujud, malah menakut nakutiku," bentak Shena.
Sisa pengawal yang masih hidup dan ada di sana merasa takut dengan kemarahan Shena. Shena memegang senjata dan menodongkan ke kepala masing masing-masing pengawalnya.
Mantan asisten almarhum Papa Royan yang telah menjadi selingkuhan Shena pun menyadarkannya agar jangan gegabah menghabisi mereka.
Bagaimana pun mereka masih butuh tenaga para pengawal untuk menghadapi musuh tak berwujud.
Shena menurunkan senjatanya, lalu dia dan yang lain memutuskan untuk berjaga di dalam ruangan penyekapan Royan.
Karena Royan tidak bersuara, Zero tidak menduga jika Royan tadi di sekap di samping kamar yang digunakan untuk menyekap Zeya.
Shena dan yang lain pergi ke kamar di mana Royan di sekap, lalu dia meminta para pengawal untuk memindahkan Royan ke tempat penyekapan Zeya.
Kemudian para pengawal itu menuruti perintahnya dan memapah Royan yang sangat lemah ke kamar Zeya.
Zeya yang sedang tidur sangat terkejut melihat orang ramai masuk ke dalam kamarnya, apalagi saat dia melihat siapa yang saat ini sedang tergeletak di lantai.
Dengan histeris Zeya berteriak," Kak Royan! Kakak kenapa sampai seperti ini! Mama kejam! Mama tak punya perasaan, menyiksa kak Royan sampai seperti ini!" teriak Zeya sambil berlari memeluk kakaknya.
Zeya menangis melihat kondisi tubuh Royan yang terdapat banyak luka, lalu dia memegang kedua pipi sang kakak dan berkata, "Kak, kak Royan bangun! Bangun dong Kak, ini aku adikmu. Ayo Kak kita lawan mereka yang sudah begitu kejam menyiksa kakak. Dia bukan mamaku kak, dia musuh kita. Ayo bangunlah Kak!" ucap Zeya sambil mengguncang-guncang tubuh Royan dan tidak henti menangis.
Shena yang melihat dan mendengar perkataan Zeya sangat marah, lalu dia berkata, "Gadis bodoh! Dia bukan kakak kamu tahu! Dia orang asing yang pantas kita singkirkan karena selalu menghalangi jalanku untuk menguasai semuanya. Dan dia juga telah menghancurkan bisnisku! Ayo gadis bodoh, bangunlah, biarkan dia meringkuk di lantai, kamu tidurlah di atas," ucap Mama Shena.
"Tapi dia kakakku, kami satu Papa, Mama tidak bisa memutuskan hubungan darah kami, walaupun Mama tidak suka dengan keberadaan kak Royan. Dia Kakakku Ma, tolong jangan siksa dia! Aku mohon Ma, siksa saja aku dan bebaskan Kak Royan. Dia kakak yang baik Ma, jadi tolong lepaskan dia dan biarkan dia pergi!" mohon Zeya sambil berlutut di kaki sang Mama.
Shena marah lalu dia berkata, "Sudah aku bilang berulang kali, dia bukan kakak kamu! Siapa yang sudi mengandung anak dari pria bodoh seperti Papanya. Kamu bukan anak pria bodoh yang sudah mati itu dan bukan adik pria bodoh ini pula!"
Ucapan Shena nyaris membuat Zeya shok, dia tidak menyangka jika sang mama tega menghina almarhum Papanya. Kemudian Zeya bangkit dan berkata, "Aku tidak terima, mama menghina Papaku, Papa bukan orang bodoh! justru mamalah yang bodoh yang telah menyia-nyiakan kebaikan Papa!" ucap Zeya sambil menangis dan mendorong mamanya hingga jatuh terduduk di sofa.
Shena semakin marah dan dia mengulang kembali perkataannya," Kamu gadis bodoh, membela orang yang tidak memiliki hubungan darah sedikitpun denganmu dan malah memperlakukan aku, mamamu seperti ini!" ucap Shena.
Kemudian dia meminta pengawal untuk mengikat Zeya lagi dan berkata, "Kalau kamu tidak percaya jika kau bukan adiknya, kamu bisa lakukan tes darah." oh
"Pengawal! Ambil sample rambut keduanya dan pergilah ke rumah sakit yang ada di kota sekarat juga! Minta mereka untuk lakukan tes DNA, jika perlu sample darah kita bisa mengirimkannya! Aku butuh hasil itu secepatnya, biar mata anak bodohku ini terbuka, jika yang dia bela itu adalah orang lain, bukan kakaknya," ucap Shena.
Zeya tidak pernah menyangka, jika benar Royan bukanlah kakaknya, dia sama sekali tidak peduli, karena Royan lah yang telah mengajarkan arti kasih sayang antara kakak beradik dan Royanlah Mama sekaligus Papa baginya. Dan siapapun papa kandungnya nanti, Papa Royan tetaplah Papanya.
Zeya terus menangis, dia menyesali hidupnya, kenapa musti dilahirkan dari rahim wanita seperti Shena.
Shena lalu mengajak semuanya keluar dari sana, dia tidak akan menyiksa Royan untuk hari ini. Nanti setelah keinginannya tercapai barulah dia akan menyingkirkan Royan beserta Ambar.
Sementara Zero di tempat yang sepi telah membuka rompinya, dia ingin mencari Royan terang-terangan bersama keempat temannya itu.
Dia pura-pura terkejut berpapasan dengan mereka dan bertanya kenapa tubuh mereka banyak luka.
Zero mengangguk, mendengar cerita mereka seolah-olah dia tidak tahu kejadiannya, dia marah dan prihatin dengan apa yang menimpa temannya itu serta berjanji akan membalas mereka jika bertemu nanti.
Kemudian Zero mengajak keempat temannya untuk mencari Royan. Saat mereka melihat Shena dan yang lain dari kejauhan keluar dari kamar Zeya, Zero pun merasa khawatir.
"Teman-teman, kalian tunggu di sini ya, aku akan mengikuti mereka untuk mencari tahu keberadaan Bos Royan. Kalian coba cari dulu di sekitar sini, aku pasti akan kembali setelah mendapatkan informasi," ucap Zero yang pura-pura pergi ke arah dimana Shena dan yang lain pergi.
Kini keempat anak buah Royan pun pergi mencari ke sekitar tempat itu, lalu Zero dengan cepat memakai rompinya dan menerobos kamar kaca dimana Zeya tadi berada.
Zeya yang merasakan kehadiran Zero di ruangan itu langsung berkata, "Keluarlah Kak, aku tahu Kak Zero ada di sini, mumpung Kak Royan belum sadar," ucap Zeya.
Zero segera melepas rompinya, lalu dia mendekat ke Royan dan Zeya.
Zero menggelengkan kepala melihat betapa kejam Shena telah menyiksa Royan hingga seperti itu, padahal Royan tidak pernah dendam, bahkan dia telah menganggap Shena juga sebagai ibunya.
"Lihatlah Kak! Mamaku sangat kejam, telah menyiksa kak Royan hingga terluka seperti ini dan lebih parahnya lagi, mama mengatakan jika Kak Royan bukanlah kakakku, kami tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Mama sampai mengambil sample rambutku dan rambut kak Royan untuk melakukan tes DNA agar aku percaya." ucap Zeya.
"Tapi aku tidak peduli dengan semua itu Kak. Apapun hasilnya dia tetap Kakakku selamanya," ucap Zeya sambil menangis.
"Sudahlah jangan menangis Zey, yang penting sekarang kita harus segera mengobati luka-luka kak Royan sebelum infeksi," ucap Zero.
"Iya kak, tapi dari mana kita akan memperoleh obat?"tanya Zeya.
"Kamu jaga Kak Royan, aku akan coba mencari obat, siapa tahu mereka punya stok obat luka di villa ini," ucap Zero sambil kembali memakai rompinya.