SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 95. BELUM SIAP MENGATAKAN KEBENARAN


"Kenapa tidak pamit kepada mama Zey? Bagaimanapun buruknya orangtua, mereka harus tetap kamu hargai," ucap Zero.


"Habisnya aku kesal Kak! Sudah hampir melecehkan anaknya masih juga di bawa pulang, apa aku ini tidak berarti apa-apa bagi mama Kak?"


Zeya menangis hingga membuat Zero tidak berani melanjutkan perkataannya, memang mama Zeya keterlaluan tapi Zero tidak mau jika Zeya menjadi anak yang durhaka, dia hanya berharap suatu saat bisa membantu menyadarkan calon mertuanya itu.


"Jangan menangis lagi Zey," ucap Zero sambil mengelap air mata Zeya dengan tissue yang ada di mobil Zeya.


"Ayo tersenyum, nggak baik pagi-pagi di awali dengan tangisan, lagipula kamu jelek jika sedang menangis, itu matamu sudah seperti mata panda, lingkar hitam di sekelilingnya membuat kamu jadi menua," ucap Zero lagi.


Mendengar ucapan Zero, Zeya langsung memperhatikan wajahnya melalui kaca spion, ternyata memang benar yang dikatakan oleh Zero. Zeya pun langsung mengambil tissue dan menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada di kelopak matanya.


Kemudian Zeya menatap Zero sambil tersenyum. Zero senang melihat Zeya menuruti kata-katanya walau senyumnya masih terlihat di paksakan.


"Emak pasti heran Kak, melihat aku datang bersama Kakak sepagi ini, jadi apa alasan kita nanti Kak?"


"Biar nanti aku yang jelaskan sama emak ya, kamu nggak perlu khawatir, emak pasti paham kok."


Zeya pun mengangguk lalu dia kembali berkata, "Kak... Franky bilang pekerjaan pembersihan di kampung Kakak besok sudah mulai dilakukan oleh para pekerja."


"Iya Zey, Franky juga telah menghubungiku. Besok Bang Togar dan Bang Beni yang akan mengawasi, soalnya aku harus menemani Ahmad ke dokter."


"Memangnya sudah ready Kak tangan palsu buat Ahmad?"


"Sudah, besok dipasang sekaligus Ahmad harus berlatih bersama tim dokter tentang bagaimana cara menggunakannya."


"Syukur deh, akhirnya Ahmad akan memiliki tangan. Oh ya Kak, mengenai lapak dagang untuk Kak Kiara dan untuk ibunya Ahmad apa sudah Kakak dapatkan?"


"Sudah Zey, lusa kita ajak mereka ya untuk melihatnya, sekaligus melunasi sisa uang sewa tempat Kak Kiara akan berdagang. Untuk kontrak toko yang dekat pasar, sebagian aku transfer saja agar mereka bisa melakukan renovasi dulu dan sisanya akan aku bayar apabila Ahmad dan keluarganya sudah pindah kesana."


"Aku salut melihat Kak Zero, Kakak selalu memikirkan orang lain, kapan Kakak akan memikirkan diri Kakak dan juga emak?"


"Nanti Zey, setelah para sahabat dan saudara sekampungku mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan anak-anak mereka bisa bersekolah di sekolah yang akan kita bangun, baru aku akan memikirkan untuk membahagiakan emak lewat usaha yang akan aku jalankan."


Saat mereka asyik mengobrol, telephone Zero berdering, ada panggilan masuk dari Seto. Zero segera mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, apa kabarmu Dek," sapa Zero kepada Seto.


"Alhamdulillah kami baik Kak, oh ya Kak ini ayah mau bicara dengan Kakak," ucap Seto sambil menyerahkan ponselnya kepada sang ayah.


Zero pun mengucap salam kepada Pak Arya, lalu Pak Arya menjelaskan tentang uang 1M yang telah Zero berikan kepadanya.


Beliau telah membuka usaha kilang padi di pinggiran kota dan membuka koperasi sembako yang anggotanya adalah para petani serta para pedagang kecil yang ada di sana.


Minggu depan, beliau akan mengajak keluarganya pindah sekaligus mengundang Zero sekeluarga untuk datang dalam


acara syukuran sekaligus peresmian usaha tersebut.


Dalam akta pendirian koperasi, Zero dimasukkan oleh Pak Arya sebagai salah satu pendiri sekaligus investor yang akan mendapatkan bagi hasil setiap tahunnya.


Zero menolak hal itu, dia sudah sangat senang saat mendengar pak Arya bisa memanfaatkan uang tersebut untuk kepentingan orang banyak terutama para petani di sana.


Jadi mereka bisa berbagi tugas, Pak Arya berusaha menaikkan tarap hidup para petani sedangkan dirinya akan membantu para pemulung di sekitar tempat tinggalnya.


Zero menyetujui hal itu dan dia berjanji akan datang dalam acara selamatan tersebut sekaligus ingin tahu tempat tinggal Seto yang baru.


Lalu Pak Arya berkata bahwa dia juga telah mengurus kepindahan sekolah Seto dan adiknya.


Zero pun merasa tenang, dia memang berharap satu persatu orang terdekatnya akan memiliki kehidupan yang lebih baik dan bisa melebarkan sayap untuk membantu orang lain lagi yang masih membutuhkan bantuan.


Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya mengundang Zero dan menyampaikan titip salam dari istrinya, Pak Arya pun mengakhiri panggilan tersebut.


"Alhamdulillah...," itulah kata yang terucap dari mulut Zero saat dia kembali menyimpan ponselnya.


Sebenarnya pemikiran Zeya dan Mak Salmah sama, sama-sama penasaran dengan apa yang selama ini Zero lakukan.


Hanya bedanya, Zeya telah melihat satu kelebihan Zero saat pertama kali bertemu dengannya, Zero bisa tidak tampak di mata orang awam.


Sambil terus fokus menyetir, Zeya pun mengajukan pertanyaan, "Kak...aku yakin masih ada rahasia yang Kak Zero sembunyikan dariku. Maaf ya Kak, jika aku terlalu ikut campur, donatur tersebut hanya karangan Kakak saja 'kan? dan uang yang Kakak pergunakan untuk membantu mereka, semuanya berasal dari Kak Zero bukan dari donatur," ucap Zeya.


Zero terkesiap mendengar ucapan Zeya, dia tidak mungkin berkilah lagi di depan gadis itu, tapi saat ini, dia belum siap untuk mengatakan kebenarannya.


"Kenapa Kakak diam, keyakinan ku benar 'kan Kak?"


Sambil tetap memandang ke depan Zero pun menjawab, "Iya...aku tidak bermaksud membohongi kalian, tapi nanti pada saatnya, aku akan jujur sama emak dan kamu. Aku mohon untuk sekarang kamu jaga rahasia ini dari siapapun."


"Baiklah Kak, jika Kak Zero belum siap, aku juga nggak bisa memaksa. Aku janji akan merahasiakan dari siapapun selama Kak Zero tidak ingin orang lain tahu."


Mobil Zeya telah memasuki halaman rumah Zero saat emak dan yang lain sedang sarapan.


Mendengar suara mobil, Kiara pun berkata, "Itu Mak! sepertinya suara mobil Zeya, aku yakin Zero sedang bersama dia. Aku bukakan pintu dulu ya Mak," ucap Kiara.


Zeya tersenyum melihat Kiara membukakan pintu untuk mereka, lalu diapun menyapa Kiara, "Selamat pagi Kak!"


"Pagi Dek, benar tebakan Kakak, Zero sedang bersama kamu."


"Emak cari aku ya Kak?" tanya Zero.


"Iya! Kamu sih pergi nggak pamit, emak tahunya tadi malam kamu 'kan sudah masuk kamar, eh...subuh tadi emak kira kamu bangun kesiangan, saat hendak membangunkanmu, beliau terkejut melihat kamarmu kosong Dek!"


"Baiklah Kak, kami mau nemuin mak dulu untuk menjelaskan kenapa tadi malam aku pergi tanpa pamit."


"Mak lagi di ruang makan Dek, kalian ikut makan sekalian ya, biar Kakak siapin piringnya dulu."


"Terimakasih Kak," ucap Zeya.


Zero pun mengajak Zeya untuk menemui Mak Salmah, mereka akan meminta maaf karena telah membuat emak cemas.


Selamat siang sobat semua... hari ini aku bawa rekomendasi karya sahabatku, mampir juga di sana ya πŸ™


Ini cuplikan blurbnya ya sobat,


Suci yang ingin bunuh diri karena diperkosa, ditolong oleh seorang pria bernama Alby. Dia tinggal dan bekerja di rumahnya sebagai seorang koki. Namun, nasib malang selalu mengikutinya dia diperkosa kembali oleh Alby. Pria itu dalam pengaruh obat perangsang yang sengaja dimasukkan ke dalam minumannya oleh sang adik ipar. Alby bersedia bertanggung jawab dan menikahinya. Tetapi pernikahan mereka tidak cukup kuat untuk menahan angin yang datang. Suci di fitnah selingkuh dan di ceraikan oleh Alby, padahal saat itu Suci ingin mengatakan kalau dia hamil anak Alby. Suci pergi tanpa pernah mengatakan tentang kehamilannya. Dia pingsan di jalan dan di tolong oleh orang yang memfitnahnya seorang pria bernama Adit. Mereka semakin dekat. Ada juga Bayu tetangga mereka yang menyukai Suci. Pada siapa hati Suci berlabuh? Mantan suami, atau pria yang membuatnya bercerai dengan suaminya atau Bayu pria yang juga menolongnya saat dia jatuh.