
Walaupun Zero masih saja cuek tapi hari ini Zeya sangat senang, dia berhasil memenangkan taruhan dan sekarang berstatus sebagai pacar Zero. Perlahan dia akan berusaha mendapatkan hati dan cinta Zero seutuhnya.
Zeya pamit pulang karena hari sudah malam, sebelum naik ke mobilnya, Zeya mengingatkan Zero bahwa besok dia akan menjemputnya di sekolah selepas ujian dan bersama-sama ke rumah Ahmad.
Dalam perjalanan pulang, Zeya menerima telephone dari mamanya yang memberitahu bahwa dalam beberapa hari akan kembali ke tanah air.
Zeya sudah menduga, mamanya pasti telah menerima laporan tentang berita keberangkatan Royan ke luar negeri dari mata-matanya yang sengaja disisipkan di dalam perusahaan.
Dengan sikap acuh, Zeya menanggapi setiap omongan, dia tahu betul kata kangen bukan alasan utama kepulangan sang Mama ke tanah air, yang jelas beliau akan memanfaatkan situasi.
"Zeya... Zeya! Kamu dengar Mama!" ucap Shena sambil berteriak, ternyata Zeya sudah menutup ponselnya."
"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Mamanya ngomong belum selesai, sudah main tutup saja. Kenapa kamu malah membela kakak tirimu, ketimbang Mama kamu sendiri," umpat Shena.
Setelah menutup teleponnya, Zeya memukul stir, dia kesal, kenapa mamanya tidak pernah berubah, selalu saja serakah. Padahal, Royan lebih mengutamakan kebutuhan mama Shena dan Zeya ketimbang dirinya sendiri.
Zeya mengemudikan mobilnya ke arah rumah Royan, dia ingin menyelamatkan dengan cara menyimpan berkas serta barang penting Royan sebelum mamanya tiba.
Semuanya harus cepat Zeya lakukan karena dia tidak ingin sang mama mengambil kesempatan disaat Royan lengah.
Menurutnya Royan pasti tidak menduga jika mama Shena, pulang lebih awal dari yang dia perkirakan dan Royan pasti belum sempat membereskan barang serta surat-surat penting, apalagi belakangan ini Zeya tahu pikiran Royan hanya terfokus pada Nayla dan juga Abah.
Sesampainya di rumah, Zeya langsung menelepon sang kakak untuk meminta kunci kamar serta kunci ruangan kerjanya.
"Ada apa memangnya Dek?" tanya Royan.
"Mama akan segera tiba Kak! Aku tidak ingin beliau mengacak-acak kamar serta ruangan pribadi kakak," ucap Zeya.
"Kapan Memangnya Mama berangkat Dek?" tanya Royan.
"Entahlah Kak! tadi mama bilang, besok sudah sampai."
"Carilah kunci kamar Kakak dibalik lukisan foto Nayla yang ada di dekat pintu ruang kerja, sedangkan kunci ruangan kerja dan kunci brankas ada di bawah karpet dekat sudut tempat tidur Kakak. Kamu simpanlah semua berkas penting di pabrik pengolahan teh mu, bukankah mama belum mengetahui tentang bisnismu itu?" tanya Royan.
"Iya Kak, mama memang belum mengetahuinya. Beliau pasti tidak curiga, karena aku sering berpura-pura meminta uang saku kepada mama dengan alasan uangku habis. Sudah dulu ya Kak! Aku akan mencari kuncinya sebelum terlambat. Kakak hati-hati ya, dan salam untuk Kak Nayla serta Abah," ucap Zeya.
"Iya Dek, kamu juga harus jaga diri dan sampaikan salam kakak buat Zero. Kakak yakin dia bisa membantu dan menjaga mu selama Kakak pergi."
"Baiklah Kak, nanti aku sampaikan. Oh ya Kak, kami juga sudah jadian lho... malam ini, lain waktu aku ceritakan ya Kak, bagaimana aku bisa membuat Kak Zero mengakuiku sebagai pacar," ucap Zeya.
"Ya sudah pergilah! Nanti keburu Mama tiba."
"Oke Kak," ucap Zeya sambil mematikan ponselnya.
Setelah itu Zeya langsung menuju ke kamar Royan yang ada di ujung dekat balkon. Dia membuka pintu kamar lalu mencari kunci ruang kerja serta kunci brankas sesuai petunjuk dari Royan.
Begitu menemukannya, Zeya pun kembali ke ruang kerja dan segera membuka brankas milik Royan yang memang dari sebelumnya Royan sudah memberitahukan kodenya.
Zeya mengambil semua isi brankas, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tas yang dia ambil dari kamar Royan dan mengambil surat-surat penting yang ada di laci meja kerja Royan.
Setelah menemukan semuanya, Zeyapun bergegas keluar lalu mengunci kembali ruang kerja tersebut dan mengembalikan semua kunci di tempatnya semula.
Tanpa mengundang kecurigaan pelayan yang ada di sana, Zeya pun segera membawa tas itu ke dalam mobilnya dan malam ini juga, Zeya bermaksud pergi ke pabrik pengolahan teh miliknya.
Tidak lama setelah kepergian Zeya, masuklah sebuah mobil mewah ke halaman rumah Royan. Pengendara mobil itu mengklackson sekuatnya dan berulang-ulang hingga membuat para pelayan yang sudah tidur pun terbangun.
Para pelayan buru-buru membukakan pintu karena mereka tahu siapa yang baru saja datang dengan cara seperti itu.
Merekapun menunduk hormat setelah melihat seorang wanita cantik dan elegan turun dari mobil. Walaupun usianya sudah paruh baya tapi penampilan serta kecantikannya tidak kalah dari seorang gadis remaja. Dia adalah Shena, Mama tiri Royan atau tepatnya Mama kandung Zeya.
"Di mana bos kalian!" tanya Shena yang berpura-pura tidak tahu keberadaan Royan.
"Kami tidak tahu Nyonya, kemana Tuan muda Royan pergi! Beliau pergi tanpa meninggalkan pesan apapun sejak kemarin. Mungkin Non Zeya tahu, dimana keberadaan Tuan, karena kemaren Tuan muda perginya bersama Non Zeya," ucap salah seorang pelayan.
Akan tetapi mereka tetap tidak berani mengatakan jika Zeya baru saja datang dan pergi dari rumah itu, sebab Zeya sebelumnya telah berpesan kepada semua pelayan untuk menutup mulut tentang kedatangannya malam ini kepada siapapun sesuai perintah Royan.
"Aku mau tidur di kamar atas, tolong siapin kamar untukku," perintah Shena.
Kemudian Shena pun duduk di sofa sambil menunggu pelayan menyiapkan kamar untuknya.
"Oh ya, tunggu! Apa kalian menyimpan kunci ruang kerja Royan atau kunci kamarnya?" tanya Shena kepada semua pelayan.
Para pelayan hanya menggelengkan kepala, karena tugas untuk membersihkan kedua ruangan itu mereka lakukan saat Royan ada di rumah. Royan paling tidak suka jika tempat yang menjadi privasinya diganggu tanpa seizinnya.
"Ya sudah, tidurlah kalian! Besok selepas subuh, siapkan sarapan untukku, karena jam 6 pagi aku sudah harus pergi dari sini," ucap Shena lagi.
Para pelayan pun pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat, tidak lama datanglah pelayan yang tadi mempersiapkan kamar untuk Shena.
"Nyonya... silahkan, kamar anda sudah saya siapkan."
"Iya, Kamu pergilah istirahat, biar tas ini aku yang bawa naik," ucap Shena.
Pelayan itupun mengangguk sembari meninggalkan Shena sendirian di sana.
Shena memperhatikan sekeliling, lalu dia naik ke atas, malam ini bagaimanapun caranya, dia harus bisa mencari apa yang dia ingin dapatkan dari kamar maupun ruang kerja Royan.