
"Dari mana kamu Ro?" tanya mak Salmah.
"Maaf Mak, tadi malam aku pergi nggak pamit, karena keadaan mendesak."
"Maafkan Kak Zero Mak, Kak Zero pergi menolong Zey. Ada teman mama Shena yang hampir melecehkan Zey Mak, untung saja Kak Zero datang di waktu yang tepat," ucap Zey.
"Bagaimana bisa teman mama mu malah ingin melecehkan anak sahabatnya Nak?" tanya Mak Salmah.
Kemudian Zeya menceritakan panjang lebar tentang Frem, tapi dia tidak menceritakan tentang keburukan sang mama. Walau bagaimanapun buruknya prilaku Mama Shena, beliau tetaplah orangtuanya dan aib mama Shena adalah aibnya juga.
Zero tersenyum mendengar penuturan Zeya, dia senang Zeya bisa bersikap dewasa, bisa memilah mana yang perlu dia ceritakan dan mana yang tidak.
Setelah mendengar penjelasan dari Zeya, mak Salmah pun mempersilakan Zeya dan Zero untuk sarapan. Kiara memberikan piring dan sendok kepada keduanya.
"Terimakasih Kak," ucap Zeya dan Zero berbarengan.
Zeya mengambilkan makanan untuk Zero terlebih dahulu barulah dia mengambil untuk dirinya. Kemudian, semuanya melanjutkan sarapan hingga selesai.
Setelah membantu Kiara membereskan meja dan peralatan makan, Zeya pun bersiap untuk mengantar Zero kesekolah. Dia akan menunggu di kantin sekolah sampai Zero menyelesaikan urusannya.
Zero dan teman-temannya yang sudah selesai mendapatkan arahan dari guru tentang kapan mereka di wajibkan datang bersama orangtua untuk mengambil hasil kelulusan pun segera meninggalkan kelas.
Kemudian Zero langsung menuju kantin untuk menjemput Zeya. Sementara para murid wanita yang melihat Zero bersama Zeya kasak-kusuk, mereka berbisik-bisik, tidak menyangka bahwa Zero bisa berubah 180°, baik dari segi penampilan, kepintaran dan juga pergaulan.
Dulu para murid wanita beranggapan Zero tidak sebanding dengan mereka, bahkan mengejek dan menjauhinya tapi sekarang malah kebalikan.
Para wanita itu terpesona, kagum tapi sekaligus malu setelah melihat perubahan yang terjadi pada Zero dan iri melihat wanita cantik dan kaya seperti Zeya beberapa hari belakangan ini sering datang ke sekolah untuk menunggu dan menjemput Zero pulang sekolah.
Namun tanpa Zero sadari ada seorang gadis yang terlihat muram, menitikkan air mata, memandang sedih ke arahnya dan Zeya dari ujung kelas yang kebetulan tidak jauh dari kantin. Dia adalah Alena, pacar pertama Zero.
Flashback
Alena adalah teman wanita pertama yang pernah mengisi hati Zero, dia gadis sederhana, baik, pintar dan juga cantik yang dengan senang hati menerima pertemanan dari Zero sejak awal mereka menginjakkan kaki di sekolah itu.
Zero dan Alena saat itu mengambil jurusan yang berbeda, tapi keduanya masih saja sering jalan bersama disaat jam istirahat dan juga pulang sekolah.
Di pertengahan tahun kedua, Zero baru memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya karena dia takut Alena mencintai pria lain tanpa pernah tahu akan perasaan yang selama ini dia pendam. Saat itu Zero juga merasa yakin jika Alena memiliki perasaan yang sama seperti apa yang dia rasakan.
Hal utama yang mendorong keberanian Zero untuk segera mengatakan perasaannya sebetulnya karena rasa cemburu, saat dia melihat Vano, siswa tampan dan kaya. Siswa pindahan dari luar kota yang masuk di kelas Alena dan yang selalu berusaha mendekati gadis pujaannya itu.
Suatu hari Zero melihat Alena bersama Vano duduk berdua di kantin, hatinya sakit dan tidak rela, lalu dia mendekati keduanya sembari mengatakan kepada Alena jika ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan saat mereka pulang sekolah nanti.
Alena pun mengangguk, dia sebenarnya sejak tadi ingin pergi dari kantin karena tidak menemukan Zero di sana.
Namun Vano menghalangi lalu mengajaknya duduk serta memesankan minuman dan makanan hingga akhirnya membuat Alena terpaksa memenuhi permintaan Vano demi menghargai teman barunya.
Vano sebenarnya merasa tidak senang dengan kehadiran Zero, baginya Zero adalah penghalang untuk dia bisa mendekati dan mendapatkan cinta Alena karena dia tahu selama ini Zero selalu menempel kemanapun Alena pergi.
Namun Vano pandai menutupi perasaannya itu dengan tetap bersikap ramah dan mempersilakan agar Zero ikut bergabung bersama mereka.
Zero yang perasaannya sedang resah, menolak tawaran Vano dengan alasan masih ada yang harus dia kerjakan di dalam kelas. Kemudian Zero pun pamit, melangkah pergi, tapi Alena segera mengejar Zero dan meninggalkan Vano dengan makanan yang belum dia sentuh sedikitpun.
Sikap Alena membuat Vano sakit hati dan dalam hati dia berjanji, akan memisahkan keduanya serta akan mendapatkan Alena, bagaimanapun caranya.
Sepulang sekolah, Zero sudah menunggu Alena di luar kelasnya, lalu mereka pergi menuju ke sebuah taman tempat biasa anak-anak nongkrong menikmati senja yang letaknya tidak jauh dari sana.
Karena hari masih siang, maka suasana taman itu masih sepi, hanya terlihat beberapa orang anak bermain ayunan.
Mendengar kejujuran Zero, Alena bukannya menjawab, dia hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan taman.
Saat itu, cukup lama Zero terpaku dan bingung, kenapa Alena malah meninggalkan dirinya tanpa berkata apapun. Ketakutan mulai muncul di hatinya, dia takut Alena akan menolaknya demi Vano.
Zero menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu berlari mengejar Alena keluar taman, langkahnya terhenti saat dia melihat di kejauhan Alena sedang membeli es cream.
Akhirnya Zero tersenyum dan memutuskan untuk kembali ke taman menunggu Alena dengan duduk di sebuah ayunan yang ada di dalam taman tersebut.
Alena kembali dengan membawa dua cup es cream rasa coklat kesukaan mereka berdua.
Selama ini, memang Zero mengenal Alena sebagai gadis yang perhatian, dia selalu membelikan Zero es cream setiap kali melihat dirinya resah karena suatu masalah.
"Minumlah dulu, biar hati kita tenang," ucap Alena yang datang sambil menyerahkan satu cup es cream kepada Zero dan ikut duduk di atas ayunan tersebut.
Ayunan itu cukup kuat menopang berat badan keduanya karena terbuat dari besi bulat padat yang berkapasitas muatan untuk empat orang dewasa, hingga Zero dan Alena bisa duduk saling berhadapan.
Sambil menikmati es cream, Alena pun menggenggam tangan Zero dan berkata, "Kamu tidak perlu khawatir, walaupun tidak terucap kata cinta dari bibirmu, aku tahu isi hatimu dan aku akan menjaga hatiku serta menunggu sampai kamu siap untuk mengatakannya."
Zero menarik nafas lega dan membalas genggaman tangan Alena, lalu tersenyum dan bertanya, "Jadi... apakah kamu menerima cintaku dan sekarang kita benar menjadi pasangan?" tanya Zero sambil menatap manik mata Alena untuk mencari kebenaran di sana.
Alena hanya tersenyum sembari mengangguk. Zero pun membalas senyuman itu sambil mengelus dadanya yang terasa lega, lalu melanjutkan pertanyaannya, "Apakah kamu tidak malu memiliki kekasih seorang pemulung dan jelas mempunyai kekurangan fisik?"
"Tidak akan pernah malu," jawab Alena santai tapi tegas.
Keduanya pun menghabiskan es cream sambil tertawa dan bermain ayunan. Siang ini dunia seperti hanya milik berdua, Zero dan Alena merasakan kebahagiaan layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
Hai...para sahabat semua! sore ini, aku bawa rekomendasi karya milik temanku, mohon dukungannya juga di sana ya.... Terimakasih 🙏♥️
Ini sobat cuplikan blurbnya,
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya dan ternyata pria yang akan di jodohkan dengan dia, tak lain adalah Dosen nya sendiri yang sikapnya teramat dingin. Namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan tentang rahasia jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apa sang Dosen akan menerima jika dia mengetahui tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?
