
"Wah, dapat banyak hasil mulung kita Kak. Selain menghasilkan uang serta mengurangi sampah, kita juga membantu program pemerintah ini Kak, dengan cara memisahkan sampah sesuai kriterianya, yaitu sampah organik dan anorganik," ucap Zeya.
"Iya benar Zey, sebetulnya terpikir olehku, setelah ini aku akan menyediakan tong-tong sampah buat para warga. Mereka kita anjurkan untuk memisahkan buangan sampah masing-masing sesuai kriterianya."
"Setelah itu, sediakan truk, timbangan serta alat lain yang mendukung. Kita beli sampah anorganik yang telah mereka pisahkan, dengan begitu setiap rumah tangga akan mendapatkan tambahan penghasilan dari sampah mereka sendiri dan bagi kita itu bisa jadi bisnis menguntungkan. Kita bisa menjadi pemulung kreatif dan tentunya berdasi," ucap Zero.
"Ide brilian Kak, aku siap membantu. Kita rekrut pekerja untuk door to door ke rumah warga membeli sampah anorganik mereka dan rekrut juga pekerja untuk memilah lagi sesuai jenisnya secara detail."
"Tapi sebelumnya kita harus jelaskan ke mereka, apa itu sampah organik dan anorganik supaya mereka tidak salah memisahkan," ucap Zero.
"Iya Kak, kita minta bantuan pemerintahan setempat, seperti Lurah dan perangkat yang lain untuk memberitahukan kepada warga," ucap Zeya.
Sebagai bahan pengetahuan juga bagi para pembaca karya ini dan juga bagi penulis sendiri, apa itu sampah organik dan anorganik, penulis akan beri ulasan sedikit ya sobat, agar kita sama-sama mendapatkan tambahan ilmu.
Perbedaan yang paling mendasar dari kedua jenis sampah ini adalah waktu yang dibutuhkan untuk terurai.
Sampah organik merupakan jenis buangan yang bisa dan relatif cepat mengalami penguraian. Sebaliknya, sampah non-organik atau anorganik yaitu sampah yang sulit untuk diurai dan membutuhkan waktu yang cenderung lama.
Sampah organik bisa terurai meski dibuang begitu saja dan akan hilang dengan sendirinya.
Beberapa contoh sampah yang masuk dalam kategori sampah organik di antaranya adalah sisa makanan, kulit buah, sisa masakan dari dapur, dan daun-daunan. Biasanya jenis sampah ini juga bisa diolah kembali menjadi pakan ternak, biogas, bahkan pupuk.
Sebaliknya, sampah non-organik biasanya akan sulit terurai. Yang termasuk dalam daftar sampah jenis ini adalah botol minuman, plastik, dan kaleng.
Sampah ini tidak akan hancur dalam waktu yang lama meski dibakar sekalipun. Namun, sampah non-organik ternyata masih memiliki nilai ekonomis dan bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih terpakai.
Nah, dengan memisahkan pembuangan kedua jenis sampah ini nyatanya bisa membantu mencegah terjadinya penumpukan sampah. Selain itu, memisahkan sampah organik dan non-organik bisa memudahkan pemilihan dan penggunaan kembali jenis sampah sesuai dengan kegunaannya.
Selain itu, memisahkan sampah, sudah pasti bisa membuat hidup kita lebih sehat, karena penumpukan sampah bisa menjadi sarang kuman serta bakteri yang merupakan penyebab utama penyakit.
Tak hanya itu, tumpukan sampah nyatanya dapat memicu terjadinya pencemaran udara. Pada kesempatannya, pencemaran udara menimbulkan masalah kesehatan, terutama yang berhubungan dengan paru-paru dan pernapasan.
Tumpukan sampah juga bisa menimbulkan masalah pada lingkungan yang bisa berujung pada masalah kesehatan pula. Tidak memisahkan sampah dan membiarkannya menumpuk bisa dengan mudah memicu terjadinya banjir.
Nah, saat pembuangan sampah organik dan non-organik dipisah, ada banyak manfaat yang bisa dinikmati. Mulai dari udara yang lebih sehat, lingkungan yang bersih dan air yang terjamin. Membuang sampah sesuai jenisnya pun akan memudahkan dalam pengolahan kembali. Misalnya, membuang sampah non-organik ke dalam satu wadah saja akan memudahkan orang yang ingin mengambil dan mendaur ulang sampah tersebut. Dia pun tak perlu lagi membongkar kembali tempat sampah, yang malah bisa menyebabkan terjadinya masalah kebersihan di lingkungan rumah.
Itulah sepenggal pengetahuan untuk kita bersama ya sobat dan mari kita dukung, orang-orang seperti Zero yang ingin berbuat baik terhadap warga dan lingkungan sekitarnya.
Zero dan Zeya sudah menyelesaikan tugasnya, sesuai pesan sistem kini Zeya mewakili Zero memeriksa isi karung tersebut, apa benar cek senilai total 10 T sudah ada di sana.
Zeya benar-benar terkejut dan sempat berteriak gembira karena di tangannya sekarang ada lembaran-lembaran cek yang sistem maksud.
"Sekarang kamu percaya 'kan Zey? Tolong! Bantulah aku untuk menyalurkan cek-cek tersebut kepada orang-orang, kepada lembaga ataupun yayasan yang membutuhkan bantuan."
"Waktu yang diberikan oleh sistem untuk kita menghabiskan dana ini adalah satu bulan, di mulai sejak hari ini."
"Jika tidak kita selesaikan tepat waktu, semua yang aku lakukan akan sia-sia. Sistem akan mengembalikan semuanya ke awal, saat aku hanya seorang Zero si pemulung miskin. Jangankan untuk membantu orang lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan biaya perobatan emak saja, susah, Zey," terang Zero.
"Baiklah Kak. Aku Zeya, adik Kak Zero berjanji, akan selalu mendukung semua niat baik Kakak dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan di negeri kita ini."
"Terimakasih Zey. Sekarang, ayo kita jual hasil mulung ini. Kebetulan di depan sana ada tempat penampungan yang akan membeli ini semua dan hasilnya akan kita bagikan kepada adik-adik yang sedang bermain di lapangan itu," ucap Zero sambil menunjuk ke arah lapangan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka sekarang berdiri.
Setelah menjual hasil mulung tersebut, Zeya dan Zero duduk di pinggir lapangan, lalu memanggil anak-anak yang sedang bermain. Saat mereka penasaran dan berlari mendekat, Zeya pun segera membagikan uang itu kepada mereka.
Sorak sorai terdengar, anak-anak gembira sambil mengucapkan terimakasih, hingga membuat Zeya merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Zero dan Zeya pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, rencananya besok mereka baru akan membagikan cek-cek tersebut.
Malam ini, keduanya akan bicara dengan Mak Salmah dan Bu Riana, meminta pendapat mereka, akan di berikan kepada siapa saja cek senilai 10 T tersebut.
Berarti malam ini, Zero harus siap mengatakan kejujuran di depan kedua orang yang sangat penting dalam kehidupannya.
Sesampainya Zero dan Zeya di rumah sakit, Kiara berkata, bahwa malam ini biarlah gilirannya untuk menjaga Mama Shena dan dia meminta yang lain untuk istirahat di rumah. Barulah besoknya bergilir, gantian dengan Zeya dan Zero.
Semua setuju, lalu Zero dan Zeya pun pulang bersama Emak, Bu Riana, Mama Ambar juga Abah. Mereka berencana, besok akan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Mama Shena agar beliau terhibur dan cepat sembuh.