SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 85. SENGAJA


Zeya ingat janjinya terhadap Zero, yaitu siang ini dia akan menjemputnya di sekolah. Walaupun Zeya tidak tidur semalaman, tapi dia tetap semangat karena akan bertemu kekasih pujaannya.


Hari ini adalah kebetulan hari terakhir ujian kelulusan Zero, jadi dia besok bisa permisi kepada pihak sekolah untuk menemani Ahmad menjalani operasi.


Setelah menyelesaikan ujian terakhirnya, Zero bergegas mengumpulkan lembar jawabannya dan bersiap untuk pulang.


Sementara teman-temannya masih pusing memikirkan jawaban atas soal-soal tersebut, karena mata pelajaran yang diujiankan terakhir hari ini adalah pelajaran matematika, yang dikenal sulit bagi kebanyakan siswa.


Melihat Zero sudah keluar dari kelas, membuat teman-temannya semakin heran. Padahal kesehariannya mereka tahu, Zero sangat lemah di bidang pelajaran ini.


Sampai-sampai ada yang berkata, bahwa Zero mendapatkan bantuan dari makhluk halus, karena mereka tidak menemukan kemungkinan jika Zero membawa contekan. Lagipula menurut mereka manalah mungkin Zero bisa mencontek sementara dia duduk di bangku paling depan dekat meja pengawas.


Saat Zero sampai di luar gerbang sekolah, Zeya sudah menunggunya di sana sambil ngobrol dengan penjaga sekolah.


"Oh... Kak Zero sudah selesai ujiannya? Cepat amat! Padahal menurut Bapak ini, aku masih harus menunggu sekitar satu jam lagi, sampai ujian Kakak selesai."


"Kebetulan tadi soalnya sangat mudah, semua menyangkut yang aku pelajari tadi malam, jadi aku hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menyelesaikan semuanya," jawab Zero.


"Oh...kalau begitu syukur deh Kak, mudah-mudahan kakak akan mendapatkan nilai terbaik seperti yang Kak Zero harapkan hingga bisa masuk ke perguruan tinggi negeri."


"Aamiin...," ucap Zero.


"Ayo kita berangkat, mungkin Bang Togar dan Bang Beni sudah menunggu di rumah Ahmad," ajak Zero.


"Ayo Kak! Oh ya Pak, kami pulang dulu ya!" pamit Zeya kepada penjaga sekolah.


Zero pun pamit, lalu penjaga sekolah mengacungkan kedua jempolnya, beliau senang, sekarang Zero tidak lagi disepelekan oleh teman-temannya, bahkan anak-anak dari keluarga kaya pun satu persatu sudah pada mendekat.


"Kamu jangan ngebut dong nyetir mobilnya, nanti kalau kita kecelakaan bagaimana? Kalau langsung mati mending, tinggal berurusan dengan yang kuasa, tapi jika setengah mati? bakal nyusahin diri sendiri dan keluarga."


"Lah beneran 'kan? Memangnya kamu kepingin mati sebelum membahagiakan orang tua dan menikah?" tanya Zero.


"Berdoanya jangan dulu deh Kak, tapi jika sudah takdir mau tidak mau ya...terima. Tapi orangtua mana yang bisa aku bahagiakan Kak?" tanya Zeya dengan wajah yang tiba-tiba sedih.


"Mama Kamu dong! Papa kamu juga pasti senang di alamnya sana, saat melihat putrinya bisa membahagiakan istrinya."


"Seandainya mamaku seperti Mak Salmah, pasti aku akan berjuang keras untuk membahagiakannya Kak, tapi..." Zeya sedih, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Sabar! Doakan saja agar Mama kamu terbuka hatinya dan suatu saat nanti bisa menyayangi kamu dan Kak Royan seperti orangtua yang lain."


"Aku sering iri Kak, saat melihat teman-teman di jemput, berkumpul serta bercanda dengan orangtua mereka, sedangkan aku, sejak kecil hanya Bibi dan Kak Royan yang menyayangiku."


"Nah itu masih ada yang menyayangimu! Kamu lebih beruntung dari mereka yang di luaran sana, yang tidak memiliki siapapun, hidup sebatang kara di jalanan dengan menantang kerasnya hidup."


"Iya sih Kak, iya deh...aku tidak boleh sedih lagi!" ucap Zeya sambil mengusap kedua matanya yang sudah mengambang air mata di dalamnya.


"Ayo senyum! sekarang 'kan sudah ada aku, sudah bertambah yang menyayangimu," ucap Zero sambil mengusap titik air mata yang sempat jatuh di pipi Zeya.


Zeya pun tersenyum, lalu dia bertanya, "Benarkah Kak Zero menyayangiku?"


"Kalau tidak menyayangi kamu, ngapain juga kemaren aku menerima tantangan darimu. Aku sebenarnya sudah tahu jika kamu pandai memasak, Kak Royan telah banyak cerita tentang kamu saat kami bertemu di resto waktu itu," ucap Zero sembari tersenyum.


"Ah...Kak Zero curang! Berarti Kak Zero sengaja ya ingin mengerjaiku?"


"Memang!" jawab Zero sembari menaik turunkan alisnya.


Zeya pun mencubit lengan Zero hingga Zero mengaduh, lalu Zeya pura-pura ngambek hingga membuat Zero berusaha merayunya. Akhirnya pasangan kekasih yang baru jadian itupun bisa saling bercanda dan tertawa, tidak jutek saja seperti kemaren.