SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 113. MENERIMA TAWARAN MENGINAP


"Tunggu! Mau kemana Dek?" ucap Royan sambil menarik tangan Zeya.


"Lepaskan aku Kak! Aku akan menemui mama, aku malu Kak! Aku harus menyerahkan Mama ke kantor polisi," ucap Zeya tanpa berani memandang ke arah Royan dan yang lain.


"Kamu tidak boleh gegabah, Mama Ambar dan Bu Riana masih di tangan mama Shena, jangan sampai karena sikap gegabah mu akan membuat mereka celaka Dek," ucap Royan.


Zeya terdiam lalu dia kembali berbalik dan berkata, "Maafkan aku kak."


"Benar kata Kak Royan Zey, kita harus sabar, tidak boleh gegabah. Pasti mama kamu, akan memanfaatkan Bu Ambar untuk menekan Kak Royan bila keadaan sudah seperti ini. Mama Shena pasti sudah mendengar kepulangan kami dan beliau sudah menduga bahwa kamu dan Zero terlibat dalam melarikan dan menyembunyikan Bu Ambar serta Bu Riana," ucap Nayla yang sejak tadi diam.


"Iya benar itu Nay, cepat atau lambat, mama Shena pasti akan menemuiku. Beliau pasti akan menukar mama Ambar dengan apa yang selama ini beliau tunggu," ucap Royan.


"Memangnya selain harta Kak Royan masih ada yang mama inginkan Kak?" tanya Zeya.


"Iya...Deposito yang almarhum Papa berikan atas nama Mama Ambar. Itu hanya bisa di ambil dengan tanda tangan mama Ambar dan juga atas persetujuanku sebagai wakil mama."


"Jadi selama ini mama mengurung Mama Ambar hanya karena itu Kak? Mama serakah, padahal lebih dari separoh harta papa sudah jadi miliknya."


"Nilainya besar Dek, sama besarnya dengan harta Papa yang telah Mama Shena ambil. Papa sengaja diam-diam memberikan deposito itu melalui pengacaranya, saat dulu Papa mulai curiga dengan perbuatan jahat Mama Shena dan perselingkuhan yang mama lakukan di belakang Papa."


"Mama Shena sengaja menahan dan menyembunyikan Mama Ambar sejak dulu untuk menyakiti kami. Dan rencananya berhasil hingga membuat Mama Ambar menderita gangguan jiwa, serta membuatku tidak bisa lepas dari kendalinya," ucap Royan.


Sejenak dia terdiam, lalu melanjutkan perkataannya, "Namun sebelum aku berangkat keluar negeri, mata-mata mama Shena berhasil mendengar percakapan kami, yaitu percakapan antara pengacara denganku tentang deposito yang Papa tinggalkan untuk kami, itu makanya Mama Shena membawa mamaku ke rumah sakit, beliau ingin dokter bisa menyembuhkannya. Dengan begitu beliau akan dengan mudah mengendalikan mama Ambar lagi untuk menuruti seluruh perintahnya dan juga bisa diperalat untuk membujukku nantinya."


"Oh gitu ya Kak, ternyata Papa adil, telah meninggalkan bagian harta untuk kita, lewat tangan mama kita masing-masing. Tapi Mamaku serakah, ingin mengambil semuanya dan bahkan menguasainya sendiri tanpa campur tanganku."


"Ya begitulah Dek, sifat serakah telah menguasai hati mama Shena."


"Jadi kita mau tinggal di mana Ro?" tanya Emak. Emak capek... rasanya kepingin rebahan tapi kita sudah tidak punya rumah."


"Bagaimana kalau kita tinggal di tempat yang sudah di sewa oleh Zero Mak, tempat untuk kita jualan. Toh tempat itu masih kosong," ucap Kiara.


"Boleh juga usulmu Ra...ayo Ro, antar kami kesana!" ucap emak.


"Mak...aku mohon, kalian menginap lah di rumahku," ucap Royan.


"Perkampungan ini 'kan sedang dalam pembangunan, jadi Zero berhak mendapatkan satu unit rumah nantinya, karena dia adalah wakil saya Mak dalam pelaksanaan proyek tersebut," ucap Royan.


"Benarkah Nak Royan? Terimakasih Nak, emak tidak tahu bagaimana cara membalas budi baik Nak Royan," ucap emak.


"Kak, sebenarnya donatur yang biasa kerjasama denganku sudah memberikan aku sebuah rumah di komplek Perumahan Puri Indah, tapi selama ini aku masih merahasiakannya dari emak. Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan dan mengajak emak pindah ke sana," ucap Zero.


"Wah...itu perumahan elit lho Kak, Kakak beruntung, harga rumah di sana cukup fantastis, sangat mahal. Ada beberapa orang temanku yang baru saja pindah ke sana," ucap Zeya sambil mengerlingkan mata.


Zeya sebenarnya tahu jika rumah itu, adalah rumah yang akan di beli oleh Zero untuk emak, bukan pemberian dari donatur seperti yang Zero katakan, tapi Zeya hanya pura-pura saja, dia mengiyakan agar tidak banyak yang curiga dan mempertanyakan darimana Zero memperoleh begitu banyak uang hingga bisa membeli sebuah rumah mewah.


"Oh syukurlah Ro, tapi aku harap malam ini kalian bersedia menginap di rumahku ya, sambil menunggu rumah kalian selesai di bersihkan," ucap Royan.


"Iya Kak, ayolah sekarang kita ke sana, pasti seru malam ini, bakalan ramai. Oh ya, Kak Nayla ikut ya menginap di rumah Kak Royan!" ajak Zeya.


"Maaf Dek, Kak Nay belum bisa menginap malam ini, kasihan Abah, nanti siapa yang mengurus kebutuhan beliau."


"Iya ya, ya sudah deh. Lain kali Kak Nay harus mau ya menginap di rumah kak Roy, kita ngobrol sampai pagi," ucap Zeya.


"Kalau lain kali sudah tidak bisa lagi lho Dek, kalian ngobrol sampai pagi! Karena mulai minggu depan, Kak Nayla sudah harus setiap hari menemani Kakak tidur," ucap Royan sambil tersenyum kepada Zeya.


"Jadi...Kak Roy dan Kak Nay akan


Royan dan Nayla pun mengangguk hingga membuat Zeya menghambur ke pelukan Nayla untuk memberi ucapan selamat.


Zero juga memberi ucapan selamat kepada Royan serta Nayla.


"Baiklah, sekarang kita berangkat yuk, biar emak dan Kiara bisa segera beristirahat," ajak Royan.


"Kami permisi dulu ya...saudara semua dan terimakasih sudah berusaha membantu." ucap emak kepada para warga.


Lalu Zero menuntun Mak Salmah menuju mobil Zeya, mak pun diminta duduk di depan oleh Royan.


Setelah naik semua, barulah Royan melajukan mobil adiknya meninggalkan perkampungan pemulung.


Mereka tiba di rumah Royan, emak dan Kiara merasa heran melihat rumah Royan sangat besar dan begitu megah hingga beliau ragu-ragu hendak melangkah masuk.


"Ayo Mak... silahkan masuk!" ucap Royan.


"Terimakasih Nak! rumah kamu sangat besar memangnya siapa saja yang tinggal di sini?" tanya emak.


"Nggak ada Mak, cuma aku sendiri, sesekali nih adik kecilku ikut menginap di sini," jawab Royan.


"Ih kakak...aku bukan adik kecilmu lagi lho, aku sudah dewasa dan pantas jadi istri seperti Kak Nayla."


"Dasar beo! Selesaikan dulu dong, sekolahmu, baru mikir nikah. Ya 'kan Ro? Kamu juga masih mau kuliah? jadi jangan kabulin dulu ya permintaan adik kecilku!" ucap Royan serius.


"Beres Kak! Aku mau kejar cita-cita dan punya usaha dulu, masalah nikah masih jauh, angan-angannya," ucap Zero sambil memandang wajah Zeya yang cemberut.


"Ayo senyum, kamu jelek jika seperti itu. Sekarang pergilah! antar emak dan Kiara ke kamar tamu, biar mereka bisa segera istirahat. Aku akan mengantar pulang Nayla dulu," ucap Royan.


"Kamu Ro, tidur di kamar atas ya, bersebelahan dengan kamar ku. Nanti malam ada yang ingin aku bahas denganmu masalah proyek kita," ucap Royan lagi.


"Oke Kak," jawab Zero.


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing yang sudah disiapkan oleh Zeya dan pelayan yang bekerja di sana, sedangkan Royan pergi mengantar Nayla pulang.


🌟🌟🌟


Mampir yuk sobat, kita lagi pertukaran promo ya, aku promoin karya sahabatku ke para pembaca karyaku dan mereka juga promoin karyaku ya ke para pembaca mereka, besok promo terakhir lho. Yuk buruan mampir dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga di sana ya. Terimakasih πŸ™


Maaf jika mengganggu ke asyikan kalian dalam membaca, di harap maklum ya...πŸ™


BLURB KARYA :




Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.



Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.



![](contribute/fiction/4470767/markdown/24522111/1654105542395.jpg)