SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 37. DITOLAK KEMBALI


"Bagaimana keadaan Ibu Dek?" tanya Zero.


"Alhamdulillah Kak, kata dokter, besok sudah boleh pulang."


"Oh, syukurlah. Jadi kalian balik ke kontrakan yang lama?"


"Nggak Kak, kata Pak Lurah, kami di suruh tinggal di paviliun rumahnya. Beliau takut preman-preman itu akan datang lagi melukai kami."


"Kak Zero ikut senang Dek, kalian akan lebih terlindungi di sana. Nggak mungkin 'kan, Pak lurah akan membiarkan preman-preman itu mengusik kalian lagi jika kalian tinggal di lingkungan rumah beliau."


"Mudah-mudahan Kak, mereka tidak akan mengganggu lagi. Oh ya Kak, ayo kita temui Ibu."


Mereka pun segera menghampiri ibu yang saat ini sedang duduk mengupas buah.


"Eh ada Nak Zero, ini teman Nak Zero ya?"


"Iya Bu, itu teman Zero namanya Bang Togar."


Togar pun memperkenalkan dirinya, lalu mereka membicarakan tentang kepulangan ibu, besok.


"Rencananya mau pulang naik apa besok Bu, biar besok Zero datang lebih awal."


"Nggak usah repot-repot Nak! Kata Pak lurah, besok beliau Yanng akan menjemput menggunakan mobilnya."


"Oh gitu ya Bu, baik banget Pak lurah ya Bu."


"Iya Nak, Ibu sangat berterimakasih kepada beliau, sudah menolong kami dan sekarang malah disuruh nempati paviliunnya tanpa membayar sewa. Bu lurah juga sayang terhadap adiknya Seto."


"Alhamdulillah ya Bu, Oh ya Bu kalau begitu kami pamit dulu ya, sebentar lagi adzan mau langsung ke masjid, setelah itu pergi ke lapas Bu, kemaren saya tidak di perbolehkan masuk, tapi hari ini bagaimanapun caranya, saya harus bisa bertemu Pak Arya."


"Hati-hati ya Nak, terimakasih sudah menjenguk ibu. Terimakasih ya Nak Togar."


"Sama-sama Bu," ucap Zero dan Togar serempak.


Mereka meninggalkan rumah sakit setelah pamit kepada Seto dan langsung menuju masjid. Setelah melaksanakan kewajiban, Zero mengajak Bang Togar untuk makan siang baru terlebih dahulu sebelum pergi ke lapas.


Selesai makan mereka tidak mau membuang waktu lagi, Togar dan Zero langsung menemui penjaga lapas. Kali ini Togar yang berbicara dengan penjaga, dia penasaran apa benar yang dikatakan Zero bahwa mereka berusaha menghalangi siapapun yang akan menjenguk Pak Arya.


"Selamat siang Pak!" sapa Togar.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya penjaga lapas.


"Saya mau mengunjungi Pak Arya Wiguna Pak!"


"Maaf anda siapanya?"


"Saya temannya Pak."


"Oh maaf, Pak Arya Wiguna tidak mau ditemui oleh temannya, itu permintaan beliau," ucap penjaga lapas lagi.


"Sebentar saja Pak, pasti Pak Arya nya mau ketemu saya," ucap Togar lagi.


"Nggak mungkin, karena ini perintah beliau langsung," ucap penjaga yang jelas nampak keberatan.


"Tetap tidak bisa, siapapun tidak boleh menjenguk beliau, itu perintah."


"Oh gitu ya Pak, jika saya datang dengan pengacara bagaimana Pak?"


"Jadi kamu ngancam saya ini?"


"Bukan ngancam Pak, tapi cari keadilan. Bapak membiarkan orang lain masuk menjenguk keluarga mereka, kenapa kami tidak boleh. Apa bedanya kami dengan mereka Pak."


"Pokoknya tidak boleh menjenguk Pak Arya, kalian bandel sekali sih!"


"Baiklah jika begitu, kami akan kembali nanti dengan membawa pengacara," ucap Togar marah.


"Silahkan," tantang penjaga lapas.


Togar yang hatinya panas segera mendekat dan menarik kerah baju salah satu penjaga, "Kalian jangan macam-macam ya, kalian pikir aku takut. Aku juga mantan napi, membunuh kalian pun sekarang aku bisa. Aku tidak takut jika harus di tahan lagi."


"Jadi kamu ngancam!" seru penjaga satu lagi.


"Kalau iya, kalian mau apa?" tantang Togar.


"Sudah Bang! tidak usah berdebat lagi, mending kita cari pengacara batu datang lagi kesini," ajak Zero.


"Kalian pikir murah bayaran pengacara?" cemooh salah satu penjaga.


"Membeli jabatanmu pun kami bisa," ucap Togar yang semakin marah.


"Sudah Bang! percuma melayani mereka, mending kita pergi dari sini untuk mencari pengacara."


Zero menarik tangan Togar yang sudah mengepal, dia takut Togar hilang kendali dan bisa merugikan diri mereka sendiri.


"Ayo Bang, kita keluar," ajak Zero.


"Tapi aku tidak terima Dek, mereka sudah keterlaluan, jangan-jangan mereka telah melakukan sesuatu kepada Pak Arya, makanya semua orang tidak boleh menjenguk."


"Biar saja Bang, nanti pengacara yang akan bicara kepada mereka," ucap Zero.


"Begini saja Bang, Abang hubungi pengacara ternama di kota ini, mengenai biayanya nego saja langsung, berapa pun biaya pengacaranya, aku sanggup Bang. Jika nanti minta dp, sanggupi saja biar aku transfer langsung," ucap Zero.


"Yakin ini Dek," tanya Togar.


"Apa aku pernah berbohong sama Abang? Pergilah Bang, aku tunggu di sini, siapa tahu mereka lengah dan aku bisa nyelonong masuk. Ini Bang! buat ongkos taksi," ucap Zero sembari memasukkan sejumlah uang ke kantong Togar.


"Abang masih ada uang kok Dek!


"Ambillah Bang, nanti berikan saja kepada istri Abang.


Togar pun mengangguk lalu dia pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Zero membuka tasnya, mengambil rompi dan memakainya. Kini Zero siap menyusup, dengan wujudnya yang tidak terlihat.


🌟 Jangan lupa dukungannya ya para sobat, follow akun, pavorit karya, vote, like, coment dan rate bintang limanya.πŸ™πŸ˜‰


🌟 Terimakasih atas semua dukungannya selama ini dan aku tunggu terus ya, dukungan selanjutnya. See you β™₯️β™₯️β™₯️