SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 167. TETAP ADIK WALAU TAK SEDARAH


Zero keluar mencari obat, dia berkeliling mencari kotak P3K, pasti mereka memiliki stok obat di tempat terpencil seperti ini.


Ternyata dugaan Zero benar, dia melihat kotak P3K tergantung di dinding menuju pintu dapur.


Dengan bergegas Zero membuka kotak itu lalu mencari obat untuk luka. Dia mengambil beberapa botol, rencananya ingin memberikan kepada keempat temannya itu.


Setelah mendapatkan obat, Zero kembali ke kamar Zeya dan menyerahkan obat tersebut agar Zeya bisa mengoleskan ke luka Royan. Lalu dia pamit ingin mencari keberadaan keempat anak buah Royan tadi.


Setelah berkeliling, Zero pun menemukan mereka, lalu dia berkata dengan nada suara yang berbeda, "Ambillah ini, obati luka-luka dan kembalilah ke kapal yang menunggu, sebelum orang-orang jahat itu menangkap kalian lagi," ucap Zero.


"Terimakasih Zurich, tapi kami tidak bisa pergi sebelum menemukan Bos kami," ucap salah satu dari mereka.


"Kalian pergilah dulu, tunggu di sana saja, aku akan menolong Bos kalian," ucap Zero.


"Baiklah Zurich, tapi jika sampai malam Bos kami belum juga datang, kami akan kembali kesini untuk mencarinya lagi," ucap salah satunya lagi.


"Aku janji, akan segera membebaskan Bos kalian, sekarang pergilah, sebelum mereka datang dan menangkap kalian lagi!"


"Terimakasih Zurich atas semua bantuanmu, kami akan pergi dari sini," ucap mereka serempak, lalu keempatnya berlari meninggalkan villa dan kembali ke kapal.


Nahkoda dan awak kapal yang menunggu merasa senang melihat empat orang sudah kembali tapi mereka lalu bertanya, " Yang tiga orang lagi kemana, kok tidak ikut kembali, "tanya Nahkoda kapal.


"Satu teman kami meninggal tertembak, dua lagi belum kami temukan, tapi ada Zurich yang membantu kami, berjanji akan mencari mereka dan membawanya kesini, sebelum malam tiba."


"Kita tunggu saja ya sampai malam, jika kedua Bos kami itu tidak kembali, kalian boleh pergi. Anggap saja, kami semua sudah mati di sini, karena kami tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa mereka," ucap salah satu anak buah Royan.


Mereka memang terlatih dan setia sampai mati kepada Royan. Jadi jika Royan tidak kembali maka mereka juga memilih mati di sini.


"Nahkoda dan awak kapal itupun salut melihat kesetiaan keempat orang ini, lalu mereka pun berkata, "Baiklah kita tunggu mereka sampai malam tiba, jika mereka tidak kembali juga, kita semua akan balik ke villa, kami akan ikut mencari mereka walau nyawa taruhannya."


"Terimakasih Pak, sudah ikut peduli dengan keberadaan Bos kami."


Nahkoda dan awak kapal itupun mengangguk, lalu mereka menyiapkan makanan serta minuman untuk keempat anak buah Royan.


"Makan dan minumlah dulu, biar kalian punya banyak tenaga untuk menolong mereka."


Keempat orang itupun makan lalu setelah itu saling mengobati luka-luka mereka dengan obat yang tadi Zero berikan.


Setelah itu mereka beristirahat sambil menunggu janji Zero yang mereka anggap Zurich tadi.


Nahkoda meminta mereka untuk tidur, biarlah dia dan temannya yang akan menunggu. Keempat anak buah Royan itupun setuju, merekapun tidur untuk memulihkan tenaga.


Sedangkan Zero yang kembali ke kamar Zeya, membantu mengobati luka-luka Royan. Kini Royan sudah sadar, dia terkejut melihat Zero dan Zeya ada bersamanya.


"Kita di mana ini Dek? Apa kita selamat dan telah keluar dari pulau? " tanya Royan.


"Belum Kak, kita masih berada di dalam Villa. Kami menunggu kakak sadar, barulah kita keluar dari tempat ini," ucap Zero.


"Kalau begitu, ayolah cepat kita keluar dari sini, lihatlah Ro, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, sebentar lagi malam dan kita tidak akan bisa keluar lagi dari sini," ucap Royan, yang di balas anggukan oleh Zero.


"Apa maksud Kakak?" tanya Zeya.


"Oh gitu ya Kak. Ayolah kita jangan buang waktu lagi, jangan sampai mama dan yang lain kembali kesini. Sebentar lagi pengawal pasti datang untuk mengantar makanan," ucap Zeya.


"Iya, Zeya betul Kak, ayo kita keluar sekarang juga. Kakak masih kuat 'kan untuk berjalan?" tanya Zero.


"Mudah-mudahan bisa Ro," jawab Royan sambil berusaha untuk berdiri. Zero pun membantu memapah Royan, mereka bertiga meninggalkan tempat itu dengan lewat jalur belakang agar tidak menimbulkan kecurigaan Shena dan yang lain.


Saat hampir tiba di kapal, Royan teringat anak buahnya, lalu dia bertanya kepada Zero, "Bagaimana dengan pengawal ku Ro, apa mereka semua tewas?"


"Hanya satu yang tewas Kak, Kakak tenang saja, mereka berempst sudah ada di kapal saat ini," ucap Zero.


"Kamu kok tahu Ro?" tanya Royan hingga membuat Zero gugup. Dia bingung bagaimana harus membuat alasan.


"Tadi ada suara ghaib berbisik kepadaku tentang keberadaan anak buah kakak," jawab Zeya yang ingin menolong Zero.


"Kita lihat saja kak, apa benar bisikan ghaib itu, bisa saja benar 'kan kak, ini kan pulau terpencil pasti masih banyak keanehan yang terjadi di sini, termasuk adanya Zurich," ucap Zero.


"Ya sudah, mudah-mudahan mereka benar selamat," ucap Royan.


Ketika Nahkoda dan awak kapal melihat dan mendengar ada orang yang datang mendekat ke kapal, mereka segera membangunkan keempat anak buah Royan.


Lalu keempatnya turun dan mereka bersorak senang saat melihat kedua Bos yang mereka tunggu sudah kembali, bahkan membawa serta Bos wanita mereka.


Keempatnya saling berpelukan dan mereka mengucapkan selamat datang kepada Royan, Zero dan Zeya.


Kemudian keempatnya membantu Royan Naik, disusul oleh Zero dan Zeya.


Setelah semua naik, Nahkoda pun berkata, "Sudah siap semua! Sekarang kita berangkat pulang menikmati kebebasan," ucapnya sambil tertawa.


Semua pun ikut tertawa, lalu mereka saling bercerita tentang kekejaman Shena beserta teman-temannya.


Zeya tidak marah sama sekali saat mereka menceritakan keburukan dan kekejaman Shena, justru dia ingin, Royan memberi pelajaran kepada mama Shena dengan memenjarakannya nanti dengan tuduhan penganiayaan terhadap mereka semua.


Royan masih diam, dia tahu adiknya sedang sedih, kemudian dia menarik Zeya dan mendekapnya erat sambil berkata, "Sabarlah Dek, Kakak tahu saat ini hatimu sedang hancur, pada saatnya nanti Mama pasti akan mendapatkan ganjarannya," ucap Royan sambil menghapus air mata Zeya yang menetes di pipinya.


"Tapi kakak belum tahu 'kan ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh mama tentang hubungan kita sebenarnya," ucap Zeya sesenggukan.


"Memangnya rahasia apa yang kakak tidak ketahui Dek?" tanya Royan sambil mengelus rambut adiknya.


"Kita tidak sedarah Kak, kata mama aku bukan anak Papa dan Kakak bukan kakakku."


"Kamu nggak usah dengarkan omongan mama, mungkin beliau sedang marah, karena kamu selalu membela kakak di depannya," ucap Royan mencoba tenang.


"Tidak Kak, bahkan Mama sudah meminta pengawalnya, mengambil sample rambut kita dan membawa ke rumah sakit kota untuk dilakukan tes DNA," ucap Zeya lagi.


"Sudah Dek, tidak usah dipikirkan, walaupun nanti hasil itu menunjukkan jika kamu bukan adikku, aku tidak peduli, kamu tetap adik manjaku untuk selama-lamanya, meskipun kita tak sedarah," ucap Royan sambil mempererat pelukannya dan mencium puncak kepala Zeya.


Zeya menangis tergugu, Royan juga meneteskan air mata, dia tidak mengira jika ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh mama Shena selama berpuluh tahun, dan dia tidak tahu apakah almarhum Papanya mengetahui rahasia ini atau tidak. Yang jelas pengakuan hamilnya mama Shena dulu telah menghancurkan hati mama Royan yaitu Mama Ambar.