SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 92. TAKUT


Ketika Zeya hampir saja tertidur, dia mendengar suara klakson mobil berulang-ulang hingga membuat dirinya bangkit dan mengintip dari balik jendela.


Ternyata Mamanya pulang bersama seorang laki-laki yang tidak Zeya kenal. Mereka tampak akrab dan mesra. Melihat hal itu, Zeya pun buru-buru memakai sweater untuk menutupi lengannya karena dia hanya memakai baju tidur yang tidak berlengan.


Kemudian Zeya pun keluar dari kamar, dengan setengah berlari diapun menuruni anak tangga, Zeya merasa penasaran ingin melihat dari dekat, siapa sebenarnya pria yang saat ini bersama mamanya.


Shena kaget saat Zeya yang membukakan pintu. Kemudian dia dengan gugup memperkenalkan pria yang saat ini sedang bersamanya.


"Perkenalkan Zeya, ini teman Mama," ucap Shena.


"Oh ya, ini putriku," ucap Shena lagi kepada pria tersebut karena Zeya tidak bereaksi apapun saat pria itu mengulurkan tangan.


"Mama hanya pulang sebentar Zey, mau mengambil sesuatu yang tertinggal. Kamu tidurlah! jangan tunggu Mama, Mama ada urusan dan mungkin tidak pulang malam ini."


"Lantas Mama menginap di mana? di hotel atau di rumah berondong Mama ini!" ucap Zeya kasar. Zeya sudah tidak tahan dengan sikap mamanya, yang sejak dulu tidak berubah dan lebih memilih bersenang-senang dengan para pria ketimbang memperhatikan Zeya.


"Zeya! Jaga mulut kamu! Aku mamamu, tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu!" bentak Shena.


"Jadi, aku harus berkata apa Ma? jika kenyataannya memang seperti itu 'kan? Mungkin papa struk dan meninggal juga gara-gara Mama!" ucap Zeya sambil menangis.


Plaakk


Shena pun menampar Zeya, hingga membuat Zeya semakin menangis dan berlari naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Tante tidak boleh seperti itu! Bagaimana pun dia adalah putrimu, dia cantik ya? dan sepertinya tidak mirip denganmu. Apa tidak sebaiknya kita menginap di sini saja malam ini Tan?" tanya Frem yang mungkin saja terbersit ide untuk mendekati Zeya yang menurutnya sangat cantik.


"Apa maksudmu frem? Jangan coba-coba kamu punya maksud lain di balik ucapanmu itu ya!" ucap Mama Shena curiga.


"Mana mungkin Tan! Mana berani aku menggoda putri Tante," ucap Frem sambil mengacungkan kedua jarinya.


"Baiklah! Aku juga kasihan melihat Zeya sendirian, aku heran sih! mengapa dia menginap di sini. Biasanya dia selalu tidur di rumah Royan, Kakak tirinya.


"Ya sudahlah, ayo kita ke kamar, bukankah kamu sudah tidak sabar ingin bersenang-senang," ucap Frem sambil merangkul Shena.


"Yang mana kamar kita?" tanya Frem.


"Kita di kamar bawah saja," ajak Shena.


Frem menggendong Shena menuju kamar yang dimaksud, hingga membuat wanita itu tersenyum senang.


Apalagi saat Frem mencium Shena hingga membuatnya mabuk kepayang. Shena terbuai dengan rayuan Frem, dia berjanji akan memberikan berapapun yang Frem minta jika malam ini berhasil menyenangkannya.


Shena pun mengunci pintu kamar itu dan entah apa yang terjadi di dalam sana, hanya mereka berdua saja yang tahu.


Sementara, Zeya kembali berbaring, dia berusaha memejamkan mata dan menghilangkan perasaan jengkelnya terhadap sang Mama.


Lalu Zeya berusaha bersikap masa bodoh tentang apa yang mamanya lakukan bersama pria tersebut malam ini. Dia memasang alat untuk mendengarkan musik dari dalam ponselnya, hingga lupa dan tertidur.


Tapi Zeya lupa mengunci pintu kamarnya, hingga tanpa dia sadari seseorang masuk ke dalam kamar dan berdiri memperhatikan dirinya yang sedang terlelap.


Melihat pria itu terjatuh tanpa berpikir panjang lagi, Zeya menyambar tasnya yang berada diatas nakas, lalu berlari keluar kamar sambil berteriak dan menangis.


Saat ini yang ada dalam pikiran Zeya adalah pergi dari rumah almarhum Papanya, sebelum pria itu berhasil menangkapnya.


Untung saja, kunci pintu depan masih tergantung di sana, mungkin saja mamanya lupa membawanya masuk.


Zeya menoleh ke belakang, kakinya gemetar saat melihat Frem sudah menuruni anak tangga. Zeya sudah menjerit tapi tidak satupun yang mendengar, mereka seperti di telan bumi, tidak ada satupun yang keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi ataupun untuk menolongnya.


Dengan tangan gemetar, Zeya membuka pintu, lalu dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dengan begitu dia berharap pria tersebut tidak bisa mengejarnya. Namun Zeya lupa jika Frem bisa saja keluar lewat pintu samping.


Zeya mencari kunci mobil di dalam tasnya, tapi tidak dia temukan, yang ada hanyalah ponsel serta beberapa lembar uang yang tersimpan rapi dalam dompetnya.


Dia segera bergegas ke arah gerbang menuju pos jaga, ternyata penjaga sedang tertidur. Zeya mencari kunci gerbang, dia harus cepat pergi sebelum Frem datang.


Zeya membangunkan penjaga, dia minta dibukakan gerbang hingga membuat penjaga bingung sebenarnya mau kemana Nona mudanya keluar malam-malam begini hanya dengan memakai pakaian tidur dan tanpa alas kaki.


"Non...Non mau kemana? kenapa Non menangis dan sepertinya ketakutan?"


"Cepat Mang! Aku harus pergi dari sini sebelum terlambat, aku tidak bisa cerita sekarang," ucap Zeya sambil menghapus air matanya.


Penjaga gerbang pun membuka pintu, lalu Zeya berlari keluar menuju jalan raya.


"Non... Tunggu! Non Zeya mau kemana malam-malam begini, bahaya lho Non!" ucap Mamang penjaga pintu sambil mengejar Zeya yang belum pergi jauh karena kakinya sakit berlari tanpa memakai alas kaki.


"Mamang balik saja, jika nanti laki-laki yang tadi datang dengan mama mengejarku, tolong halangi dia ya mang, jangan sampai mencari aku," ucap Zeya.


"Baiklah Non! Tapi Non harus hati-hati, jaga diri Non, aku akan menghalangi pria itu," ucap papa Melanie.


Di dalam rumah, Frem mencari jalan agar bisa keluar, dia harus bisa keluar untuk mengejar Zeya. Bagaimanapun caranya Frem harus bisa memaksa Zeya agar tutup mulut dengan apa yang terjadi barusan.


Dia akhirnya keluar dari pintu lain


dan keluar menuju gerbang. Kemudian Frem bertanya kemana Zeya pergi, mamang penjaga gerbang pun berkata, "Memangnya apa yang terjadi Tuan? Kenapa Non Zeya seperti ketakutan?"


"Oh... tidak terjadi apa-apa, hanya salah paham saja, saya harus mengejar Zeya untuk menjelaskan semuanya," ucap Frem sambil berjalan keluar gerbang.


Frem yakin gadis itu pasti belum jauh, dia pasti bisa mengejar dan menemukannya.


Zeya terus berlari sambil berusaha menelephone Zero. Setelah beberapa kali menelephone barulah terdengar suara Zero menjawab di sana dengan suara khas, orang yang baru saja bangun tidur.


"Ada apa Zey, hallo...hallo Zeya, kenapa kamu menangis? Ayo jelaskan pelan-pelan."


Zeya pun berhenti berlari, lalu dengan masih terisak, diapun menceritakan awal mula kejadian yang baru saja dialaminya sambil matanya terus menatap ke arah belakang.


Belum Zeya menyelesaikan kalimatnya, dia melihat sosok orang di kejauhan, dia yakin itu adalah Frem yang sedang mengejarnya.