
Ibu Ahmad menjunjung pemberian Zero di atas kepala, beliau menangis haru mendapatkan begitu banyak kebaikan dari Zero.
Ahmad juga mengucapkan terimakasih, lalu dia berkata lagi "Terlalu banyak jasa Kak Zero buat keluarga kami, apalah yang bisa aku bantu Kak, untuk membalas jasamu?" tanya Ahmad dengan mata yang memerah karena menahan tangis.
"Doa Mad, bantulah aku dengan doa, semoga yang kami kerjakan semuanya mendapatkan keberkahan. Oh ya Mad, kamu ingin sekolah 'kan?"
"Ingin sekali Kak! tapi apalah dayaku dengan tangan yang cacat, aku tidak bisa melakukan apapun. Biarlah...jika nanti situasi sudah tenang, aku akan jualan kacang keliling lagi, demi membiayai sekolah adik. Mungkin memang sudah takdirku lahir seperti ini dan menjadi anak yang buta tulis baca," ucap Ahmad sedih.
"Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih Mad, aku hanya ingin kamu memiliki harapan, kita akan menemui dokter untuk mengkonsultasikan kondisi tanganmu. Jika memungkinkan, kita akan meminta dokter agar mengoperasi dan memberimu tangan tambahan. Jadi kamu nantinya bisa sekolah dan melakukan hal lain seperti kami."
"Benarkah itu Kak? Masih adakah harapan untukku supaya bisa hidup normal seperti kalian? Benarkah apa yang aku dengar ini Bang Togar? Aku tidak sedang bermimpi 'kan Bu?" Tanya Ahmad bertubi kepada orang-orang di sekelilingnya.
Mereka semua mengangguk sembari tersenyum, hal ini menumbuhkan harapan baru di hati Ahmad.
Saking senangnya, Ahmad pun bersorak, berputar mengelilingi Zero Togar serta ibu, sambil berkata, "Hore!!! Aku akan punya tangan, aku akan bisa hidup normal, aku akan sekolah, aku akan bisa memeluk Kak Zero, memeluk ibu serta adik. Hore!!! Terimakasih ya Allah, terimakasih Kak Zero," ucap Ahmad sembari bersujud di lantai dan menangis.
Semua yang ada di sana ikut menangis, termasuk Bang Togar. Dalam hatinya Bang Togar berkata, 'Aku bersyukur Tuhan, Engkau telah memberiku hidup yang sempurna. Betapa bodohnya aku selama ini yang telah menyia-nyiakan hidup, menggunakan tanganku untuk berbuat maksiat. Hari ini, mata dan hatiku benar-benar terbuka, saat melihat seorang anak begitu bahagia mendambakan, memiliki kedua tangan hanya untuk memeluk Ibunya dan orang-orang terkasihnya, sedangkan aku ..., apa yang telah aku lakukan dengan tangan ini !!! bertahun-tahun, aku tidak mempergunakannya dengan benar. Aku malu Tuhan, Aku malu Terhadap-Mu dan aku malu terhadapnya.'
"Bangunlah Dek! besok Kakak dan Bang Togar akan datang kesini menjemputmu, kita akan pergi ke dokter untuk mengkonsultasikan tanganmu. Jadi, malam ini, kita sama berdo'a, semoga Allah mempermudah semuanya dan kamu akan segera memiliki tangan seperti yang kita harapkan."
"Terimakasih Kak, aku tidak tahu harus berkata apa, jika Allah mengizinkan aku mempunyai tangan, setelah sembuh dari operasi, orang pertama yang ingin aku peluk adalah Kak Zero. Aku ingin mengusap wajah Kakak, wajah malaikat penolongku dan penolong keluargaku," ucap Ahmad dengan tulus.
"Boleh 'kan Bu?" tanya Ahmad kepada ibunya.
"Tentu saja Nak, ibu tidak keberatan sama sekali. Zero memang malaikat dalam kehidupan kita."
"Ibu bisa saja, aku hanya seorang hamba Bu, yang ingin berbagi kebahagiaan bersama Emak, bersama teman, bersama adik dan seluruh orang-orang terkasih yang ada di sekelilingku."
"Dan aku adalah salah satu orang yang beruntung, bisa kenal dan dekat denganmu Dek. Walau kita beda keyakinan, tapi apa yang kamu lakukan, juga diajarkan dalam agama kami," ucap Togar.
"Iya Bang, semua agama pasti mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama."
"Kami permisi dulu ya Bu, masih ada yang harus di kerjakan," pamit Togar.
"Jangan lupa ya Dek, besok jam 8 pagi kami akan datang menjemputmu," ucap Zero, lalu pamit kepada ibu.
"Mau kemana kita ini Dek?" tanya Togar.
"Kita ke pasar dulu ya Bang, cari toko ponsel, aku ingin membeli ponsel, karena ponselku sudah kuberikan untuk keluarganya Ahmad."
"Oke Dek, siap balapan!"
"Jangan Bang, kata dealer belum boleh."
"Iya ya, habisnya mantap sih motornya buat balapan."
"Berarti Abang, hoby balap motor juga ya?"
"Selama ini nonton saja sih, mau ikut nggak punya motor. Jika pakai motor Bang Beni bakal kena semprotlah."
"Oh ya Bang, memangnya Abang sudah lama kenal dengan Bang Beni?"
"Hampir 3 tahun Dek, nah itu yang sekarang Abang sesalkan, tangan Abang selama itu dipergunakan untuk menyakiti orang. Abang sangat malu tadi ketika melihat Ahmad Dek."
"Yang penting, Bang Togar 'kan sekarang sudah sadar, jadi bantu aku ya Bang, kita bersama-sama gunakan waktu yang ada untuk memperbaiki diri, berusaha agar berguna bagi orang lain."
"Iya Dek, ingatkan Abang ya Dek, jika Abang lari dari jalur lagi."
Togar membelokkan motor ke parkiran toko ponsel yang di maksud oleh Zero. Kemudian Zero turun dan bertanya kepada pelayan toko tentang jenis ponsel yang kualitas standar, tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah yang banyak di gemari oleh pembeli.
Pelayan toko pun menunjukkan beberapa jenis merk yang harganya rata-rata senilai 2jt an. Zero yang merasa bingung pun bertanya kepada Bang Togar, mana yang menurutnya bagus.
Bang Togar pun memilih sesuai seleranya dan Zero juga memilih salah satu untuk dirinya.
"Bungkus keduanya Mbak," pinta Zero kepada pelayan toko.
"Kok beli dua bos, memangnya buat siapa?"
"Untuk Abang, kan Abang yang memilih, nah satunya sesuai pilihanku."
"Tapi, aku sudah punya ponsel lho Dek."
"Berikan saja kepada istri Abang."
"Dia juga sudah punya bahkan lebih bagus dari punyaku."
"Ya sudah, kita berikan saja buat Kiara."
"Ya, buat Kiara saja! Pasti dia tidak punya ponsel dan bakalan senang jika kita kasi ke dia," ucap Bang Togar.
"Dan ini Bang..."
Belum sempat Zero menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba datang segerombolan orang mengepung mereka.
Togar kaget, sedangkan Zero sudah bisa menduga jika mereka adalah anak buah Royan di bawah naungan Bang Beni.
"Ternyata kamu di sini Togar!" teriak seseorang yang keluar dari kerumunan orang-oramg tak di kenal tersebut.
Togar sudah bisa menebak, pemilik suara itu adalah Beni. Namun Zero tetap menenangkan Togar, mereka harus menghadapi tamu tak di undang ini dengan hati dan kepala yang dingin.
"Hahaha... akhirnya kita bertemu lagi ya, kau telah berkhianat, gara-gara kau, kami semua menanggung akibatnya. Jadi kami harus membawamu ke hadapan Bos besar."
"Ayo, tangkap mereka!" seru Beni kepada anak buahnya.
"Bang...tidak ada jalan lain, kita harus melawan mereka," ucap Zero.
"Benar Dek."
Zero menggunakan kecekatan dan kecepatannya untuk melawan orang-orang yang datang menyerang.
Tubuhnya bergerak kesana-kemari dengan gesit.
Sebenarnya jika Zero mau, sekejap saja dia bisa merobohkan semua yang mengepung mereka. Tapi Zero tidak mau menimbulkan kecurigaan bagi banyak orang, tentang sistem yang saat ini dia miliki.
🌟Mumpung lagi semangat dan ada waktu senggang kita gas up ya, tapi jangan lupa ya sobat dukungannya.
🌟Ayo dukung terus karyaku dengan cara follow akun, pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya.
🌟Terimakasih bagi yang selalu memberikan dukungan, semoga berkah untuk ku dan berkah juga untuk kalian yang memberi.
🌟 Sekedar berbagi kebahagiaan ya para sobat, terimakasih aku ucapkan untuk kalian semua yang kemaren-kemaren telah memberikan semangat dan doa, alhamdulillah calon yang aku usung, memperoleh kemenangan menjadi Kades periode 6 tahun kedepan. (Nggak sia-sia kampanye, berpanas-panasan, teriak-teriak sampai suara hampir habis padahal sedang menjalankan puasa. Bak kata pepatah, usaha.... pasti tidak akan mengkhianati hasil).