
"Hallo...hallo Zey, kamu masih mendengar ku," ucap Zero khawatir karena tidak mendengar suara Zeya lagi.
Zero bergegas, mengambil tas, memakai rompi pemberian sistem, lalu keluar rumah tanpa ada seorang pun yang tahu.
Kemudian Zero menggunakan poin kekuatan serta kecepatannya untuk berlari menembus gelapnya malam.
Zeya yang merasa panik kembali berlari, dia tidak ingin tertangkap oleh Frem. Penerangan jalan yang tidak merata membuat sebagian jalan yang Zeya lalui sangat gelap
dan kebetulan saat itu tidak ada kenderaan yang lewat di sana.
Hal itu membuat rasa takut Zeya semakin bertambah serta bulu kuduknya pun berdiri. Dia tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa, harapan satu-satunya cuma Zero, tapi menurut Zeya, pastilah Zero membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa sampai ke tempatnya sekarang.
Saking takutnya, Zeya berlari tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya. Sebuah lubang berhasil membuatnya terjatuh hingga kaki kanannya sakit dan mungkin keseleo karena susah untuk digerakkan lagi.
Zeya tetap berusaha, dia berdiri, lalu berjalan terseok-seok sambil menahan rasa sakit pada kakinya, lutut serta tangannya pun berdarah karena tergores aspal.
Sementara ponselnya yang tadi sempat terhempas sekuatnya pun pecah, hingga tidak bisa dia gunakan lagi untuk saat ini.
"Kak Royan...Kak Zero! Bagaimana ini! Apa nasibku akan berakhir di sini, ditangan Frem. Aku tidak mau menyerah, aku lebih baik mati daripada kehormatan ku direnggut oleh dia. Aku tidak mau hidupku hancur! Ini gara-gara mama, kenapa musti berhubungan dengan lelaki keparat seperti Frem," monolog Zeya sambil masih terus berjalan dengan terseok-seok sambil menangis.
Rasa sakit pada kaki kanan Zeya semakin bertambah, sepertinya tambah membengkak hingga Zeya tidak bisa melanjutkan pelariannya lagi.
Dia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat bersembunyi, sebelum Frem semakin dekat.
Namun, Frem ternyata telah melihat Zeya dari kejauhan, dia sudah menduga Zeya tidak akan sanggup berlari jauh, apalagi tanpa alas kaki. Dan dia juga tahu pada tengah malam seperti ini tidak bakal seorangpun melintas di sana.
Frem tersenyum, lalu dia memperlambat larinya saat dia tidak lagi melihat bayangan Zeya. Kemudian Frem berkata, "Ayo keluarlah gadisku! Aku tahu kamu bersembunyi di sini. Kamu mau kita main petak umpet ya! Baiklah aku ikuti permainanmu," ucap Frem.
Zeya yang bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari tempat Frem berdiri hanya bisa menutup mulutnya, dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan bagi Frem.
Kemudian Frem berkata lagi, "Ayo manisku, keluarlah! Ayo sayang, aku tahu kakimu sakit dan kamu tidak bisa berjalan jauh lagi. Aku akan menggendongmu sayang! jadi keluarlah sekarang! Aku hitung sampai sepuluh ya, jika kamu tidak keluar juga, aku akan menjemput dan menggendongmu atau kita bersenang-senang di sini saja, pasti menyenangkan, tidak ada yang bakal mengganggu kita di sini," ucap Frem lagi hingga membuat Zeya semakin jijik.
Zeya hendak menjawab omongan Frem, karena menurutnya, pria itu sudah sangat keterlaluan, tapi dia sadar hal itu malah akan mempermudah Frem menemukannya.
"Satu...dua... tiga, ayolah manis, keluarlah! Aku tidak akan menyakitimu, kamu jangan takut, aku hanya ingin memberimu kenikmatan. Mama kamu saja sampai terlelap setelah kumanjakan," ucap Frem yang mulai mendekati tempat persembunyian Zeya.
"Kamu masih bandel ya! Aku hitung lagi, empat...lima....enam. Jika sampai hitungan kesepuluh kamu tidak keluar juga, jangan salahkan aku jika kita benar akan bermain di sini sampai aku puas dan setelah itu, aku akan mengikatmu telanjang di pohon itu, hingga binatang malam bisa ikut menikmatimu, sebelum orang-orang besok pagi menemukan jasadmu."
Sejenak Frem terdiam lalu dia melanjutkan ucapannya sambil terus berjalan mendekat kearah tempat persembunyian Zeya, "Jika kamu keluar, menyerahkan dirimu, maka aku akan memperlakukan mu seperti ratu. Kamu akan menjadi ratu di rumahku, setiap hari kita akan bersenang-senang di sana. Kamu akan menjadi wanita kesayanganku dan nggak usah takut tentang masalah uang, aku sudah mendapatkan banyak uang dari Mama kamu, jadi kita bisa menikmatinya bersama-sama."
Zeya bergidik ngeri sambil mempertimbangkan, jika dia keluar dari tempat persembunyiannya, pasti untuk sementara akan aman, dia bisa mencari jalan untuk lari saat di bawa ke rumah Frem.
Namun jika Zeya tetap memilih bersembunyi, dia takut Frem akan bertindak seperti ancamannya barusan.
"Baiklah... aku keluar! Aku menyerah! Aku memilih ikut kerumahmu!" ucap Zeya sembari keluar dari tempat persembunyiannya.
Frem menyeringai, dia tersenyum penuh kemenangan. Lalu dia berkata, "Nah! ini baru wanitaku, kalau dari tadi kamu menyerah dan menurut, nggak bakalan kakimu terluka. Ayo sini manis! Biar aku gendong, aku sudah menghubungi seseorang agar menjemput dan mengantar kita ke rumahku," ucap Frem sambil mengulurkan tangannya.
"Jangan sentuh! Aku bisa berjalan sendiri!" tepis Zeya ketika tangan Frem sudah hampir memegang tubuhnya.
"Oke...nggak masalah! Kita tunggu di sana! Temanku sebentar lagi juga sampai. Aku akan sabar sampai kamu sendiri nanti menyerahkan dirimu saat kita sudah sampai dirumahku."
Zeya berjalan terseok-seok ke pinggir jalan raya diikuti oleh Frem yang sudah siaga menangkap tubuh Zeya apabila dia terjatuh.
Sementara Zero yang berkali-kali berusaha menelephone Zeya tapi tidak tersambung, segera menghentikan larinya, lalu dia menerawang keberadaan Zeya.
Dalam cermin yang terdapat dalam pusaran, terlihatlah dimana Zeya sekarang berada dan masih terlihat aman karena Frem masih belum menyakitinya.
Zero kembali menggunakan seluruh kekuatannya, agar segera sampai untuk menyelamatkan Zeya.
Frem yang terus memperhatikan Zeya, merasa tidak sabar lagi, daya tarik gadis itu benar-benar membuatnya mabuk.
Dia memeluk Zeya dan ingin menciumnya, tapi Zeya meronta.
"Lepaskan aku! kamu ba**ngan!" bentak Zeya sambil mendorong Frem. Zeya berhasil mengelak dari Frem yang hampir saja berhasil menciumnya.
Melihat Zeya meronta semakin membuat Frem tertantang, dia kembali melancarkan aksinya, kali ini dia menggunakan kekuatan tenaganya untuk memaksa Zeya agar menuruti maunya.
Zeya terus meronta, dia semakin jijik dan berhasil menampar Frem hingga membuat Frem marah. Frem kembali memaksa dan kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Saat Frem hampir berhasil mencium Zeya, tiba-tiba dari arah belakang, seseorang memukul tubuh Frem dengan sangat keras hingga membuatnya terjatuh.
Ternyata Zero sudah sampai, dia datang tepat waktu dan berhasil menarik Zeya ke dalam pelukannya, sebelum dia ikut terjatuh menimpah tubuh Frem.
"Kak Zero...untung saja Kakak cepat datang, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang bakal ba**ngan itu lakukan terhadap ku Kak!" ucap Zeya sambil menangis dalam pelukan Zero.
"Iya... aku tahu, sekarang kamu tenang, jangan menangis lagi, aku akan memberi pelajaran dulu kepadanya," ucap Zero sambil melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah Frem yang sudah berdiri kembali.
Dengan geram, Frem berkata, "Kamu siapa! Ngapain kamu ikut campur urusan kami! Dia itu wanitaku, jadi silahkan kamu pergi dari sini!"
"Hahaha...apa kamu bilang! wanitamu? Sejak kapan dia jadi wanitamu? Asal kamu tahu ya, dia itu pacarku! Jadi tidak ada satu orangpun yang boleh menyakitinya," ucap Zero yang sudah bersiap untuk melawan Frem.
Frem pun mulai menyerang Zero, ternyata dia menguasai ilmu bela diri. Walaupun begitu Zero tidak gentar, dia melayani setiap serangan dari Frem dengan santai hingga akhirnya serangan telak dari Zero berhasil membuat Frem jatuh tersungkur, terkapar tidak sadarkan diri dengan mulut pecah serta mengeluarkan darah.