SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 65. MENGAJUKAN PERMOHONAN


"Kakak! Jangan emosi dulu, dia temanku lho...," bela Zeya.


"Jadi apa yang kalian lakukan di dalam! Kenapa, tadi kamu berteriak? Kakak 'kan sudah bilang, kamu jangan sembarangan dekat dengan pria manapun, apalagi dalam sebuah kamar, hanya berdua. Kamu masih terlalu polos Dek, gampang di bodohi pria hidung belang. Dunia ini kejam Dek, kakak nggak mau kamu ikut terseret di dalamnya."


"Kakak tenang saja, dia tidak melakukan apapun Kak. Seandainya tadi dia melakukan macam-macam terhadapku, sudah pasti, dia akan bertanggung jawab, dia pasti akan menikahiku, ya kan teman? Tapi sayang Kak, dia itu pemuda baik, dan pemuda yang takut khilaf, jadi tidak berani melakukan apapun. Saat ini kami hanya puas dan sepakat untuk bersahabat dulu sebelum merencanakan masa depan."


Zero yang mendengar jawaban Zeya tidak bisa berkata apapun. Dia hanya menggelengkan kepala, dan tidak habis pikir kenapa bisa bertemu serta bersahabat dengan seorang gadis yang menurutnya polos tapi rada-rada sableng dalam berucap.


Royan yang mendengar jawaban sang adik dan tahu adiknya suka bercanda langsung mengacak rambut Zeya, kemudian diapun berkata, "Ayo ke ruangan Kakak, ada yang ingin aku bicarakan, sekaligus !!perkenalkan temanmu itu, jangan pacaran ala backstreet, Kakak tidak suka.


"Ah Kakak, sudah ketangkap basah mana mungkin kami bisa backstreet lagi!"


Royan berjalan ke ruangan pribadinya yang ada di Villa tersebut diikuti oleh Zeya dan Zero. Setelah tiba di sana dia mempersilakan Zero untuk duduk.


Royan masih diam, dia menunggu adiknya memberi penjelasan tentang Zero, kenapa pemuda itu bisa masuk ke area Villa.


Sementara Zeya menyenggol lengan Zero sambil berbisik, "Ayo perkenalkan dirimu kepada Kakak, jangan takut, kakak ku baik dan aku akan belain kamu!"


Zero yang dipandangi oleh Royan lalu memperkenalkan diri dan menyebutkan dimana tempat tinggalnya. Royan yang mendengar hal itu lalu berkata, "Jadi, keluargamu, salah satu yang bakal terkena penggusuran karena proyekku?"


"Iya Bos," ucap Zero.


"Jangan panggil aku Bos, kamu teman Zeya, jadi kamu juga adikku, panggil saja aku dengan sebutan Kak Roy."


"Baiklah Kak Roy," ucap Zero.


Kesempatan ini dipergunakan oleh Zero untuk menyampaikan semua pendapatnya tentang penggusuran perkampungan tempat dia tinggal.


"Kak, aku boleh buat permohonan tentang kampungku, Tapi sebelumnya aku minta maaf jika saja permohonanku nanti tidak berkenan di hati Kakak."


"Apa itu Dek? Kakak akan pertimbangkan jika itu baik."


Sejenak Zero terdiam, dia masih menjaga perasaan Royan, dia tahu Royan telah mempersiapkan pembangunan tempat itu secara matang, jadi dia tidak berani terlalu berharap jika Royan bersedia mengabulkan permintaannya.


Royan pun terdiam sambil berpikir, menimbang-nimbang semua perkataan pemuda di hadapannya ini, kemudian Royan pun berkata, "Beri saya waktu seminggu, untuk memikirkan semuanya Dek, karena tidak bisa semudah itu untuk membatalkan proyek yang sudah hampir matang 100% rencana pelaksanaannya."


"Iya Kak, saya tahu itu. Terimakasih telah mau mempertimbangkan permohonan saya," ucap Zero sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Oh ya Kak, aku boleh juga dong ngajukan usul!"


"Boleh, asal jangan yang aneh-aneh," ucap Royan.


"Kak...tolong bebaskan seseorang yang telah kakak penjarakan, kasihan keluarganya Kak, anaknya harus mulung untuk penuhi kebutuhan keluarga, mengorbankan diri tidak sekolah demi bisa mencari uang untuk membantu ibunya membayar kontrakan, sedangkan kita bersenang-senang di atas penderitaan mereka."


"Iya Dek, kakak sudah pikirkan hal itu. Besok pengacara Kakak akan mengurus semuanya dan kakak akan mengunjungi keluarganya untuk meminta maaf."


"Terimakasih Kak, sekali lagi terimakasih, aku juga akan menghubungi pengacara Pradipta tentang kabar baik ini," ucap Zero yang membuat Royan merasa heran.


"Kamu tahu tentang kasus ini? Kok kamu kenal Pradipta?" tanya Royan.


"Maaf Kak sebelumnya, aku dan teman-teman lah yang meminta tolong kepada Pak Pradipta untuk membuka kasus ini lagi dan memohon agar beliau mau membela Pak Arya Seto Wiguna dalam usaha membebaskannya," ucap Zero sambil tertunduk.


Royan menepuk pundak Zero, lalu dia berkata, "Aku sangat bersalah, aku malu sama kalian. Kalian lebih muda dariku tapi mampu berinisiatif melakukan kebaikan, walaupun mungkin banyak tantangan berat yang harus kalian lalui untuk mewujudkannya," ucap Royan lalu terdiam.


"Kalian jangan khawatir, aku akan memperbaiki kekacauan akibat perbuatanku yang lalu," ucap Royan lagi sambil menghela napas karena perasaan bersalah dan penyesalan yang besar.


"Terimakasih sekali lagi Kak, Temanku pasti senang mendengar berita ini, harapannya ingin berkumpul kembali dengan sang Ayah akan segera terwujud dan dia bisa bersekolah dengan tenang tanpa harus memikul beban, menjadi tulang punggung keluarga sebelum waktunya," ucap Zero bersemangat.


"Baiklah Kak, aku permisi dulu, aku ingin menemui temanku, menyampaikan berita gembira ini. Oh ya Kak, sebelum pergi aku ingin meminta maaf secara pribadi mewakili teman-teman, kekacauan yang terjadi di daerah pergudangan tempo hari adalah salah satu ulah kami Kak. Maaf...jika kami telah membuat perusahaan Kakak mengalami kerugian yang sangat besar."


"Sudah Dek, kalian tidak bersalah, bisnis kotor di sana sudah selesai, Kakak akan buka lembaran baru, menjalankan bisnis legal untuk mendapatkan rezeki yang halal."