SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 79. MENEPATI JANJI


Zero menikmati hidangan bersama dengan Pak Arya dan Seto, setelah selesai merekapun melanjutkan obrolan tentang bisnis apa yang cocok untuk di jalankan oleh Pak Arya.


Saat itu pula datanglah Pak Lurah beserta keluarga dan di susul oleh tetangga yang lain.


Setelah berbincang sejenak dengan Pak Lurah, Zero pun undur diri, dia pamit pulang dengan alasan takut ibu khawatir karena dia telat pulang dari sekolah.


Dalam perjalanan pulang, Zero berpikir apalagi yang harus dia kerjakan sambil menunggu jadwal operasi tangan Ahmad yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Zero menanti angkot tujuan pasar, sebelum pulang dia ingin mengecek saldo ATM nya sekaligus ingin membeli makanan buat emak dan yang lain.


Setibanya di pasar, Zero langsung mencari mesin ATM lalu dia memasukkan kartunya kedalam mesin mengikuti setiap perintah yang ada di sana hingga tampaklah di layar, jumlah saldo senilai Rp.9.840.650.000,-


Sistem telah mentransfer kekurangannya senilai 5M karena Zero telah berhasil menuntaskan misinya dan sistem administrasi perbankan juga telah mengurangi saldo senilai 50 juta yang tadi telah Zero transfer melalui ponselnya ke rekening pengacara Pradipta.


"Alhamdulillah," ucap syukur Zero. Kemudian Zero teringat dengan janjinya untuk membelikan motor buat fasilitas usaha Kiara dan istri Togar, lalu dia mencari dealer terdekat yang ada di sekitar pasar.


Karyawan dealer mempersilakan Zero masuk, lalu memperkenalkan aneka produk yang mereka jual. Zero berminat membeli Honda Scoopy prestige black keluaran terbaru dengan harga OTR Rp.21.750.000,-


Setelah melihat unit dan cocok dengan seleranya, Zero pun pergi ke bagian kasir untuk melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu debitnya. Kini saldo rekening Zero terpotong sejumlah tersebut dan tersisa Rp.9.818.900.000,-


Zero kembali kebagian pelayanan untuk melengkapi data pribadinya lalu meminta pihak dealer untuk mengantarkan unit sepeda motor sesuai alamat yang dia berikan.


Kemudian Zero pergi membeli berbagai makanan untuk emak dan teman-temannya. Saat dia ingin kembali menyetop angkot, ponselnya pun berdering, terlihat di sana nama calon istri sedang memanggil.


Zero mengklik tanda terima panggilan lalu mendengarkan celotehan Zeya yang menanyakan tentang keberadaannya sekarang. Setelah mendapatkan jawaban dari Zero, tanpa menunggu persetujuan, diapun meminta Zero untuk menunggunya. Zeya akan menemui Zero di sana dan akan mengantarnya pulang, sekaligus membicarakan tentang proyek yang telah dipercayakan Royan kepada mereka.


Zero menunggu kedatangan Zeya sambil minum es kelapa muda di pinggir jalan dekat emperan sebuah toko. Tidak lama menunggu Zeya pun tiba.


"Nggak Kak, terimakasih. Kita langsung jalan saja ya."


Zero pun membayar es kelapa yang dia minum, lalu naik ke mobil Zeya dan Zeya pun melajukan mobilnya ke arah rumah Zero.


Di dalam perjalanan, ponsel Zero berdering, ternyata panggilan dari Royan. Zero segera mengangkat panggilan tersebut, "Hallo Kak, bagaimana kabar Kakak dan Abah Mbak Nayla?" tanya Zero.


"Abah sudah sadar tapi kondisinya masih lemah, rencananya lusa kami akan membawa beliau keluar negeri agar mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Oh ya Dek, aku ingin memberitahu jika besok kalian ada meeting dengan Frengky mengenai proyek pembangunan yang bakal kalian tangani, jadi kakak harap kamu dan Zeya bisa bekerja maksimal demi terlaksananya impianmu dan impianku juga."


"Iya Kak, ini aku juga sedang bersama Zeya untuk membicarakan masalah itu."


"Syukurlah, mana Zeya Dek, Kakak mau ngomong sebentar dengan dia."


Zero segera mengarahkan poselnya kepada Zeya. Karena Zeya sedang menyetir maka Zero lah yang memegangi ponsel tersebut.


"Hallo Kak, semua surat-surat besok dikirim kesana sekaligus tas pakaian dan perlengkapan lain yang Kakak butuhkan. Aku sudah menyiapkan semuanya, jadi Kakak bisa langsung berangkat dari sana. Tapi aku tidak bisa mengantar Kakak, kami hanya bisa mendoakan semoga Abah cepat sembuh agar Kakak bisa secepatnya menikahi Mbak Nayla," ucap Zeya.


"Iya Dek, terimakasih ya. Satu pesan Kakak, bekerjalah dengan baik dan jika Mama pulang jangan biarkan beliau ikut campur dalam proyek yang kalian kerjakan, Kakak tidak mau proyek itu hancur."


"Siap Kak! Kak Royan jangan khawatirkan hal itu, aku tahu bagaimana menghadapi Mama sekarang."


"Ya sudah, Kakak tutup dulu ya, ini ada dokter datang, ingin memeriksa kondisi Abah.


Royan pun menutup panggilan, ternyata dia khawatir, jika Mama tirinya yang bernama Shena akan balik dari luar negeri dan merusuhi proyek impiannya.