SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 50. KEMBALI KE KEBIASAAN YANG LAMA


Royan bangkit, setelah puas meluapkan rasa kecewa, amarah dan kesedihannya. Kemudian dia mengambil kunci, lalu pergi meninggalkan rumah, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah Nayla.


Empat orang pelayan yang sejak tadi sore ketakutan melihat sikap Tuannya hari ini, hanya bisa berdiri mematung, menunggu sang Tuan keluar dari ruang kerjanya.


Setelah melihat kepergian Tuannya, dan melihat ruang kerja Royan pintunya tidak di tutup, ketiga pelayan itupun segera menuju ke ruang kerja Royan.


Setibanya di depan pintu, ketiganya saling pandang, mereka melihat ruang kerja itu hancur berantakan, banyak barang rusak, kaca berserakan, dan kertas berhamburan di lantai.


Salah satu dari mereka pergi untuk mengambil tong sampah, sapu, ember dan alat pel. Mereka berbagi tugas, ada yang mengumpulkan barang rusak, ada yang membuangnya, ada yang menyapu dan yang terakhir satu orang mengepel ruangan tersebut.


Setelah ruangan itu bersih, barulah keempat pelayan itu, menata kembali barang yang memang masih bisa di pakai.


Mereka memang sangat terkejut melihat Tuannya hari ini. Lebih dari sepuluh tahun mereka bekerja dengan Royan, baru kali ini melihat Tuan mudanya menangis.


Royan memang terkenal dingin dan kejam, tapi dia tidak pernah menyakiti para pelayannya, hingga merekapun betah tinggal dan bekerja di sana.


Para pelayan iba, mereka bertanya-tanya tentang masalah apa yang menimpa Royan hingga sampai dia menangis.


Satu orang pelayan yang usianya paling tua diantara keempatnya pun berkata, "Apa mungkin ada hubungannya dengan Non Nayla dan Mamanya Tuan Ya?"


"Kenapa Bibi bisa menduga karena hal itu?" tanya pelayan yang paling muda.


"Tadi waktu kita membersihkan ruangan ini, aku melihat bingkai foto Non Nayla dan bingkai foto Mamanya Tuan yang terletak di meja kerja, basah. Mungkin air mata Tuan yang telah membasahi bingkai foto tersebut. Dan apa kalian tidak curiga, sudah hampir seminggu Non Nayla tidak pernah lagi datang kesini dan Tuan Royan lebih sering mengurung diri di kamar daripada keluar rumah.


Beliau hanya akan keluar jika ada anak buah yang datang ingin menemuinya. Bahkan makanan pun selalu di antar ke kamar, padahal Tuan 'kan paling tidak suka jika di dalam kamarnya tercium aroma makanan. Ingat kalian! saat adik perempuan tiri Tuan datang dan membawa makanan ke kamar Tuan? Apa coba yang Tuan lakukan?"


"Tuan mengusirnya, padahal beliau sangat menyanyangi adiknya itu dan mengunci kamarnya hingga sang adik memutuskan untuk pulang," jawab salah satu pelayan.


"Nah betul kataku 'kan, sikap Tuan belakangan ini aneh."


"Iya ya Bi," ucap pelayan yang lain.


"Ya sudah! Ayo kita kembali bekerja. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Tuan, karena tadi beliau melajukan mobilnya dengan sangat kencang."


Para pelayan itupun mengangguk, lalu melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


Sementara Royan yang telah tiba di rumah Nayla, merasa cemas, saat melihat rumah itu sepi dan gelap.


Royan turun dari mobilnya, dia mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Royan mengulangnya kembali hasilnya tetap sama.


Kemudian Royan mengeluarkan ponsel yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan anak buahnya untuk menghubungi Nayla, tapi tidak ada jawaban, hanya suara operator yang meminta untuk meninggalkan pesan.


Berulangkali Royan mencoba tapi tetap tidak ada hasil, kemudian dengan langkah gontai, Royan kembali ke dalam mobilnya. Saat dia hendak melajukan mobil, Royan melihat tukang kebun di rumah Nayla baru saja tiba.


Royan kembali turun dari mobil lalu mendekati Mang Rifa'i, tanpa sadar Royan mencengkram kedua pundak tukang kebun itu dan mengguncang-guncangkan tubuhnya, hingga beliau merasa ketakutan.


Mang! Ayo katakan dimana Nayla? Cepat Mang! Aku mau ketemu Nayla. Aku harus bicara dengannya!" pinta Royan dengan tidak sabar.


"Ma...ma'af Tuan. Mamang tidak tahu dimana Non Nayla dan Abah sekarang tinggal. Sejak keluar dari rumah sakit, Non Nayla dan Abah tidak pulang ke rumah. Non hanya menelephone dan berpesan, agar kami menjaga dan mengurus rumah ini, sampai suatu saat mereka kembali. Mengenai gaji, Non Nayla akan mentransfer setiap bulan ke rekening kami masing-masing."


Royan sangat kecewa, dia menghempaskan tinjunya ke udara hingga membuat Mang Rifa'i begidik ngeri.


Kemudian Royan meninggalkan Mang Rifa'i tanpa berkata apapun lagi dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang.


Dalam temaramnya lampu jalan, Royan terus melajukan mobilnya, pikirannya kacau, hanya satu tempat yang dia tuju sekarang untuk menenangkan hatinya.


Royan pun pergi ke Club malam langganannya, di sinilah dia akan bersenang-senang menghilangkan perasaan stresnya. Mabuk dan di kelilingi banyak wanita cantik, itulah yang dulu sering dia lakukan sebelum mengenal Nayla.


Pemilik club tersenyum melihat kedatangan Royan, sudah lama sekali Bos mafia yang satu ini, tidak pernah lagi bersenang-senang di tempatnya. Paling hanya beberapa anak buahnya saja yang masih berkunjung, mencari kesenangan di sana.


"Selamat datang Tuan Royan, silakan masuk, senang sekali Tuan masih ingat dengan tempatku ini," ucap Hendri pemilik club.


Royan yang mendengar basa-basi dari pemilik club merasa malas, dia hanya mengibaskan tangannya dan berkata, "Siapkan tempat VIP dan minuman kesukaanku, sekarang juga! Kamu tahu 'kan? Aku paling tidak suka menunggu!" perintah Royan.


"Baik Tuan, aku sendiri yang akan menyiapkannya. Oh ya Tuan, ada barang baru, jamin oke, Tuan pasti suka."


"Terserah! Tapi aku tidak suka yang terlalu molek, centil dan agresif. Aku mau yang pendiam, hanya menemaniku minum tidak lebih, karena aku kesini hanya untuk menenangkan diri, jadi jangan sampai wanitamu malah membuatku tambah stres."


Pemilik club merasa heran, dia berpikir kesambet setan mana bos mafia yang satu ini. Permintaannya berbalik 180° dari waktu dulu saat Royan hampir setiap hari datang dan bersenang-senang dengan banyak wanita cantik di sini.


Royan pun masuk ke tempat yang telah disediakan oleh Hendri dan di dalam sana telah tersedia berbagai minuman kesukaan Royan.


Sementara Hendri masih bingung, pusing tujuh keliling, mencari tipe wanita seperti yang diinginkan oleh Royan.


Angela, wanita yang dulu merupakan kesayangan Royan mengajukan diri, dia merasa yakin malam ini masih mampu mengambil hati dan menyenangkan Royan.


Namun sebelumnya Hendri memberitahukan agar Angela berhati-hati dan mampu menjaga sikap, karena Royan yang ini sangat berbeda dengan Royan yang dulu.


Hendri pun menjelaskan tipe wanita seperti apa yang tadi diminta oleh Royan, sebelum Angela masuk ke dalam. Hendri tidak mau menanggung resiko, kehilangan lagi pelanggan kelas kakapnya itu.