REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Serigala encok


Hari demi hari berlalu, kedekatan Dita dan bangsa serigala pun semakin hangat, yang mana Dita diterima begitu baik oleh bangsa serigala.


Namun, itu semua tanpa sepengetahuan bangsa vampir yang membuat Dita sedikit cemas jika akan ada salah paham saat bangsa vampir mengetahui hal ini, sendiri Dita berdiri menatap diam.


Laga yang melihat Dita melamun pun segera menghampirinya, dengan godaan kecil yang ia lontarkan.


"Mikirin apa sih?. Kalo akumah gak usah dipikirin, kan aku dideket kamu terus."


"Apaan sih, nggak jelas deh" malu-malu Dita.


"Hehe, kamu mikirin apa sih, serius banget kayaknya?"


Sahut Dita mengatakan kekhawatirannya, karena ia tak ingin bangsa serigala dalam bahaya dengan keberadaannya ditempat persembunyian mereka.


Sambung Laga sambil menggelengkan kepala, "Kita akan baik-baik aja, dan kalaupun ada masalah, maka kita akan hadapi bersama. Kita gak bisa biarin kamu dalam bahaya Dit, dengan ngebiarin kamu berkeliaran sendiri diluar."


"Tapi, Laga. Kenapa kalian nggak paham (terhenti)..."


Langsung Laga mengarahkan telunjuknya kemulut Dita, "Syutt... kamu bakal tetep disini, dan nggak akan kemana-mana. Kamu paham?"


Hening sejenak mereka saling menatap lembut.


Tak sengaja Anggin melintas, hentinya menatap dingin melihat kedekatan laga dan Dita.


"Vampir, dan Serigala" lirih Anggin seketika teringat Riko.


Paksanya menghilangkan ingatan itu dan segera menjauh. Kembali langkah kaki Anggin terhenti disebuah tempat menyendiri, bertanya-tanya ia apakah bisa suatu hari nanti bangsa serigala dan vampir benar-benar bersatu.


"Kenapa gue menghawatirkan suatu hal yang pasti nggak akan pernah terjadi, udahlah Anggin jangan bego!. Buang semua angan-angan lo ini" batinnya.


Hening sepi malam ini, berdiri Anggin menyandar disebuah pohon dengan kedua tangan menyilang dan menatap langit. Namun, keheningan itu seolah hilang dengan getaran ponsel yang sedikit mengganggu.


"Apaan sih!" bete Anggin mengambil ponsel disaku jaket.


"Marsel?. Ganggu banget ni makhluk satu!"


"Hmmh, kenapa?"


"Lo dimana!" pekik Marsel.


Risih Anggin dengan suara berisik Marsel, menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Berisik lo!" balas kesal Anggin.


"Bisa biasa aja nggak?" nada lucu Marsel.


"Lo itu bisa biasa nggak!"


"Yaudah!"


"Udah ya nggak usah buang-buang waktu, sekarang lo dimana?"


"Dihutan, kenapa!"


"Nggak banget ya, sekarang mainnya dihutan mulu hha" cibir Marsel.


Sahut Anggin dengan nada kesalnya mengatakan pada Marsel untuk tidak meneleponnya jika tidak memiliki kepentingan. Henti Marsel meminta Anggin untuk segera pulang.


"Gue lagi ada urusan, udah jangan ganggu gue!" langsung Anggin mematikan telepon.


Heran Marsel menaikan sebelah bibir sembari menatap ponsel, "Gini nih kalo punya adik jadi-jadian, dihutan terus!"


Hela nafas Anggin kembali melesat pergi, namun tak sengaja ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terpeleset ke dalam jurang dengan kepala yang masuk ke semak-semak.


Lucunya mengangkat kepala dengan raut wajah polos sekaligus bete, "Aaduhh, sakit! (membenarkan rambut). Nggak lucu banget sih, masak iya serigala nyungsep. Ihh, ngeselin!"


Membaringkan sejenak badannya dan kembali bangkit sembari celingak-celinguk, "Nggak ada yang liat kan?. Malu banget kalo diliat sama serigala lain (membersihkan baju)."


Bergegas Anggin berdiri menahan kaki yang terasa sakit lalu melompat naik keatas jurang dan pergi meninggalkan hutan.


...


Tiba Anggin dirumah, melihat kesal Marsel yang sudah menunggunya diteras.


"Ngapain lo malem-malem disini?" tanya Anggin.


"Lah kenapa, orang gue jogging malem" mengibas-ngibaskan tangan dengan jail mengarahkan ke wajah Anggin.


Kesal Anggin menyingkirkan tangan Marsel, "Eleh, bilang aja lo mau mata-matain gue kan!"


"Idihh, ngapain mata-matain lo. Kayak nggak ada kerjaan lain!"


"Terserah!"


Ucap Anggin berjalan masuk kedalam rumah menahan kaki yang sakit.


"Serigala bisa encok, hha!" ejek Marsel.


"Berisik!"


...