REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Melesat


Dimeja makan dengan seragam sekolah yang sudah rapi, Anggin menyuruh Marsel untuk berangkat duluan. Kaget Marsel tersedak mendengar ucapan Anggin dan segera mengambil minum, mengerutkan bibir bertanya heran kenapa tumben ia tidak mau berangkat naik mobil.


"Biasa aja kali. Gue ada urusan, jadi lo duluan aja" senyum Anggin.


Santai Mami Sindi bertanya pada Anggin apakah Marsel membuatnya susah lagi sampai ia tidak mau berangkat bersama abangnya.


"Bilang sama Mami, nanti biar Mami hukum Abang kamu" lanjutnya.


"Kok aku sih Mi, orang aku aja nggak ngapa-ngapain dia" sahut Marsel mengerutkan kening.


"Nggak Mi, hari ini Abang ku tersayang nggak berulah kok. Ini memang Anggin aja yang mau."


"Tuh Mi" lanjut Marsel sambil makan.


Ia lalu menceritakan pada maminya tentang Anggin yang tiba-tiba bisa berlari dengan begitu cepat saat ia mengajaknya ketaman kemarin. Batin Anggin menyipitkan mata menatap Marsel kalau ia tidak bisa menjaga rahasia, Anggin lalu membuat alasan kalau itu hanya caranya membuat Marsel tertipu.


"Masak iya, dari jarak 200 meter bisa sampek cuman dalam waktu 3 detik. Nggak masuk akal bukan Mi?"


Bingung Mami Sindi bertanya pada Anggin dengan kepo apakah yang dikatakan Marsel itu benar, elak santai Anggin kalau itu hanya bohong memainkan tangan meminta agar maminya tidak percaya. Kembali mulai perdebatan kecil Anggin dan Marsel yang mempertahankan pendapat mereka, teriak lirih Mami Sindi meminta mereka untuk diam.


"Heh, diem udah diem. Orang disuruh makan malah pada berantem kalian berdua ini ya!" nada lucu.


Selesai makan, Marsel mengambil kunci mobil diatas meja. Kembali bertanya pada Anggin apakah ia benar tidak mau ikut dengannya, geleng lirih Anggin yang tetap tidak mau.


Tak lama Anggin menyusul dan juga berpamit mencium pipi maminya, tiba diluar Anggin sedikit menoleh kebelakang melihat maminya. Saat semua aman, Anggin pun langsung melesat pergi. Cemas Mami Sindi pada Anggin kalau ia harus berjalan sampai sekolah, tergesa Mami Sindi keluar menyusulnya dengan niat ingin mengantarkan. Tiba diluar, dengan terkejut Mami Sindi menoleh-noleh mencari Anggin yang sudah tidak terlihat.


"Mana tu anak?, cepet banget ngilangnya (wajah lucu Mami Sindi menelan ludah). Jangan-jangan yang dibilang Abangnya itu bener lagi, tapi gimana bisa. Aduh Gin-Anggin, bikin Mami pusing aja."


Terhenti Anggin mengendus bau hewan segar yang membuatnya terpikat seolah ingin menerkam dengan taring yang keluar dan mata yang menyala, perlahan mendekat dengan tatapan tajam mencoba menangkap hewan itu (kelinci). Belum sempat kelinci itu tertangkap, tiba-tiba kaki Anggin masuk kedalam lubang dan membuatnya jatuh terduduk memegang kaki kesakitan. Toleh Anggin melihat kearah kelinci yang ternyata sudah melarikan diri.


"Lagian lo ngapain sih Gin. Lo kan bisa makan gado-gado, nasi uduk atau ketoprak gitu, ngapain pakek acara mau makan kelinci idup segala (ucap Anggin sambil memainkan tangan). Makin hari makin aneh aja sih lo Gin" lanjutnya bicara pada diri sendiri dengan wajah merengek.


"Aduh, kaki gue (memegang kaki). Eh, tapi nggak sakit kok" tawa gelinya.


Berdiri Anggin sambil membersihkan roknya, mengambil minyak wangi yang ada di tas lalu segera melesat pergi.


"Minyak wangian dulu, biar wangi. Biar cowok pada nemplok semua. Eh nggak deh, cukup bebep Riko aja!"


Tak lama ia tiba sebelum mobil Marsel datang, mengerutkan bibir sedikit mengejek.


"Huh, cepet juga gue sampek nya! (hela ringan nafas diiringi senyum). Eh, ternyata Abang ku tersayang belum dateng. Kayaknya dia bukan naik mobil deh, tapi naik onta kali ya" berjalan masuk dengan semangat.


***