
Masih lanjutan episode sebelumnya ya guys👍.
Cibir Marsel mengikuti ucapan Anggin, lirik Anggin dengan tatapan sinis melanjutkan masakannya.
"Masak apa sih lo, kayak bisa masak aja, sok sibuk deh."
"Udah tau masak nasi goreng, pakek nanya lagi. Udah sana pergi, jangan ganggu gue deh."
Jail Marsel mencolek nasi goreng yang sedang dimasak Anggin dan langsung memakannya, komat-kamit mulutnya merasa kepanasan dan tak sengaja menyemburkan nasi ke wajah Anggin. Jijik Anggin dengan kesalnya berteriak lirih sambil mengelap wajah.
"Iyuhhhh, jorok banget sih (menepuk lirih Marsel)."
"Ya sorry, nggak sengaja. Lagian ngapain lo di depan gue segala."
Melotot Anggin dengan wajah murung, "Lo yang gangguin gue!. Udah sekarang lo pergi deh bang, jangan gangguin gue. Pergi pergi."
"Kalo gue nggak mau, gimana?"
"Gue bakal teriak panggil Mami. Pasti nanti lo bakal dihukum, nggak di kasih uang jajan, terus berangkat sekolah jalan kaki" ancam Anggin.
"Ihh, dasar anak Mami!"
"Bodo amat!"
Kesal Marsel melihat Anggin dengan wajah lucunya, ia pun segera pergi meninggalkan Anggin. Namun, saat akan melangkahkan kaki, ia melihat kecoa yang ada dibawah kakinya. Teriaknya merasa geli dan menabrak lirih Anggin. Karena terkejut, Anggin pun spontan ikut berteriak.
"Aaaaa kecoak, kecoak!"
"Aaaa, mana kecoak!"
Teriak mereka saling memeluk ketakutan, tertegun sejenak dan saling mendorong melepaskan pelukan. Kesal Anggin menuduh abangnya yang sengaja mengerjai dirinya.
"Ihh, siapa yang ngerjain lu. Tadi emang ada kecoa."
"Lu kan laki-laki bang, masak iya sama kecoa aja takut."
"Ya-ya, bukannya takut. Gue cuma geli."
"Terus mana tu kecoanya, ada juga nggak. Heboh banget deh!" gaya Anggin mengibaskan rambut sok berani.
"Mana tadi kecoanya" lirik-lirik Marsel mencari kecoa dengan ekspresi geli.
Saat menoleh ke arah Anggin, Marsel pun dibuat gemetar dan gugup saat melihat kecoa yang sudah berada di kening adiknya. Gugup tak bersuara mencoba memberi tahu Anggin sambil menunjuk ke arah keningnya. Kerut alis Anggin bingung melihat tingkah Marsel.
"I-itu.."
"Apaan sih."
"Syuttt.." isyarat Marsel meminta Anggin untuk tetap tenang dan jangan bergerak.
Tanpa berkata-kata, dengan randomnya, Marsel mengambil panci dengan maksud ingin memukul kecoa yang ada di kening Anggin. Kaget Anggin langsung terjatuh pingsan dan begitu juga dengan Marsel dibuat tertegun dengan panci yang penyok-penyok tak berarah.
"Kok bisa?" polosnya.
Tersadar melihat Anggin pingsan, Marsel pun dengan paniknya mencoba membangunkan Anggin. Tanda hitam dari panci juga melingkar di kening Anggin dan membuat kesan lucu.
"Ehh.. tapi kepala gue kok nggak sakit?. Oh iya, gue kan serigala, gue kan punya kekuatan, terus ngapain gue pingsan?. Tapi yaudah deh, daripada Abang gue curiga. Mending gue pura-pura pingsan aja. Salah sendiri, jail jadi orang." batin Anggin melirik dan tersenyum tipis melihat kepanikan Marsel.
Terus Marsel mencoba membangunkan Anggin sambil menepuk lirih wajahnya, "Duhh.. bangun dong Gin. Lu ngapain pakek acara pingsan sih, gue kan nggak sengaja. Lu pingsan diwaktu yang nggak tepat deh."
Klukk..
Pintu dapur dibuka, yang mana Mami Sindi datang karena teriakan berisik dari Marsel dan Anggin.
"Kalian tu ye, kenapa berisik banget sih."
Kaget Mami Sindi melihat Anggin yang jatuh pingsan dan ikut panik segera menghampiri Anggin.
"Anggin.. duh.. lu kenapa. Ni kenapa juga jidat lu jadi item kayak gini!"
Paham Mami Sindi melirik lucu Marsel melihat panci yang penyok, "Marsel?.. Ini pasti kerjaan lu kan, lu apain lagi adek lu ini. Ini, ini panci kenapa bisa penyok gini.."
Lawak gugup Marsel mencari alasan kalau tadi Anggin ingin adu banteng dengan panci, lucu Mami Sindi meminta Marsel untuk tidak berbohong.
"Ya-ya, maksud Marsel baik kok Mi. Tadi Marsel cuma mau pukul kecoa yang ada di kening Anggin aja. Nih buktinya, kecoanya mati kan."
Keluh receh Mami Sindi, "Baik apanya, kalo adek lu kayak gini. Mane ni panci penyok-penyok, gimana ceritanya.."
...