REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Serigala seutuhnya


Klukk..


Pintu rumah di buka Anggin, dimana Marsel sudah menunggunya di ruang tamu sambil menonton tv. Ia melihat adiknya yang pulang dengan wajah yang begitu datar, Marsel langsung menghampiri dengan heboh bertanya dimana makanannya. Melamun Anggin tak merespon, beberapa kali Marsel memanggilnya namun ia hanya terdiam.


Bingung Marsel menyenggol lengan Anggin, Gelagapan Anggin terkejut. Tawa lirih Marsel mengejek, ia kembali bertanya dimana makanan yang tadi dipesannya. Teringat Anggin kalau makanannya jatuh saat ia dibawa oleh orang misterius, iapun memberi alasan kalau makanannya diberikan pada orang yang kelaparan di jalan.


"Kok dikasih ke orang sih, mana gue laper banget" rengek Marsel.


"Yaudah kali, sekali-kali berbuat baik sama orang kenapa sih. Kalo mau makan masak sendiri, kalo nggak beli sendiri!"


Rengek Marsel memegang perut dengan cacing yang terus berteriak kelaparan, ia pun berjalan menuju dapur untuk mencari makanan di dalam kulkas.


...


4 hari kemudian, Mami Sindi mengajak kedua anaknya untuk diner merayakan ulang tahun Anggin dan Marsel yang ke-18 di sebuah resto. Tak hanya itu, Nio bersama Nesa juga turut hadir di acara diner malam itu. Sapa Nesa memberi ucapan selamat pada sahabat karibnya itu, begitu juga Nio dengan konyolnya mencoba mencium Anggin. Terkejut Anggin langsung menampar wajah Nio, rengek Nio memegang pipinya kesakitan.


"Itu cuma tamparan kecil. Kalo lo macem-macem lagi bisa copot semua gigi lo!"


"Yaampun Dek. Abang Nio tu hanya ingin mengutarakan kebahagian Abang aja."


Bawel Anggin terus mencemooh Nio dengan candaan kekesalannya, Marsel menarik baju Nio dan menyuruhnya duduk sambil mengatakan kalau ia mengundangnya bukan untuk mencari kesempatan. Tatapan tajam dan sinis Anggin dibalas dengan senyum genit Nio, jijik Anggin melotot.


Tawa lirih Mami Sindi melihat tingkah anaknya, ia lalu menyuruh mereka untuk berhenti berdebat dan mulai makan. Bisik Nesa pada Anggin kenapa ia tidak mengundang Riko datang ke acaranya ini.


Dengan senyum manis ia meminta izin pada tante Sindi untuk menginap di rumahnya, sahut Mami Sindi dengan senang hati mengizinkan Nesa.


"Aku juga ya tan!" receh Nio.


Secara bersamaan Anggin dan Marsel berteriak tidak mengizinkan Nio untuk menginap dirumahnya, cemberut bibir Nio dengan lucunya bertanya kenapa ia tidak diperbolehkan sementara Nesa malah sebaliknya.


Cuaca malam itu begitu mendung sampai awan menyelimuti seluruh lingkaran bulan. Gelisah Anggin tak bisa tidur dengan nyenyak, ia pun bangun dari tempat tidur menuju balkon kamarnya untuk mencari angin segar. Sejenak ia menatap Nesa yang tidur begitu pulas, Anggin merasa suasana malam ini begitu berbeda dari biasanya.


Tak berselang lama, awan yang menutup bulan perlahan menghilang dan perlahan sinar bulan mulai terlihat. Dan tepat dihari ulang tahun Anggin ini, gerhana bulan merah muncul.


"Gerhana bulan?"


Saat bulan muncul seutuhnya, tak butuh waktu lama sinar bulan itu langsung mengarah ke tubuh Anggin. Rasa sakit itu coba di tahan Anggin saat gen serigala mulai menguasai dirinya.


"Aaaa, apa terjadi sama gue" rintih Anggin kesakitan.


Saat gen serigala itu sudah sepenuhnya masuk ke tubuh Anggin, sinar purnama itu seketika padam. Dengan tatapan tajam dan mata yang menyala menatap purnama, tanda-tanda serigala itu perlahan keluar dari tubuhnya (bulu dan taring) bersama dengan auman serigala.


Anggin yang belum siap dengan semua itu lantas tak bisa mengontrol emosi, tubuhnya langsung berubah menjadi serigala seutuhnya lalu meloncat dari balkon dan melesat pergi menuju hutan.


Next👇.