REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Rumah siapa ini?


Sore hari dengan pakaian rapi memakai baju Hoodie, Anggin berniat untuk keluar rumah. Tanya Marsel pada adiknya akan pergi kemana ia sambil memakan sebungkus makanan. Sahut Anggin dengan santai mengatakan kalau ia akan pergi jalan-jalan keluar sambil mencari makan plus masa depan.


"Awas lo macem-macem, gue bilangin Mami ntar!" ancam Marsel.


"Dasar tukang ngadu!"


Tanpa banyak berdebat, iapun segera pergi. Tiba-tiba ditengah perjalanan gen serigala Anggin bereaksi, mengendus dan membawanya melesat kesebuah rumah.


"Lah, kenapa gue disini?. Dan ini juga rumah siapa?" bingung Anggin.


Karena penasaran, perlahan Anggin berjalan mendekat kearah pintu. Tak lama pintu terbuka, kaget Anggin melihat Riko dan saudaranya keluar dari rumah itu karena mencium bau manusia disekitar rumahnya.


"Tadinya gue mau aneh kenapa gue bisa melesat sama ngendus. Tapi ternyata, ada untungnya juga ya. Dari kejauhan aja gue bisa nyium bau masa depan gue ini" batin Anggin tersenyum senang.


Tiga saudara itu pun dikejutkan dengan kehadiran Anggin yang tiba-tiba ada dirumahnya, bisik Cio bertanya pada Riko apakah dia yang menyuruh wanita itu untuk datang ke tempat persembunyian mereka selama ini. Sahut Riko mengatakan kalau dia tidak menyuruh Anggin untuk datang, lalu ia menyuruh kedua saudaranya segera masuk dan akan mengurus Anggin. Tatapan tajam Cio pada Anggin dan segera masuk disusul Kana.


"Kamu ngapain disini?"


Gugup Anggin menjawab kalau dia tadi tak sengaja lewat dan baru ngeliat ada rumah ini disini.


"Makannya gue mampir, gue pikir tadi rumah siapa. Eh, ternyata ini rumah kamu?"


Kerut kening Riko kembali bertanya apakah dia berjalan sampai ketempat ini, angguk Anggin mengiyakan.


"Ini jauh dari rumah kamu, kamu seriusan jalan?"


Cemas Anggin mencoba membuat Riko tak curiga, iapun mengatakan kalau terkadang dia jalan-jalan sore lewat tempat ini.


"Tapi, gue nggak pernah lihat ada rumah disini. Ini baru buat ya?"


Angguk Riko. Basa-basi Anggin bertanya pada Riko apakah ia tidak mau mengajaknya masuk ke dalam rumah, cemas Riko menelan ludah dengan berat mencoba membuat Anggin agar tidak masuk ke dalam rumahnya. Iapun mengatakan kalau ia mau keluar karena ada urusan.


"Jadi, kamu mau masuk. Atau ikut aku, biar sekalian aku anterin kamu pulang juga."


"Kamu serius mau jalan?"


"Iyalah. Kalau jalan kaki berdua tu lebih asik, lebih romantis. Jalan kaki aja ya?"


Angguk Riko mengiyakan. Sepanjang jalan Anggin selalu memegang erat tangan Riko, tanya Riko pada Anggin apakah ia tidak mau melepaskan tangannya.


"Nggak mau" polos Anggin.


"Yaudah deh, terserah kamus aja" pasrah Riko.


Ditengah perjalanan, Anggin merasa begitu haus dan mengajak Riko untuk membeli eskrim terlebih dahulu. Anggin lalu menarik tangan Riko dan memesan 2 eskrim untuknya, ucap Riko mengatakan kalau cukup 1 eskrim saja.


"Oh.. aku tahu. Maksud kamu, satu eskrim berdua ya. Ya ampun beb, romantis banget sih kamu" sumringah Anggin.


"Kita duduk disana dulu ya beb" menggenggam tangan Riko.


Ucap Anggin menyuruh Riko untuk mencoba eskrim itu, tolak Riko mengatakan kalau ia tidak haus.


"Udah kamu aja, lagian aku juga nggak haus" lembut Riko menolak.


Manyun Anggin tersenyum tipis terus memakan eskrim itu. Lirik Riko melihat pipi Anggin yang terdapat noda eskrim, perlahan mengarahkan tangannya dengan lembut membersihkan noda eskrim dipipi Anggin. Tertegun saling menatap, wajah senang Anggin tersenyum.


"Hmm, manis manis banget sih" lirihnya.


"Apa?"


"E-enggak. Eskrimnya, manis banget" salah tingkah Anggin dengan jantung berdebar.


***