REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Serangan


Tanpa ragu, Laga berdiri di hadapan Anggin dan membantunya untuk bisa mengontrol emosi. Geram Anggin meminta Laga untuk pergi meninggalkannya, karena jika dia (laga) terus berada di dekatnya itu justru akan membahayakan keselamatannya.


"Nggak, gue nggak akan pergi" tekan Laga.


"Lo jangan keras kepala Laga, sekarang bukan waktunya. Sekarang gue minta lo pergi!, gue nggak butuh bantuan lo."


"Terserah lo mau bilang apa, gue bakal tetep disini."


Stiv bersama Bunda Astra melesat menghampiri Laga dan membawanya pergi dengan paksa.


"Nggak Bunda, Laga nggak bisa tinggalin Anggin sendiri dalam keadaan dia yang seperti ini."


"Ini perintah, sekarang kita pergi" ucap Astra.


Kewalahan Anggin mengendalikan dirinya, emosinya yang sulit di kontrol pun membuatnya melakukan penyerangan pada Bunda Astra. Laga yang melihat Anggin memberontak langsung mengorbankan dirinya untuk meyelamatkan Ratu Serigala. Karena serangan Anggin, Laga pun mendapat beberapa luka cakaran dan gigitan yang parah sampai membuatnya begitu lemas.


"Laga!" teriak Data dan Stiv membantunya.


"Apa yang kamu lakuin Laga!" syok Astra.


Penyerangan itupun membuat Anggin tersadar dan bisa mengendalikan diri, dengan cemasnya ia segera membantu Laga.


"Astaga, apa yang udah gue lakuin. Lo, lo terluka karena serangan gue. Gue udah minta lo untuk pergi, tapi kenapa lo keras kepala dan nggak mau dengerin gue!"


"Hehe, gue nggak papa kali. Ini, cuma sakit sedikit."


Sambung Anggin menyuruh Laga diam dan menutup mulutnya, segera ia membawa Laga ke tempat persembunyian bangsa serigala dengan di bantu Data dan Stiv.


Beberapa saat mereka pun sampai, lemas Laga menahan sakit lukanya. Anggin yang masih minim pengetahuan soal serigala, lantas bertanya pada bundanya bagaimana ia bisa membantu menyembuhkan luka Laga. Sahut Astra mengatakan kalau luka yang di berikan serigala putih tidak akan sembuh dengan mudah, dan untuk menyembuhkan luka itu ia harus memberikan tetes darahnya pada bagian yang sudah ia lukai.


"Lo nggak perlu ngelukai diri lo, nanti juga sembuh sendiri."


"Tapi.."


"Syutt.. udah cukup daritadi lo bicara terus. Lagian, beberapa tetes darah gue juga nggak akan buat gue tiada kali."


Anggin langsung menggores tangannya dan meneteskan darahnya pada bagian tubuh Laga yang sudah ia lukai. Lirih Laga mengucapkan terimakasih.


"Ini udah jadi tugas gue. Justru gue yang harusnya terimakasih sama lo, karena lo udah menyelamatkan Bunda dari serangan gue. Makasih ya."


"Itu juga udah jadi tugas gue, untuk melindungi Ratu serta calon Ratu Serigala."


"Sekarang lo istirahat aja dulu, biar tenaga Lo cepet pulih."


Ucap Anggin meminta maaf pada Bundanya, karena ia tadi belum bisa mengendalikan diri dan emosinya sehingga membuat Laga terluka dan hampir mencelakainya (Astra).


"Bunda tau. Tapi dengan kejadian ini, emosi kamu sudah lebih terkontrol dan kamu juga sudah berhasil mengendalikan diri. Bunda harap, setelah ini kamu tidak terpancing dengan sesuatu hal yang bisa merusak emosi kamu."


Tuk tuk tuk..


Ketukan tangan Mami Sindi mengetuk pintu kamar Anggin dengan dua gelas susu yang ia bawa untuk Anggin dan Nesa.


"Hei sayang-sayangnya Mami. Nih, Mami bawain susu buat kalian supaya bobok kalian lebih nyenyak dan badan kalian juga pastinya sehat."


"Duhh, ada Mami Sindi lagi. Kalo dia liat Anggin nggak ada di kamarnya, pasti ribet nih urusannya. Nanti kalo dia nanyain Anggin, gue harus jawab apa dong. Duh Gin, lo kenapa nggak pulang-pulang sih."


Teriak Mami Sindi terus mengetuk pintu, memanggil-manggil Anggin dan Nesa untuk segera membukakan pintu. Bingung Nesa menggaruk-garuk kepala, ia segera menuju kamar mandi sambil menghidupkan keran dan menutup pintu kamar mandi dari luar. Senyum tipisnya segera membukakan pintu untuk Mami Sindi.


***