
Tiba Anggin di rumah yang diantar mesra oleh Riko. Lembut mereka saling menatap dengan mimik wajah yang saling menatap salah tingkah.
"Kamu kenapa sih, ngeliatin aku gitu banget?. Aku jelek ya, aku nggak cantik ya?" senyum-senyum Anggin.
"Cantik. Cantik banget" membelai lembut rambut Anggin.
"Gombal. Udah sana pulang, udah malem tu."
"Oh, ceritanya aku diusir nih?"
"Ya nggak ngusir, kalau mau tidur disini nggak papa kok. Tapi diluar ya" goda Anggin.
"Jahat banget. Yaudah, aku pulang dulu ya. Abis ini kamu tidur, jangan lupa cuci muka."
Angguk Anggin diiringi langkah kaki Riko yang akan pergi. Lirihnya memanggil Riko sebelum ia pulang, toleh Riko memainkan sedikit alis.
Lembut Anggin menyentuh bibir Riko, "Hati-hati, Sayang."
Toleh Riko dengan senyum bahagia diwajahnya, membalas sentuhan lembut ke bibir Anggin. Setelahnya, lirih Riko mengucapkan selamat malam dengan penuh kasih sayang lalu segera melesat pergi. Sipu malu Anggin dengan senyum bahagia serta tingkah lucunya.
Kembali langkah kakinya terhenti saat didepan pintu, tersenyum-senyum sambil menggenggam kedua tangan.
"Huh, santai Anggin, santai (hela nafas). Tapi kok nggak bisa. Malam ini tu, indah dan berkesan. Yah.. meskipun banyak nangisnya, tapi nggak papa deh."
Spontan Anggin langsung berbalik badan dan berniat masuk ke dalam rumah. Namun, dengan terkejutnya ia menabrak Marsel yang ternyata melihat dan sudah menunggunya di depan pintu.
Terkejut Anggin dengan mulut menganga, tertegun tegap dan memainkan mata.
"Apa, apa!. Udah malem kayak gini kelayapan aja ya lu. Kalo Mami tau, abis di omelin lu. Lagian lu tu kemana malem-malem gini, Anggin.."
"Gu-gu-gue, cuma cari angin. Lagian gue juga nggak kemana-mana, cuma didepan sini aja kali."
"Cari angin, cari angin. Apa masih kurang kipas angin lu dikamar 1 lusin" nada candaan Marsel.
"Dikuncir, lu kira mulut gue rambut" dumel Marsel.
Klukk..
Menutup pintu kamar, kembali Anggin tersenyum dengan suara teriak lirih bahagia. Berbaring di kasur sambil mendekap erat selimut.
Perlahan Anggin menutup matanya, baru beberapa detik, ia kembali dibangunkan dengan suara auman serigala yang menandakan perkumpulan seluruh bangsa serigala. Letihnya membuka mata dengan wajah sedikit bete, menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Sabar Anggin, sabar. Oke, sekarang kita berangkat lagi (senyum terpaksa). Sekarang harus hati-hati, bisa-bisa kalo Abang gue tersayang tau, abis gue dikunyah dia."
...
Tiba Anggin di tempat persembunyian bangsanya, namun ia dibuat terkejut dengan beberapa bangsa serigala yang terbaring lemah dan terluka.
"Ada apa sama kalian, kenapa kalian bisa terluka kayak gini?" cemas Anggin.
"Ulah siapa lagi, kalau bukan bangsa vampir" sahut Laga.
"Benar, dan itupun secara diam-diam. Entah kenapa akhir-akhir ini bangsa vampir semakin liar dan sangat haus akan darah serigala!" sambung Stiv.
Hela nafas Anggin dengan mata menyala bertanya pada salah satu serigala yang terluka apakah benar yang dikatakan Stiv dan Laga. Angguk serigala itu membenarkan ucapan Laga dan Stiv.
"Apa kalian tau siapa vampir itu?" tanya Anggin.
"Kita nggak tau siapa dia, karena indra penciuman kita tidak bisa menembusnya. Dan dia, juga memakai penutup di seluruh tubuhnya" ucap salah satu serigala.
Sambungan ceritanya ada di next episode ya guys👇.
...