
Peperangan masih terus berlanjut, dan kali ini Riko dihadapkan dengan Laga. Senyum Laga penuh kebencian melihat Riko dengan tatapan seolah ingin menerkamnya.
"Riko.. gue sangat beruntung bisa dihadapkan langsung sama lo di peperangan ini. Gue harap, lo bisa menerima kekalahan lo sekarang" tekan Laga dan memulai serangan.
Datar Riko membalas serangan yang diberikan Laga padanya. Penuh hasrat, Laga melancarkan serangan penuh untuk melumpuhkan Riko. Beberapa kali Riko berhasil menghindar dan membalas serangan Laga. Kali ini, kekuatan Riko berhasil melukai lengan Laga.
Emosi Laga memegang lukanya dan menatap tajam ke arah Riko, tanpa berlama-lama iapun langsung menyerang Riko dengan brutalnya. Peperangan sengitpun terjadi, hingga Laga kehabisan kesabaran dan langsung mencakar dan mencengkram leher Riko.
"Malam ini, lo akan habis di tangan gue Riko," tajam Laga.
Laga kemudian mengangkat tangannya untuk memberikan sayatan tajam ke leher Riko. Tara yang melihat Riko dalam bahaya, dengan keadaan terdesak langsung melempar belati tepat kearah jantung Laga.
Tajam Laga melihat belati yang mengarah padanya, terkejut ia melepaskan Riko dan sigapnya langsung menghindar. Sedikit belati itu menyayat lehernya dan membuat Laga merasa kesakitan. Teriak Tara meminta Riko untuk segera menghabisi serigala itu, terdiam Riko dan perlahan memainkan tangannya untuk menyerang Laga.
Stiv yang melihat Laga dalam bahaya langsung melesat dan membawanya menjauh. Saat Riko mencoba mengejar, tiba-tiba terdengar suara auman serigala yang menandakan waktu peperangan telah usai. Saat mendengar suara auman itu, seluruh bangsa serigala dan vampir pun menghentikan peperangan mereka.
Tertegun sejenak Riko kemudian melesat pergi untuk menemui Anggin. Tak berselang lama, Riko pun tiba dan melihat Anggin masih ada di tempat yang sama. Berjalan lirih menghampiri Anggin, tajam Anggin menatap dengan penuh emosi.
"Sekarang apa, lo mau habisi gue?. Habisi gue, gue nggak takut sama kematian!" kesal Anggin.
Langkah demi langkah Riko mendekat pada Anggin, tertegun sejenak lalu mengambil bola kristal dan melepaskan ikatan Anggin. Lembut Riko dengan tatapannya meminta maaf pada Anggin kalau ia sudah menyakitinya.
"Pengecut, lo pengecut Riko! (tekan Anggin sambil berjalan mendekat dan mengarahkan badan Riko ke dinding). Gue tau kalau lo cuman manfaatin situasi dan sahabat gue (Nesa) demi kepentingan lo sendiri. Ini nggak adil Riko, lo tega!" tajam Anggin menatap.
Tertegun Anggin dengan perasaan tak menentu, ia lalu mendorong keras Riko dan sejenak mengalihkan pandangan. Tatapan tajam Anggin dengan nada ancaman, ia mengatakan pada Riko kalau ia tidak akan memaafkannya jika sampai bangsanya mengalami masalah besar terutama Bundanya (Astra).
"Lo udah buat kesalahan besar dengan nyekap gue disini Riko," ucap Anggin segera melesat pergi.
"Akan lebih salah lagi, kalau aku biarin nyawa kamu dalam bahaya, Gin" lirih Riko.
Anggin pun langsung pergi untuk menemui bangsanya. Saat tiba, ia dibuat terdiam melihat sebagian bangsanya terluka dan terduduk lemas.
Toleh Laga menatap datar Anggin, ia segera bangkit dan serunya bertanya pada Anggin kemana ia pergi saat peperangan sedang berlangsung. Anggin tak menjawab, tatapannya yang tertuju pada salah seorang bangsa serigala yang mengalami luka berat. Terduduk Anggin sembari memegang lirih luka saudaranya itu.
"Ini semua, terjadi karena lo Riko," batin Anggin.
Segera ia bangkit dan bertanya pada Laga kemana Bundanya sekarang, sahut Laga menjawab kalau ia juga tidak mengetahui dimana keberadaan ratu serigala.
"Apa bunda juga tidak ada saat peperangan terjadi?"
Datar Laga hanya menggelengkan kepala, ia kembali mengulangi pertanyaannya pada Anggin. Anggin hanya terdiam dengan wajah cemasnya, tanpa berkata-kata lagi Anggin langsung pergi begitu saja.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" bingung Laga.
***