
Pulang sekolah, Marsel dan Nesa menunggu Anggin di tempat parkir begitu lama. Keluh Nesa bertanya pada Marsel kemana sebenarnya Anggin, sahut Marsel dengan wajah lawaknya kalau dia juga tidak tahu karena dari tadi ia bersamanya. Tak lama Kana dan kedua saudaranya terlihat keluar, Nesa yang melihat Kana begitu lemah dan mencoba menghampirinya.
Baru satu langkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Iapun menghentikan langkahnya dan segera mengangkat ponsel, yang mana Anggin menelfonnya. Ucap Anggin mengatakan kalau ia akan pulang telat, ia lalu menyuruhnya dan Marsel untuk pulang terlebih dahulu. Belum sempat menjawab, panggilannya langsung di putuskan.
"Belum juga selesai ngomong, udah di matiin."
Nesa pun bicara pada Marsel kalau Anggin akan pulang terlambat. Saat akan melanjutkan langkahnya, Nesa melihat mobil Kana sudah tidak ada.
"Heh, Nes. Lo mau pulang nggak, kalo nggak gue tinggal ni!" teriak Marsel.
"Iye iye bentar, berisik banget."
Lirih Nesa bertanya pada Marsel kenapa akhir-akhir ini Anggin terlihat aneh, santai Marsel menjawab kalau dari dulu adiknya memang aneh.
Anggin pergi ke dalam hutan untuk mencari Laga dan kedua saudaranya. Kedatangan Anggin itu disambut hangat oleh mereka, tanpa basa-basi lagi Anggin bertanya bagaimana cara dia untuk membebaskan bundanya dan bangsa serigala yang sedang ada di tangan bangsa vampir.
Laga pun memberitahu Anggin kalau ia harus pergi ke istana vampir, dimana ratu serigala dan bangsa serigala di awetkan di tempat itu.
"Tapi tenang, kamu nggak sendirian. Kita akan ikut" ucap Laga.
Laga lalu melanjutkan ucapannya, ia mengatakan kalau tubuh bangsa serigala sekarang sangatlah lemah, karena sudah bertahun-tahun berada ditempat pengawetan. Dan untuk membangunkan dan memberikan mereka sedikit kekuatan mereka harus menggigit bagian tubuh mereka.
"Bukan masalah besar. Sekarang juga kita akan pergi dan selametin mereka semua" kata Anggin.
"Tapi.." henti Laga.
"Tapi apa lagi?"
"Bukan masalah besar, lebih baik sekarang kita segera pergi."
...
Tiba di istana vampir, mereka pun segera melancarkan aksinya. Dengan mengandalkan indra penciuman, akhirnya mereka menemukan ruangan itu. Berjalan mengindip dan memastikan tidak ada bangsa vampir yang melihat
Tercengang sekaligus sedih saat Anggin melihat bangsa serigala dan bundanya terbaring tak berdaya. Tanpa berlama-lama, merekapun segera menggigit para serigala itu untuk memberikan kekuatan. Rencana mereka berhasil, beberapa serigala sudah mulai sadar meski sangat lemah.
Setelah semua bangsa serigala sadar, giliran Anggin memberikan 2 gigitan untuk bundanya. Tak berselang lama ratu serigala terbangun, sayu matanya dengan wajah yang pucat menatap tenang Anggin.
"Ayo buruan!" teriak lirih Laga.
Angguk Anggin segera mengangkat bundanya, secara bersamaan mereka langsung melesat pergi.
Anggin membawa bundanya dan seluruh bangsa serigala di tempat persembunyian mereka yang aman dari jangkauan bangsa vampir. Beberapa saat Laga pergi, akhirnya ia kembali dengan membawa ramuan pemulih kekuatan bangsanya.
Sebelum memberikan ramuan itu, Anggin mengambilnya. Ia mengeluarkan cakarnya dan melukai tangannya, karena ia tahu kalau darahnya akan memulihkan kekuatan bangsanya dengan cepat. Ia segera meneteskan darahnya ke dalam ramuan itu.
"Apa yang lo lakuin!" tekan Laga.
"Lo pasti tau apa yang gue lakuin."
Dengan cepat Laga menutup luka Anggin dengan kain sebelum bangsa vampir mencium bau darahnya.
***