
Waktu terus berjalan, Riko pun melancarkan aksinya untuk bisa membuat Anggin jatuh hati padanya dengan maksud agar bisa merebut kembali belati pusaka. Hari demi hari berlalu dengan momen kebersamaan yang mereka habiskan bersama. Seiring berjalannya waktu, rasa nyaman Anggin pada Riko mulai bertambah. Namun sebaliknya dengan Riko, perasaannya tak menentu dan membuatnya merasa gelisah apakah dia bisa melanjutkan misinya itu.
Keesokan pagi, bersiap-siap Anggin dan Nesa untuk berangkat ke sekolah. Tapi, entah kenapa Anggin merasakan sesuatu hal yang aneh begitu saja. Dimana bayangan masalalu muncul dan mengganggu pikirannya, terduduk Anggin kebingungan sambil memegang kepala.
"Apa ini!" lirih Anggin.
Balik badan Nesa segera menghampiri Anggin dan bertanya sedikit panik apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Lo kenapa sih Gin!. Lo pusing, gue ambilin obat ya?"
Sebelah tangan Anggin langsung memegang erat tangan Nesa, sementara memori kejadian di masa lalu terus mengelilingi kepala Anggin. Sesaat semuanya berhenti, tertegun Anggin dengan keringat dingin dan tarikan nafas uang cepat.
"Lo kenapa sih Gin?"
Gugup Anggin sambil mengelap keringat di kening, menggelengkan kepala mengatakan kalau dia tidak kenapa-napa.
"Lo beneran nggak papa."
"Nggak nggak, gue nggak papa kok. Udah ayo berangkat."
Hela nafas Anggin memegang kalung dan tanda belati di punggungnya, ia pun teringat dengan ucapan Laga sebelumnya kalau dia memanglah calon ratu serigala.
"Yee, malah masih duduk (lirihnya). Ayo buruan berangkat."
"Iya, iya" bergegas Anggin.
Duduk terdiam Anggin didalam mobil dengan memikirkan kejadian tadi, kesalnya berteriak sambil menggeramkan tangan. Marsel dan Nesa di buat terkejut dan menatap kesal Anggin.
"Heh, lo kenapa sih teriak-teriak gitu" ucap Marsel.
Telan ludah Anggin menjawab bingung dengan senyum garing, "Eee.. itu, nyamuk. Iya, nyamuk."
"Nyamuk?" bingung Nesa.
"Mana ada disini nyamuk, halu deh lo" lanjut Marsel.
Berdiri Riko di teras rumahnya sembari menunggu kedua saudaranya, ia mengingat kebersamaannya bersama Anggin dan apa yang harus ia lakukan hari ini saat mereka berhadapan dengan Anggin.
"Nggak Rik, lo jangan sampai jatuh ke dalam perangkap lo sendiri. Sejauh ini tindakan lo udah tepat. Dan sebentar lagi, lo akan sampai pada tujuan lo itu"
Keluar Cio dan Kana, tatapan sinis Cio dengan juteknya bertanya pada Riko apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dingin Riko menjawab kalau dia tidak memikirkan apapun dan mengajak mereka untuk segera berangkat.
"Stop!" teriak Anggin.
Terkejut Marsel langsung menghentikan laju mobilnya, kesalnya pada Anggin apa yang membuatnya meminta untuk berhenti.
"Iya sih Gin, sekolah kan masih jauh" sambung Nesa.
"Lo jangan aneh-aneh deh, lo mau ngapain sih."
Segera Anggin turun dan mengatakan kalau dia ada urusan sebentar, "Udah, buruan kalian berangkat."
"Tapi lo nggak papa kan. Lo berangkat sekolah kan?" lanjut Nesa.
"Iya, nanti gue nyusul."
"Awas lo nggak sekolah. Gue bilangin Mami lo" ancam Marsel.
"Iya iya. Mainnya ngancem."
Saat Marsel dan Nesa pergi, Anggin pun ikut melesat pergi menuju hutan. Yang mana ia berniat menemui Laga dan kedua saudaranya.
Laga yang mencium kedatangan Anggin segera menghampirinya, terkejut Anggin melihat laga yang tiba-tiba ada di depannya.
"Kenapa nyari kita" ucap Laga.
"Gimana bisa lo tau?"
"Karena insting serigala itu tajam."
"Iya, ada sesuatu hal yang perlu gue tanya sama kalian. Tentang kalung, dan masalalu gue."
Anggin lalu menceritakan apa yang terjadi padanya, hal dan banyaknya kejadian yang tiba-tiba timbul begitu saja. Laga lalu menjelaskan kalau yang ia lihat itu adalah memori dari serigala, bangsa serigala mampu melihat kejadian bahkan saat ia baru lahir.
"Bisa gitu ya (polos Anggin). Terus, wanita itu.. (terhenti)."
"Ya, dia bunda kamu. Ratu serigala, bunda Astra. Sekarang mereka semua ada di tangan bangsa vampir, dan tugas kamu sebagai calon Ratu serigala adalah membebaskan mereka semua."
Bingung Anggin bertanya bagaimana ia bisa membebaskan bundanya, sementara dia saja tidak tahu bagaimana harus memulai dan siapa vampir itu.
"Vampir itu adalah keluarga Tara. Terutama Riko dan kedua saudaranya."
Pernyataan itu langsung membuat Anggin terdiam seribu bahasa, ia tak percaya kalau Riko adalah seorang vampir.
"Nggak, nggak mungkin."
"Itu kenyataannya. Bunda dan bangsa serigala lainnya, ada di tangan mereka. Dan satu lagi yang perlu kamu tau, kalau bangsa serigala dan vampir, nggak akan pernah bisa bersatu. Kita berbeda, sangatlah jauh berbeda."
Telan ludah Anggin, ia tak percaya karena banyak sekali hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Dan saat ia mengetahui, justru itu malah membuatnya terluka.
"Kenapa harus sekarang" tertegun Anggin dan segera pergi.
***