
Laga membawa Anggin ke tempat persembunyian mereka yang aman dan jauh dari jangkauan bangsa vampir, ia pun segera menutup luka Anggin dengan daun dan mengeluarkan kekuatannya untuk menyembuhkan luka itu.
"Lo tu mau ngapain sih!. Aneh banget deh."
"Udah diem aja. Luka kamu ini harus segera di sembuhkan, kalau nggak pasti bahaya."
Tawa Anggin tak paham dengan maksud Laga, karena pikirnya itu adalah luka kecil yang tidak akan menimbulkan apapun. Tak berselang lama, Laga membuka daun itu dan membuat Anggin sangat terkejut karena lukanya sudah menghilang dan tak menimbulkan bekas sama sekali.
"Hah, kok nggak ada?. Gimana bisa!. Lo dukun apa gimana sih?"
Laga lalu menawarkan diri untuk mengantarkan Anggin pulang, karena jika ia pulang sendiri itu akan tidak aman untuknya. Tolak Anggin mengatakan kalau ia bisa pulang sendiri, ia takut karena teringat saat Laga dan kedua saudaranya berubah jadi serigala.
"Astaga, mereka kan serigala jadi-jadian!. Duh Anggin, lo terjebak di situasi apa lagi sih ini. Lo bisa selamat dari tu orang misterius, tapi apa lo bakal selamat kali ini. Gue harus buruan kabur, bisa-bisa gue di terkem lagi sama ni spesies" batin Anggin merengek.
Data yang begitu melihat ketegangan di wajah Anggin, mencoba menenangkan sambil memegang pundaknya. Data juga mengatakan kalau ia tak perlu takut, karena mereka adalah saudara dan tak akan menyakitinya.
"Saudara satu negara!. Gue nggak punya saudara modelan kayak gini" ucap Anggin dengan wajah ketakutan.
"Udah deh, lepasin gue ya. Biarin gue pergi, jangan apa-apain gue" lanjutnya.
Tahan Data memegang tangan Anggin, telan ludah Anggin dengan wajah lucunya bertanya lirih apa yang sebenarnya ia inginkan darinya. Data mencoba memberitahu yang sebenarnya, Laga memberi isyarat sambil menggelengkan kepala untuk Data tak memberi tahu dulu sebelum saatnya. Namun data menolak, sambil menganggukkan kepala menjawab Laga seolah mengatakan kalau ini akan baik-baik saja.
"Ini saatnya kamu tau kenyataan yang sebenarnya. Kalau sebenarnya, kamu bukanlah manusia biasa."
"Bukan manusia biasa?. Apaan sih lo, nggak jelas banget."
"Kamu bukan manusia, tapi kamu serigala!" teriak Data.
Terkejut Anggin dan seketika menghentikan langkahnya, menoleh dengan tatapan bingung. Tawanya meledek kalau ia tidak paham dengan ucapannya, Anggin pun melemparkan ucapan Data dengan mengatakan kalau manusia serigala itu adalah mereka sendiri (Laga, Data dan Kana).
"Jangan macem-macem sama gue. Kalian, tetep disitu" ucap Anggin sambil menunjuk ketakutan dan segera melesat pergi dari tempat itu.
Terhenti Anggin di kursi taman, dengan wajah cemasnya ia teringat perkataan Data. Anggin merasa bingung mengapa mereka (laga, data dan stiv) membicarakan soal saudara dan serigala.
"Nggak nggak, gue bukan serigala. Gue manusia, mereka pasti bohong. Gue bahkan nggak kenal siapa mereka."
Pulang Cio dengan luka yang masih membekas dan menyakitinya. Tara dan Kana yang mencium luka Cio segera menghampirinya.
"Bunda?" lirih Cio.
Endus Tara pada luka Cio, "Belati!. Apa dia menyerang gadis serigala itu?" tanya Tara pada Riko.
Tertegun sejenak, Riko mengangguk dan mengiyakan. Kaget Cio dan Kana yang mengetahui kalau bundanya sudah tau mengenai gadis serigala itu.
"Bunda, bunda sudah tau tentang gadis serigala itu?"
Dimana saat Riko mengetahui kalau Anggin adalah gadis serigala, iapun langsung memberi tahu bundanya karena merasa bingung dengan apa yang harus di lakukan selanjutnya. Flashback beberapa hari yang lalu saat Riko ingin mengambil paksa belati itu diam-diam, tubuhnya langsung tersayat. Karena hal itulah, Tara menyarankan agar Riko dapat membuat gadis serigala itu senyaman mungkin di dekatnya, dan itu akan memudahkan Riko mengambil belati.
"Tapi kenapa bunda nggak kasih tau aku dan Cio?" kata Kana.
"Karena untuk melakukan hal ini, perlu kehati-hatian. Dan kita nggak bisa melakukan ini bersama-sama. Maka dari itu, Bunda pilih Riko melaksanakan tugas ini."
Tara melakukan ini bukan karena ia begitu membanggakan Riko. Tapi Rikolah yang dapat menyeimbangkan diri, karena ia tau kalau Cio sangat emosional dengan suatu hal yang berhubungan dengan darah, dan sebaliknya dengan Kana yang begitu lembut
***