
Pagi hari, Nesa yang masih tertidur mendapatkan gangguan aneh yang mengusik wajahnya. Risihnya menyingkirkan gangguan itu namun kembali mengganggu, sipit matanya dengan kesal membuka mata dan melihat seekor kelinci sudah ada di depan wajahnya. Kagetnya berteriak dan membuang kelinci itu, Anggin yang mendengar teriakan Nesa bergegas bangun dan mengambil kelincinya dari tangan Nesa.
"Ehh.. mau lo apain kelinci gue!" ucap Anggin mengusap lembut kelinci.
"Itu kelinci lo?. Wah, parah banget lo Gin bawa kelinci ke dalem kamar. Lo tau nggak, kelinci lo itu udah nginjek-nginjek muka gue!" mengusap wajah dengan bete.
"Bagus dong. Itu artinya, kelinci ini bisa jadi alarm buat lo yang susah kalo di suruh bangun. Udah sana, buruan lo mandi!"
"Lo duluan aja mandi."
"Gue mau cari kurungan dulu buat kelinci ini, kalo di biarin bisa buat rusuh satu rumah. Udah sana lo mandi."
"Iya iya, bawel banget sih!" lemas Nesa berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa saat, Nesa keluar dari kamar mandi dengan pakaian sekolah yang sudah rapi. Berjalan menuju meja rias dan bertanya pada Anggin dari mana ia mendapatkan kelinci itu..
"Perasaan, semalam belum ada tu kelinci. Dan lo juga, gue liat nggak pernah pelihara kelinci?"
Kerut alis Anggin menjawab kalau ia mendapat kelinci itu dari balkon kamarnya, dan ia segera berjalan menuju kamar mandi. Bingung Nesa berfikir dan bertanya-tanya bagaiman kelinci bisa naik ke atas balkon.
"Lo kelinci, apa monyet?" lirih Nesa dengan bodohnya bertanya pada kelinci itu.
...
Lirih Riko melepaskan pegangan Seli, "Lo mau apa sih Sel, lo mau tau apa soal Anggin!" tekannya.
"Gue cuma mau tanya. Apa bener, lo punya hubungan spesial sama gadis serigala putih itu?"
Tertegun sejenak, "Hubungan apa maksud lo?"
"Jangan pura-pura bodoh, Riko. Karena nggak mungkin, gadis serigala itu mau melepaskan belati pusaka gitu aja. Apalagi, dia kasih ke musuhnya sendiri!"
"Nggak ada, yang nggak mungkin. Dan gue, nggak punya hubungan spesial apapun sama Anggin. Gue deket sama dia selama ini, semata-mata cuma untuk mengambil belati pusaka. Sekarang lo puas!" tekan Riko menatap tajam Seli.
Saat berbalik badan dan beranjak pergi, Riko melihat Anggin yang sudah ada di belakangnya dan tanpa disadari mendengar semua perbincangannya dengan Seli. Tertegun sejenak mereka saling menatap, gugup Riko mencoba menjelaskan pada Anggin. Tanpa mau mendengar lagi, Anggin langsung melesat pergi meninggalkannya. Toleh Riko sejenak menatap datar Seli dan melesat pergi untuk menyusul Anggin.
"Dari wajah cemas kamu ini, kamu udah buktiin kalo kamu memang sedang bermain hati dengan gadis serigala itu, Riko" tajam Seli menatap.
Riko langsung menghentikan Anggin dan memegang tangannya, ia meminta maaf karena tak bermaksud bicara seperti itu.
"Tapi gue, udah tau maksud lo Rik (melepaskan pegangan Riko). Gue udah tau masalalu lo sama Seli, dan lo bicara kayak gitu karena lo mau perbaiki hubungan lo sama dia kan?. Silahkan, karena keadaan dan kenyataan sekarang memang udah memaksa kita untuk mundur. Sekarang, kita jalani hidup kita masing-masing sebagaimana mestinya!" jelas Anggin.
Pergi Anggin meninggalkan Riko dan menghentikan langkahnya, "Udah cukup, gue udah cukup buat kesalahan dengan menaruh hati sama orang yang salah. Sekarang nggak lagi, gue akan perbaiki semua kesalahan itu!" tekannya sambil menghapus air mata yang menetes dengan wajah menahan emosi.
***