REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Tiba-tiba


1 jam berlalu, yang mana para siswa/i masih sangat fokus dengan pelajaran mereka. Begitu juga dengan Anggin, duduk rapi sembari menulis pelajaran yang sedang di sampaikan gurunya.


Tak berselang lama, tertegun kaku Anggin merasakan hal aneh dalam dirinya. Lirihnya menaruh pena sambil memegang lembut pundaknya. Meringis kesakitan ia seolah ada sesuatu yang menusuk tubuhnya.


Tenang Anggin mencoba menahan, namun karena rasa sakit yang teramat, iapun hampir kehilangan kendali. Memukul meja dengan tiba-tiba diiringi suara jerit kesakitan dan taring yang keluar serta mata menyala, seperti gen serigalanya aktif dengan tiba-tiba.


Terkejut guru serta teman sekelasnya serempak menoleh ke arah Anggin, heboh Pak Rama yang kaget meminta Anggin untuk tidak berisik.


"Kamu ngapain sih Gin, bikin bapak kaget aja!"


Lirih Anggin merunduk menahan rasa sakit dan menyembunyikan taringnya sambil meminta maaf dengan mencari alasan kalau tadi ada nyamuk yang menggigitnya. Bergegas Anggin meminta izin untuk ke kamar mandi dengan jalan terus merunduk. Laga yang merasa kalau Anggin sedang tidak baik-baik saja pun mencoba menyusulnya.


"Permisi ke kamar mandi Pak" lanjut Laga.


Begitu juga dengan Riko yang paham dengan gerak-gerik Anggin pun mencoba menemuinya dengan beralasan ingin pergi ke toilet. Kerut alis Pak Rama dengan wajah lucunya ikut bingung kenapa siswa/i nya ingin pergi ke toilet secara bersamaan.


Batin Nesa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Anggin, cemasnya saat melihat tingkah sahabatnya.


"Kenapa lagi sih Anggin, atau jangan-jangan dia mau berubah jadi serigala lagi?"


Saat Nesa akan bangkit dari tempat duduknya, tiba-tipa Pak Rama langsung menegurnya. Terdiam Nesa dengan senyum garing dan lirihnya mengatakan kalau ia sakit perut dan ingin pergi ke toilet. Kerut bibir Pak Rama dengan nada humornya meminta Nesa untuk tidak beralasan dan kembali ke tempat duduknya.


"Ihh Bapak, nggak bisa di ajak kompromi deh" lirih Nesa dengan wajah betenya kembali duduk.


Anggin pun langsung masuk ke sebuah ruangan kosong, lelahnya menahan tubuhnya yang terus memberontak. Spontan ia mencakar benda serta dinding ruangan dan langsung menutup erat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara berisik.


Segera Laga mencoba membantu Anggin, namun saat ia akan masuk, pintu ruangan justru terkunci dari dalam. Henti Riko di belakang Laga menanyakan soal Anggin, mendengar suara Riko Laga langsung berbalik badan dengan tatapan dinginnya.


"Kenapa lo disini?, lebih baik lo pergi. Soal Anggin, itu tanggung jawab gue."


"Gue nggak akan pergi, gue nggak akan tinggalin dia" datar Riko.


"Tapi dia, nggak butuh lo."


"Mau dia butuh gue atau nggak, gue nggak akan pergi dari sini sebelum gue tau kalau dia baik-baik aja!"


"Keras kepala!" gerak Laga mencoba memainkan kekuatannya.


Tiba-tiba, dengan tengilnya Marsel datang mengejek Riko dan Laga.


"Wadu wadu wadu.. kalian ngapain disini?. Ini ruangan kosong, kalian mau nyari serangga?. Ini jam pelajaran, bukannya belajar malah jalan-jalan kalian yah."


Terkejut Anggin saat mendengar suara Abangnya (Marsel), ia pun terus menutup mulut agar suaranya tidak terdengar. Namun karena rasa sakit yang Anggin rasakan, tak sengaja ia menjatuhkan beberapa barang dan suara auman serigala keluar dengan sendirinya dari mulutnya. Tertegun Riko dan Laga saat mendengar auman serigala itu, begitu juga dengan Marsel yang langsung meloncat memeluk Laga.


"Sri-srigila!" teriak heboh Marsel.


***