
Tersadar Anggin sedikit terkejut dan teringat kejadiannya yang tadi, ia melihat tangannya dan bergegas bangun menuju meja rias menatap kaca sambil meringis. Memastikan apakah ia benar mempunyai taring dan apakah kejadian tadi adalah mimpi atau benar-benar nyata, terduduk ia dikursi sambil mengingat.
"Kalau bener, gimana bisa gue punya taring, cakar sama bulu. Sebenernya ada apa sih sama gue, kenapa gue jadi aneh gini (mengusap wajah). Ah elah pusing gue, mending cuci muka dulu deh" bete Anggin.
Berjalan Marsel dengan secangkir air yang ia bawa untuk maminya, mendengar suara air dari kamar Anggin dan menempelkan perlahan telinganya.
"Ada suara air, tapi Anggin lagi nggak ada. Terus siapa dong?" mengindip Marsel masuk dengan badan gemetar mencoba membuka toilet.
Saat Marsel akan membuka pintu toilet, pintu itu langsung terbuka dari dalam. Kaget Marsel berteriak, begitu juga Anggin yang terkejut melihat Marsel yang tiba-tiba ada didepan pintu kamar mandi. Spontan Marsel menyiramkan secangkir air yang ada ditangannya ke wajah Anggin, lucu Anggin mengelap wajah dan membuka mata menatap datar Marsel. Hela nafas memberi senyum kesalnya, bicara sambil menggigit gigi.
Menganga Mami Sindi yang mendengar teriakan Marsel, bergegas menghampiri Marsel karena mengira terjadi apa-apa dengannya.
"Hah, kenapa lagi tu Ama anak Mami yang paling ganteng" cemas Mami Sindi.
"Abang!" menggeram Anggin menatap sinis.
"Iya.." senyum garing Marsel.
"Abang?"
"Iya dek.."
"Kanapa lo siram muka gue!. Lo kira muka gue tanaman apa, pakek acara disiram-siram segala!"
"Ya-ya-ya sorry, gue refleks. Lagian, lo kok udah disini aja sih. Lo tadi kemana?, gue sama Mami nyari lo."
Bingung Anggin menjawab gugup, mengatakan kalau ia tidak kemana-mana dan hanya dikamar mandi. Senang Mami Sindi melihat Anggin dengan heboh memegang sekujur tubuhnya.
"Kamu tadi kemana sayang, Mami sama Abang tadi nyari kamu kemana-mana nggak ada!"
"Kamu kenapa?. Mami nanya ama lu, lu tadi kemana" lanjut Mami Sindi.
"Anggin, e-enggak kemana-mana mi. Tadi Anggin cuma ke kamar mandi aja" gugupnya membuat sedikit kebohongan agar maminya tidak cemas.
"Masak sih?, terus kenapa you tadi teriak-teriak gitu?"
"Emm, perut Anggin tadi sakit mau pup. Makannya Anggin teriak-teriak mi"
"Kamu ini, bikin Mami khawatir aja. Mami kira, you tadi di hap ama serigala"
"Hhehehe, yakali mi serigala mau makan anak Mami yang cantik ini. Bisa-bisa tu serigala klepek-klepek ngeliat kecantikan anak Mami ini" bicara Anggin dengan heboh.
Menganga Marsel mengeluarkan lidah seolah tak setuju dengan ucapan Anggin, tatapan sinis Anggin.
"Heh, kenapa lo ngeliat gue kayak gitu!. Lo ngejek gue" menyenggol lirih badan Marsel.
"Bukan ngejek, tapi itu realita. Lagian, orang udah cemas nyariin. Eh, dianya malah dikamar mandi. Mending gue tidur aja daritadi, awas lo ya bikin orang panik lagi" ucap Marsel menaikan alis dan memainkan mata.
Balas shena dengan wajah nyolot, "Nggak ikhlas banget" bisiknya.
Pamit Mami Sindi mengelus lembut pundak Anggin, menyuruhnya untuk segera tidur. Angguk Anggin mengiyakan lalu berbaring diatas kasur menatap langit-langit.
"Tuh kan, artinya tadi itu bukan mimpi. Kalau memang bener, terus siapa yang bawa gue pulang. Atau mungkin 3 laki-laki tadi, tapi siapa sebenernya mereka?. Dan kalaupun iya, gimana cara mereka masuk kesini?. Ihh!, kenapa jadi ribet banget sih hidup gue."
Kembali Anggin menatap jemari tangan dan memegang gigi yang seolah parno membayangkan cakar dan taring.